http://www.gatra.com/artikel.php?id=132689


Relokasi Pemukiman Liar
Normalisasi Ciliwung Bakal Gagal?


Jakarta, 6 Desember 2009 10:48
Rencana pemerintah untuk melaksanakan normalisasi Sungai Ciliwung masih 
terbentur relokasi permukiman liar yang berada di sepanjang bantaran sungai.

"Permukiman harus pindah dulu baru kami dapat bekerja," kata Dirjen Sumber Daya 
Air Departemen Pekerjaan Umum (PU), Iwan Nusyirwan Diar di Jakarta, Sabtu 
(5/12), usai mendampingi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono 
berperahu karet di sepanjang sungai Ciliwung.

Agung didampingi Menteri Sosial, pejabat eselon I Departemen Pekerjaan Umum, 
Kementerian Negara Perumahan Rakyat, serta Gubernur DKI Jakarta menyusuri 
sungai Ciliwung mulai dari Jembatan Kampung Melayu berakhir di Pintu Air 
Manggarai.

Lebih jauh Iwan mengatakan, normalisasi sungai Ciliwung sudah dianggarkan di 
Departemen PU setiap tahun akan tetapi terbentur dengan permukiman penduduk di 
bantaran sungai.

"Pemerintah memang sudah menyediakan rumah susun sederhana sewa (rusunawa), 
tetapi yang menjadi persoalan apakah masyarakat di bantaran sungai bersedia 
untuk pindah," kata Iwan mempertanyakan.

Sementara Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, Budi Yuwono, pemerintah 
sudah membangun 20 rusunawa di empat lokasi di Jakarta tetapi belum dihuni 
karena masih menunggu proses serah terima dengan Pemerintah Provinsi DKI 
Jakarta.

Menurutnya, dari sebanyak 20 rusunawa yang dibangun pemerintah terdiri dari 
1.900 unit hunian itu diharapkan dapat menampung relokasi seluruh masyarakat di 
sepanjang bantaran sungai Ciliwung.

Namun kalau melihat kondisi di lapangan, kata Budi, diperkirakan jumlah 
penduduk yang tinggal di bantaran sungai mencapai 71.000 Kepala Keluarga yang 
terdiri dari 350.000 jiwa.

Ketika ditanyakan hasil pemantauan di lapangan dengan Agung, Budi dengan tegas 
mengatakan, "serem sekali", saat menggambarkan kondisi permukiman kumuh di 
bantaran Sungai Ciliwung.

Budi mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mengambil sikap tegas 
dan konsisten untuk menata kawasan bantaran sungai yang jelas pemerintah pusat 
sudah menyiapkan hunian pengganti.

Sementara, Sekretaris Kementerian Negara Perumahan Rakyat, Iskandar Saleh, 
mengatakan bahwa Kementerian Pemerintah Rakyat memiliki anggaran dalam rangka 
pemberdayaan masyarakat hanya saja masih menunggu penataan kawasan bantaran.

Menurutnya, kebijakan Kementerian Pemerintah Rakyat hanya mengisi lingkungan 
yang sudah disiapkan sehingga program yang sudah dipersiapkan masih menunggu 
penataan yang dibuat seperti apa.

Iskandar mengatakan, Bank Dunia menawarkan program pemberdayaan masyarakat 
permukiman kumuh hanya saja ada persyaratan seperti cara-cara merelokasi yang 
baik. [EL, Ant] 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke