Hentikan Provokasi Itu
Bambang Soesatyo
Anggota Pansus Hak Angket
DPR Kasus Bank Century
TAK satu pun rekan Bernard Madoff di Amerika Serikat (AS) sana yang
teriak-teriak mengatakan kalau Madoff di obok-obok, pasar uang AS akan
ditinggalkan investornya. Kalau saja ada rekan Madoff yang coba berkata seperti
itu, pasti jadi bahan tertawaan khalayak. Bukan hanya dianggap bodoh, tapi juga
idiot sehingga untuk sekadar berbohong pun tak bisa.
Begitu juga ketika otoritas moneter AS melikuidasi puluhan bank. Tak satu pun
warga AS, termasuk para ekonomnya, yang cemas perbankan negara adi daya itu
akan kehilangan kepercayaan dari para pemilik uang atau deposan.
Seperti khalayak AS, kita di sini pun paham bahwa setiap masalah atau potensi
masalah, harus dieliminasi. Maka, demi ketertiban umum dan kelancaran
penyelenggaraan tata kehidupan bernegara, kita tidak boleh 'memelihara'
masalah.
Termasuk orang pintar sekali pun, jika dia menghadirkan petaka, tentu tak
pantas diberi tempat terhormat. Sejarah membuktikan, tak sedikit orang pintar
yang tidak bernilai tambah atau tak berguna untuk komunitasnya sendiri.
Alih-alih jadi trouble shooter, tak jarang orang-orang pintar seperti itu
justru menjadi pembuat masalah. Apa jadinya kalau orang pintar itu amoral.
Seseorang jadi amoral jika dia tak pernah mengolah nuraninya agar mampu
membedakan apa yang benar dan yang salah. Orang pintar amoral tak sungkan
mengajukan pertanyaan begini; apa itu kebenaran? Jangan bingung karena nurani
mereka hanya fokus pada pemburuan rente.
Merekalah yang belakangan ini menakut-nakuti kita dengan mengatakan investor
asing merasa tidak nyaman dan tidak aman jika kebijakan bailout Bank Century
digugat. Banyak orang tahu bahwa mereka ingin meneriakan pembelaan bagi dua
pejabat tinggi negara yang membidani kebijakan itu. Tapi mereka pengecut,
sehingga harus bersembunyi sambil menyuarakan aspirasi mereka dengan
mengatasnamakan kepentingan investor asing di Indonesia. Berkaca mata kuda,
mereka mendewakan pemodal asing di pasar uang dan bursa saham. Benak kita
mereka jejali dengan asumsi bahwa jika orang-orang asing itu pergi, ekonomi
Indonesia menjemput kiamat.
Ada ekonom dan sejumlah praktisi bisnis mengatakan baru-baru ini bahwa investor
asing mempertanyakan keamanan penyimpanan dana di Indonesia. Para pemodal asing
digambarkan mulai meragukan keberanian otoritas moneter dan otoritas fiskal
Indonesia menyelamatkan sektor keuangan, manakala terjadi krisis perbankan.
Sayang, mereka tidak mengidentifikasi dengan jelas investor asing yang mana.
Para fund manager yang mengelola modal asing jangka pendek (hot money) untuk
sekadar memburu rente di pasar uang dan bursa saham kita, atau modal asing yang
berinvestasi langsung (foreign direct investment)?
Kalau yang dimaksud hanya investor asing yang menyimpan dana di perbankan kita,
yakinlah mereka tidak akan pernah jera selama otoritas fiskal dan moneter
menjanjikan mereka bunga yang tinggi. Lagi pula mereka selalu bermain pendek,
tak pernah mau berlama-lama. Itu sebabnya dana mereka disebut hot money
Kalau benar pertanyaan investor asing seperti tersebut di atas, jawabannya
sederhana. Pertama, kalau nggak berani ambil keputusan di saat genting, jangan
mau jadi ketua otoritas fiskal dan Moneter. Kedua, yakinlah bahwa masih banyak
orang pintar Indonesia yang negarawan sejati, yang bermoral atau kredibel, yang
siap menjadi pejabat otoritas moneter dan fiskal, dan yang berani membuat
keputusan benar di saat genting.
Benar, kita harus berupaya mendatangkan sebanyak-banyaknya investor asing.
Kepada mereka, kita wajib santun dan melayani bak raja, agar mereka merasa aman
dan nyaman.Ternyata, aman dan nyaman saja tak cukup. Masih ada permintaan lain
yang belum mampu kita penuhi. Misalnya, keseragaman peraturan pemerintah di
pusat dan daerah. Akibatnya, upaya menghadirkan modal asing untuk investasi
langsung bahkan mendekati gagal. Baru Pekan lalu pemerintah memperbaiki iklim
investasi dengan janji mempersingkat proses perizinan, menjadi hanya 17 hari.
Mudah-mudahan janji itu terpenuhi, sebab dari dulu kita dikenal hanya pintar
membuat janji atau konsep.
Untunglah, dengan iming-iming bunya tinggi, otoritas moneter dan fiskal bisa
menghadirkan investor asing pembawa hot money ke pasar uang kita. Apa
keuntungan kita? Selain citra bahwa kita dipercaya fund manager asing, ada
penambahan likuiditas valas di pasar uang dalam negeri. Apakah tambahan valas
itu bisa dimanfaatkan sektor riil? Wallahuallam.
Nyatanya, pertumbuhan kredit valas (untuk impor barang modal atau bahan baku),
pernah minus baru-baru ini. Kesimpulannya, otoritas moneter dan fiskal kita
tidak taktis. Alih-alih memberi nilai tambah, hot money yang masuk justru tak
jarang menghadirkan masalah, terutama ketika mereka serentak keluar dari pasar
kita.
Kesimpulannya, kebijakan otoritas moneter dan fiskal yang tidak taktis--sekadar
iming-iming bunga tinggi-- selama ini hanya menguntungkan pemodal asing, dan
nyaris tak menyajikan manfaat apapun bagi rakyat kebanyakan. Jangan salahkan
investor asing. Paling patut dipersalahkan adalah pembuat kebijakan yang tidak
taktis, dan mereka yang selama ini berbohong dengan mengatakan investor asing
di pasar uang dan bursa saham adalah dewa penyelamat ekonomi kita.
Kinerja ekonomi negara tak hanya tercermin dari kuat-lemah nilai tukar rupiah
atau turun-naiknya indeks saham. Kalau jumlah penganggur menggunung, itu
pertanda ketahanan ekonomi kita buruk. Kalau bahan pangan pun bergantung pada
impor, jangan pernah berani memuji diri sendiri.
Maka, mari kita tuntaskan pengungkapan skandal bailout Bank Century. Adakah
dampaknya terhadap dinamika perekonomian dalam negeri? Pasti ada, tapi tidak
seperti yang dideskripsikan akhir-akhir ini-- bahwa asing mulai takut. Tak
hanya tidak proporsional, tapi deskripsi itu tak lebih dari kebohongan yang
provokatif. Karena itu, jangan mau ditakut-takuti atau diprovokasi.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
[Non-text portions of this message have been removed]