http://regional.kompas.com/read/xml/2009/12/27/10082271/setelah.sepuluh.tahun.berlalu...
Setelah Sepuluh Tahun Berlalu... KOMPAS/DAHONO FITRIANTO Reka ulang suasana eksodus para pengungsi dari Timor Timur menuju wilayah NKRI pascakemerdekaan Timor Timur pada 1999 menjadi bagian dari pengambilan gambar film Tanah Air Beta di Desa Ponu, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, hari Selasa (8/12). Minggu, 27 Desember 2009 | 10:08 WIB DAHONO FITRIANTO KOMPAS.com - Sepuluh tahun sudah lewat sejak Timor Timur berpisah dari Indonesia. Selama itu pula, ribuan pengungsi dari bekas provinsi termuda di NKRI tersebut tinggal menetap di provinsi tetangga, yakni Nusa Tenggara Timur. Status mereka memang sudah bukan pengungsi. Seperti diungkapkan oleh mantan Wakil Bupati Belu Gregorius Maubili, saat ini tidak ada lagi yang namanya pengungsi eks Timor Timur. Yang ada adalah warga baru Kabupaten Belu, kabupaten yang berbatasan langsung dengan wilayah Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). "Data terakhir warga baru Belu eks pengungsi Timtim ada 18.400 KK, atau sekitar 55.000 jiwa," ungkap Gregorius kepada Kompas. Secara legal mereka memang sudah bukan lagi pengungsi. Mereka memiliki kartu tanda penduduk resmi, bukti pengakuan sah sebagai warga negara Indonesia. Namun, mereka tetaplah pengungsi, dalam arti orang- orang yang terpaksa tercerabut dari kampung halaman dan akar kehidupan sebelumnya demi untuk menyelamatkan nyawa. Sepuluh tahun silam, mereka terpaksa meninggalkan rumah, tanah leluhur, segala harta benda, dan tak jarang bahkan keluarga terdekatnya, setelah terjadi chaos pascajajak pendapat tahun 1999. Hingga kini, tidak sedikit di antara mereka yang terpisah dari keluarga besar dan tak tahu kapan bisa berkumpul lagi. Suasana Natal, yang biasanya menjadi momen untuk berkumpul dalam kegembiraan bersama seluruh keluarga, kembali dijalani dengan sepi oleh para pengungsi, yang mayoritas beragama Katolik, ini. Joseph Porques (35), salah satu pengungsi di kompleks penampungan pengungsi SP-1 di Desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, terpisah dengan kedua orangtuanya sejak ia mengungsi dari Dili, Timtim, September 1999. "Sampai sekarang, orangtua saya dan orangtua istri masih tinggal di Dili," tutur Joseph, yang mengungsi karena sebagai anggota milisi pro-integrasi, waktu itu nyawanya terancam. Sejak saat itu, baru empat kali ia bertemu dengan orangtuanya, yang datang berkunjung ke NTT. Tidak jarang orangtuanya harus menempuh perjalanan melalui jalan-jalan tikus di perbatasan untuk menghindari pemeriksaan imigrasi yang memakan biaya. Joseph sendiri belum pernah sekalipun gantian menengok orangtuanya karena biaya perjalanan dan ongkos keimigrasian mahal. "Untuk bikin paspor saja Rp 500.000, masih ditambah visa Rp 300.000 per orang. Sementara hidup di sini masih susah," ujarnya di Ponu, NTT, Senin (7/12). Artikel Terkait: a.. Mulai dari Nol b.. Kisah Mereka yang Terpisah [Non-text portions of this message have been removed]

