Rubrik khusus Pres. SBY – Bank Century di website







Heboh mengenai skandal raksasa Bank Century masih terus berlangsung di
seluruh negeri, dan bahkan makin melebar kemana-mana, dan diduga bahwa
akhirnya akan menjadi masalah yang dampaknya akan luas sekali di bidang
politik, sosial dan ekonomi. Sekarang makin kelihatan bagi banyak orang
bahwa kasus Bank Century betul-betul menjadi pendorong atau pemacu
terjadinya pergolakan-pergolakan dalam masyarakat dalam berbagai bentuk.



Pergolakan-pergolakan dalam masyarakat, yang antara lain berupa aksi-aksi
terus-menerus oleh kalangan muda bangsa (terutama kalangan mahasiswa) di
berbagai kota dan daerah, dan perdebatan yang ramai (dalam rapat-rapat,
media pers dan televisi) mengenai berbagai soal yang berkaitan dengan
skandal Bank Century, merupakan hal yang baik sekali bagi kehidupan bangsa.
Oleh karena, perkembangan situasi yang demikian ini merupakan sumbangan
besar sekali kepada persiapan-persiapan bagi terjadinya perubahan-perubahan
besar di negeri ini.



Skandal Bank Century pada intinya (atau pada dasarnya) adalah manifestasi
terpusat dari gabungan kerusakan moral pejabat-pejabat negara  dan kebejatan
akhlak segala jenis koruptor yang bersekongkol untuk melakukan kejahatan
mencuri uang rakyat, dan juga manifestasi dari sistem politik dan ekonomi
yang reaksioner, yang anti-rakyat, yang pro-neoliberal, yang pada umumnya
adalah warisan Orde Baru dan bertentangan dengan ajaran-ajaran revolusioner
Bung Karno.



Mengingat pentingnya pembongkaran  skandal raksasa Bank Century sebagai
salah satu di antara banyak jalan untuk mengadakan perubahan-perubahan besar
di negeri kita, maka website http://umarsaid.free.fr/  akan berusaha
terus-menerus  menyediakan ruangan yang sebanyak-banyaknya guna selalu
menyajikan  berbagai informasi tentang heboh Bank Century.



Mengingat makin santernya desas-desus bahwa Presiden SBY diduga terlibat
atau ikut bertanggungjawab tentang kasus Bank Century maka telah dibuka
rubrik tersendiri yang berjudul «  Presiden SBY dan kasus Bank Century ».
Dalam rubrik ini diusahakan disajikan berbagai berita/tulisan yang berkaitan
dengan masalah Presiden SBY dan Bank Century.



Dan dengan munculnya kasus penerbitan buku oleh George Aditjondro «
Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Century’ » maka heboh yang lain
sedang mencuat lagi dalam pers dan televisi. Supaya para pembaca bisa
mengikuti sekedarnya persoalan yang dihebohkan ini maka dalam website juga
disediakan rubrik tersendiri yang berjudul « George Aditjondro versus
Presiden SBY ».



Silakan simak selanjutnya sesering mungkin berita-berita  tentang skandal
Bank Century di berbagai rubrik dalam website.



.



Paris, 27 Desember 2009



A. Umar Said



================





(Catatan : Berita-berita berikut di bawah ini juga disajikan dalam  rubrik "
George Aditjondro versus Pres. SBY"  di website http://umarsaid.free.fr/ )





Presiden Prihatin atas Buku Aditjondro



Minggu, 27 Desember 2009



TEMPO Interaktif, Jakarta - Buku Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal
Bank Century mengundang tanggapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lewat
juru bicara Julian Aldrin Pasha, Presiden mengungkapkan keprihatinannya atas
buku yang ditulis oleh peneliti dan pengamat sosial George Junus Aditjondro
ini.



"Di sana disebutkan fakta-fakta yang sepertinya tidak akurat, tidak
mengandung kebenaran yang hakiki, ini yang diprihatinkan Presiden," kata
Julian di kediaman pribadi Presiden di Puri Cikeas, Bogor, kemarin. "Buku
itu sangat kontroversial," ujarnya.



Buku Membongkar Gurita Cikeas diterbitkan oleh Galang Press Yogyakarta, Rabu
lalu. Dalam salah satu bab, Aditjondro menyebutkan keterlibatan Yudhoyono
dan keluarganya dalam kasus Century. Ia juga menyoroti Yayasan
Kesetiakawanan dan Kepedulian, Yayasan Puri Cikeas, serta Yayasan Mutu
Manikam. Menurut Aditjondro, ketiga yayasan ini merupakan pendulang dana dan
dukungan politik bagi Partai Demokrat dan Yudhoyono.



Dalam buku itu, Aditjondro menyebut sejumlah nama pengusaha yang menyetorkan
dana mereka ke sana. Joko Tjandra, misalnya, diduga menyumbang US$ 1 juta
buat Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian pada awal Oktober 2009. "Ini
masalah. Yayasan menerima dana dari orang yang utang pada negara dan masuk
daftar pencarian orang," kata Aditjondro kepada Tempo, Jumat malam lalu.



Aditjondro juga menyanggah bahwa isi buku itu tidak akurat. "Tidak benar
buku itu ditulis tidak berdasar fakta-fakta," katanya.



Rumor pun mengiringi peredaran buku kontroversial itu. Sulitnya orang
mendapatkan buku Aditjondro sempat memunculkan spekulasi bahwa buku diborong
oleh pihak tertentu. Namun, Julius Felicianus, Direktur Penerbit Galang
Press, membantah kabar ini. Yang benar, pihak toko, khususnya di Jakarta dan
sekitarnya, menarik buku itu dari rak pajangan sejak Jumat lalu. "Apa
alasannya, kita tidak tahu. Mungkin mencari aman karena buku itu memicu
kontroversi," kata Julius.



Ia juga membantah isu buku tersebut mengalami pelarangan dari Kejaksaan
Agung. "Prosesnya butuh 3-6 bulan untuk Kejaksaan Agung melakukan uji
material," kata Julius kemarin. "Jadi buku itu masih akan terbit karena
tidak dilarang."



Menurut Julius, jika tak suka kepada buku Aditjondro, lebih baik Yudhoyono
dibantu para staf ahlinya menulis buku tandingan, dan Galang Press siap
menerbitkan. "Kalau SBY menarik peredaran buku itu, ya, berarti memang ada
sesuatu dengan pemerintahannya," katanya.



Julian menegaskan, Presiden belum mengambil tindakan atas penerbitan buku
itu, apakah akan menempuh jalur hukum, menarik buku dari peredaran, atau
membuat buku tandingan. "Sementara ini belum ada respons," kata Julian,
"Presiden baru membaca buku itu."



Di luar Presiden, kata Julian, buku itu pasti akan menuai reaksi dari
pihak-pihak yang disebutkan di dalamnya. "Apakah itu dari ke yayasan-yayasan
atau dari individu-individu lain yang namanya disebut atau disinggung
Aditjondro," katanya.



* * *

GJA Pertanyakan Kedekatan Ani Yudhoyono
Dengan Ratu Suap Ayin

Minggu, 27 Desember 2009,

Laporan: Teguh SantosaJakarta, RMOL. Salah satu hal yang dibicarakan George
Junus Aditjondro di buku terakhir yang ditulisnya, Membongkar Gurita Cikeas,
adalah peranan berbagai yayasan yang melibatkan keluarga Yudhoyono dan
teman-teman dekatnya.

Salah satu yayasan yang disorot George Junus Aditjondro adalah Yayasan Mutu
Manikam Nusantara yang dibina istri SBY, Ani Yudhoyono. Sang Ratu Suap
Arthalita Suryani alias Ayin adalah bendahara yayasan yang dipimpin oleh
salah seorang istri menteri. Yayasan ini adalah satu dari enam yayasan utama
yang menjadi semacam pondasi Partai Demokrat dan SBY dalam Pemilu 2009 dan
Pilpres 2009.

"Hal lain yang menarik adalah yayasan yang bernaung atau dimotori Ibu Ani
Yudhoyono, Yayasan Mutu Manikam Nusantara. Bendahara yayasan ini adalah
Ayin. Jadi saya bertanya, mengapa hanya Ayin dan Jaksa Urip saja yang
ditahan. Tapi tidak disebutkan dana siapa yang mereka gunakan, padahal itu
adalah dana obligor kakap BLBI yang terus menerus mengemplang, Syamsul
Nursalim," ujar George Junus Aditjondro kepada Rakyat Merdeka Online, Minggu
pagi (27/12).

Di dalam buku itu George Junus Aditjondro juga memuat foto yang
memperlihatkan SBY dan Ani Yudhoyono hadir dalam pernikahan salah seorang
anak Ayin. Foto ini sebenarnya sudah beredar luas di masyarakat beberapa
waktu lalu. Dan kedekatan ini, sebut GJA, menjelaskan mengapa sampai
sekarang Syamsul Nursalim masih bisa lolos. [guh]



* * *



Urbaningrum: Buku Jangan Jadi Alat Propaganda Negatif


Sabtu, 26 Desember 2009

TEMPO Interaktif, Jakarta -Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum
menilai, informasi yang tidak benar dalam dasar penulisan buku dapat menjadi
propaganda. Siapapun, papar Anas, boleh menulis buku. "Tapi sebaiknya
berdasarkan informasi yang benar. Sehingga buku menjadi buku, tidak menjadi
alat propaganda negatif,’’ ujarnya.



Hal itu diungkapkannya terkait terbitnya buku ‘Membongkar Gurita Cikeas: Di
Balik Skandal Century’ yang ditulis George Aditjondro. Usai acara Deklarasi
Koalisi Partai Demokrat dan Partai Golkar dalam Pilkada 2010 di Denpasar,
Sabtu (26/12), Anas menyebutkan, dalam kasus Century amat jelas tidak
berkaitan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Juga dengan Partai
Demokrat dan Cikeas.



Soal buku tersebut, Anas juga menjadi Ketua Fraksi Partai Demokrat di Dewan
Perwakilan Rakyat, mengaku belum melihatnya. Begitupun sikap dari Partai
Demokrat terhadap penerbitan buku itu, belum ditentukan. ‘’Nanti dipelajari,
kalo perlu akan direspons. Kalau tidak diperlukan, biarkan rakyat menilai,’’
tegasnya.



Dia menambahkan, tim Pansus Hak Angket Century masih bekerja dan sejauh ini
berlangsung cukup baik. Pansus, kata dia, akan bekerja efektif hingga 4
Maret 2010 mendatang. Sampai saat ini, menurutnya belum ada rencana Boediono
dan Sri Mulyani akan dipertemukan untuk mengkonfrontasikan keterangan
masing-masing.



Namun Anas meyakinkan, pihaknya justru meminta PPATK untuk membuka dengan
terang aliran dana Bank Century tersebut. Jangan sampai ada yang
ditutup-tutupi dan disembunyikan. ‘’Jangan sampai di Pansus ada agenda
politik gelap,’’ tegasnya.



* * *



Buku Gurita Cikeas Hilang Dari Pasaran


Sabtu, 26 Desember 2009



TEMPO Interaktif, Jakarta -Buku karangan George Junus Aditjondro yang
berjudul "Membongkar Gurita Cikeas : Dibalik Skandal Bank Century" hilang
dari pasaran.



Buku yang mendapat reaksi keras dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu
diduga sengaja disembunyikan oleh pihak toko karena munculnya kabar larangan
pengedarkan.



Direktur Penerbit Galangpress Julius Felicianus, yang menerbitkan buku
tersebut mengatakan bahwa sejak kemarin malam buku George telah ditarik dari
display-display yang ada di toko buku. "Khususnya toko buku yang berada di
Jabodetabek," ujar Julius kepada Tempo, Sabtu malam (26/12). Kabar tentang
penarikan dari display itu, kata Julius dia dapat dari sales dan distributor
di Jakarta.



Mengenai apa yang menjadi alasan toko menarik buku tersebut, Julius mengaku
tidak tahu menahu. Namun dia menduga pihak toko hanya sekedar mencari aman
saja. "Karena memicu kontoversi dan bahkan ada kabar katanya dilarang,
mungkin pihak toko hanya sekedar mencari aman saja," ujarnya.



Selain Jakarta, lanjut Julius buku tersebut juga tidak dipajang di Toko Buku
Gramedia di Yogyakarta. "Karena kemarin malam pukul 19. 00 WIB ada kunjungan
dari aparat keamanan, makanya sementara ditarik dari display," ujarnya.



Melihat kondisi ini pihak Galangpress tidak akan mengambil sikap khusus.
"Sebab memang tidak ada perintah penarikan dari Kejaksaan Agung," kata
Julius. Kalaupun setelah kontroversi ini lalu ada perintah penarikan, lanjut
dia pihaknya masih punya waktu.



Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kata Julius proses pelarangan hingga
penarikan tuntas membutuhkan waktu enam bulan. "Dulu ada dua buku kami yang
pernah dilarang, semuanya melalui pemberitahuan resmi kepada kami dari
Kejaksaan Agung," kata Julius.



* * *
















[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke