Selamat Jalan Gus Dur

Saat Kritis, Masih Minta Audio Book



JAKARTA - Indonesia kehilangan salah seorang tokoh terbaiknya, Abdurrahman
Wahid. Gus Dur -sapaan populer Abdurrahman Wahid- mengembuskan napas
terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, kemarin sekitar
pukul 18.45.


Ketua tim dokter dr Yusuf Misbach mengungkapkan, presiden keempat RI itu
meninggal karena menderita berbagai penyakit. Kesehatan mantan orang nomor
satu di Indonesia itu drop kembali untuk kali kesekian sekitar pukul 11.30
WIB.


''Kondisi kesehatan beliau memburuk berkaitan dengan penyakit diabetes,
ginjal, stroke, dan jantung,'' ujar Yusuf Misbach di gedung RSCM.


Menurut dia, tim dokter telah berupaya melakukan sejumlah tindakan medis. Di
antaranya, berusaha menaikkan kembali tekanan darah yang menurun dan
memperbaiki pernapasan Gus Dur yang kurang lancar. ''Selain memasukkan
responsi jantung paru, usaha sudah dilakukan, tapi ya nggak berhasil,''
jelasnya.


Gus Dur mulai masuk rumah sakit milik pemerintah itu pada 25 Desember lalu.
Dia dirawat di kamar 116 gedung A lantai 1. ''Kondisi beliau memang naik
turun sejak pertama masuk,'' ungkap Yusuf.


Beberapa hari terakhir kondisi Gus Dur yang sempat memburuk sebenarnya
berangsur-angsur membaik. Bahkan, setelah melakukan operasi gigi pada 28
Desember, kondisi dia relatif stabil. ''Mulai siang itulah kondisi Bapak
(Gus Dur, Red) memburuk lagi,'' tambah Bambang Susanto, asisten media Gus
Dur.


Dia lantas menceritakan, sekitar pukul 11.00, dirinya sempat membacakan Gus
Dur salah satu majalah terbitan Indonesia (Gatra). Artikel yang dibacakan
saat itu terkait berita tentang mantan PM Israel yang mau diancam hukuman
mati.


Sambil terus dibacakan berita tersebut, Gus Dur sempat ditawari putri
bungsunya, Inayah Wulandari, pudding cokelat. ''Gus Dur mau, tapi hanya tiga
suapan,'' katanya.


Setelah itu, sekitar pukul 11.30, Gus Dur mengeluh sakit, mulai bagian paha
hingga ke bawah. Di tengah rasa kesakitan, Gus Dur minta beberapa kali
dimirinkan ke kanan dank ke kiri.


Bahkan, Gus Dur juga minta diturunkan untuk tidur di lantai. Keluarga dan
pengawal menuruti permintan itu. Setelah digelarkan tikar, Gus Dur
diturunkan dari tempat tidur. ''Tapi, Bapak terus mengeluh sakit,'' ujarnya.


Dokter akhirnya dipanggil. Analisis intensif akhirnya dilakukan. Hasilnya,
tim dokter memutuskan untuk memindah Gus Dur untuk dirawat di pusat jantung
terpadu. Sekitar pukul 13.30, Gus Dur ditempatkan di ruang atrium 2 lantai
5. Sejak itu, keluarga diminta untuk menunggu di luar ruangan


Rencananya, menurut keterangan rumah sakit, Gus Dur menjalani trombektomi.
Yaitu, mengeluarkan darah beku di dinding pembuluh darah utama di sekitar
perut. Tapi, penanganan medis itu belum sempat terlaksana karena kondisi Gus
Dur makin drop.


''Sekitar jam tiga sore, setelah ashar, keluarga sebenarnya tenang kembali.
Kepada pengawal, Gus Dur minta diambilkan audio book, salah satu seri buku
yang belum diselesaikannya,'' lanjut Bambang. Mendengarkan audio book itu
memang menjadi kebiasaan Gus Dur pada waktu-waktu senggang selama ini.


Namun, perasaan lega itu hanya berlangsung sesaat. Menjelang malam, kondisi
Gus Dur makin kritis. Tapi, semua keluarga belum diizinkan masuk ke ruangan.
"Tim dokter menyampaikan bahwa kondisi Gus Dur tidak terlalu baik, butuh
penganangan khusus,'' kata salah seorang ketua Garda Bangsa itu.

Sekitar pukul 18.30, Presiden SBY datang ke rumah sakit. Tak lama berselang,
sekitar pukul 18.45 WIB, Gus Dur dinyatakan meninggal dunia lima. Beberapa
saat kemudian SBY masuk ruangan.


Saat masuk ke ruangan Gus Dur, SBY hanya ditemani menantu Gus Dur, Dhohir
Farisi. "Saat keluar itulah Mas Faris yang mengabarkan bahwa Bapak sudah
tidak ada," jelasnya.


Setelah Gus Dur dikabarkan meninggal, masyarakat biasa hingga sejumlah tokoh
berdatangan. Di antara tokoh-tokoh yang hadir tampak Menko Kesra Agung
Laksono, Menkeu Sri Mulyani, Menkum HAM Patrialis Akbar, Menakertrans
Muhaimin Iskandar, Menteri PDT Helmy Faishal, Ketua DPD Irman Gusman, dan
anggota BPK Ali Masykur Musa.


Sejumlah politisi, baik dari PKB maupun partai lain, juga tampak hadir.
Demikian juga, sejumlah kalangan aktivis, budayawan, dan seniman juga hadir
di rumah sakit.


Kesehatan Naik Turun sejak Belasan Tahun


Kondisi kesehatan Gus Dur dilaporkan selalu naik turun sejak belasan tahun
terakhir. Karena itu, keluarga besar menganggap riwayat medis presiden
keempat RI itu adalah hal biasa. Itulah yang diungkapkan adik kandung Gus
Dur, dr Umar Wahid.


''Saya selama ini memang intens memantau kondisi kesehatan, jadi sedikit
banyak saya mencatat naik turunnya kondisi beliau,'' ujar Umar kepada Jawa
Pos di Jakarta tadi malam (30/12).


Menurut Umar, sejak 2006 Gus Dur mengalami gangguan ginjal sehingga harus
menjalani cuci darah secara rutin. Selain itu, kata dia, Gus Dur memiliki
catatan pernah menderita sejumlah penyakit kronis. Misalnya, komplikasi
diabetes, stroke, dan jantung.


Umar mengingat, kira-kira dua minggu lalu Gus Dur menderita pembengkakan di
gigi. Kemudian, pada Kamis (24/12) lalu, Gus Dur minta diantar berkunjung ke
Jombang. Karena kondisi beliau yang tidak stabil, akhirnya almarhum
kelelahan. ''Ketika saya periksa, gula darah beliau turun,'' ujar Umar.


Untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif, Gus Dur dirawat di RS
Swadana, Jombang, yang didukung tim dari RSUD dr Soetomo, Surabaya. Kondisi
tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu pun membaik. Sehari setelahnya Gus Dur
kembali ke Jakarta dan langsung menjalani cuci darah di RSCM.


Umar menyatakan, Gus Dur sempat ngobrol dan bersenda gurau bersama sejumlah
kerabat yang menemaninya di RSCM. ''Beliau kan humoris. Jadi, walaupun agak
sulit bicara panjang, beliau sempat bersenda gurau. Tidak ada firasat khusus
karena saya kan adiknya. Jadi, kami berbicara yang enteng-enteng dan
bercengkerama seperti biasa,'' kata Umar.


Adik keempat Gus Dur itu kali terakhir memantau medical record tokoh yang
dikenal kontroversi itu pada Sabtu dan Minggu. Umar berpendapat bahwa
kondisi Gus Dur sebelum operasi, yakni pada Senin, cukup stabil. Hal itu
terbukti dengan tidak adanya laporan khusus yang disampaikan tim medis RSCM
kepada dirinya. ''Saya waktu itu keluar kota sampai Selasa. Tapi, tidak ada
yang menghubungi. Asumsi saya semua baik-baik saja,'' ujarnya.


Lalu apa penyebab utama kematian Gus Dur secara medis? Setelah mendapat
laporan dari RSCM, kata Umar, Gus Dur meninggal karena ada penyumbatan di
salah satu pembuluh darah.


Mewakili keluarga besar Abdurrahman Wahid, Umar yang didampingi adik kelima
Gus Dur, Aisyah Hamid Baidlowi, meminta agar semua pihak memaafkan segala
kesalahan beliau semasa hidup. Keluarga juga secara khusus mengapresiasi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyerukan aksi berkabung
nasional. ''Dukungan ini menguatkan ketabahan kami melewati masa-masa
berkabung,'' ujar Aisyah.


Tahlil 15 Malam di Ciganjur


Suasana duka juga terlihat di Ciganjur, Jakarta Selatan, tempat kediaman Gus
Dur. Hujan mengguyur Jakarta Selatan sejak sore. Sepanjang jalan menuju
kediaman Gus Dur, masyarakat tumpah ruah. Mereka ingin memberikan
penghormatan terakhir kepada presiden keempat RI tersebut.


Bukan hanya itu. Masjid-masjid lokal di sekitar kediaman Gus Dur penuh
dengan jamaah. Mereka memanjatkan doa dan tahlil, demi Gus Dur. Kegiatan
masyarakat sekitar Ciganjur itu juga untuk memberikan penghormatan kepada
Gus Dur.


Di rumah duka, sejumlah tokoh penting telah hadir untuk memberikan
penghormatan. Mantan Presiden B.J. Habibie juga tampak melayat. Begitu pula
mantan Presiden Megawati Soekarnoputri yang hadir bersama suami, Taufiq
Kiemas. Mega datang dengan me­ngenakan baju khas merahnya.


Beberapa tokoh lain, mantan Wa­pres Try Sutrisno, mantan Menristek A.S.
Hikam, mantan Menteri Agama Quraish Shihab, mantan Ketua BPK Anwar Nasution,
dan Ketua Wantimpres Adnan Buyung Nasution juga hadir. Keponakan Gus Dur,
Muhaimin Iskandar, juga tiba di rumah duka.


Ribuan warga juga memadati rumah duka. Sebagian besar adalah para jamaah NU.
Kompleks Al Munawwaroh yang merupakan kediaman Gus Dur penuh sesak. Jamaah
di Masjid Al Munawwaroh terus-menerus mendengungkan tahlil dan tahmid sambil
menunggu kedatangan Gus Dur.


Pukul 22.10 WIB, mobil ambulans yang membawa jenazah Gus Dur tiba. Istri Gus
Dur, Shinta Nuriyah, terlihat terus setia mendampingi almarhum. Kain hijau
yang menutupi peti Gus Dur sejak dari RSCM masih membalut.


Saat tiba, gema tahlil dan tauhid semakin kencang. Para warga yang sudah
memadati kediaman ikut mengumandangkannya. Mereka tampak berdesakan ingin
melihat peti yang membawa Gus Dur. Sejumlah warga tampak menangis mengiringi
peti jenazah Gus Dur menuju rumah duka.


Pengurus Banser Cabang Jakarta Selatan Idham Cholied menyatakan, kepergian
Gus Dur meninggalkan duka mendalam. Demi memberikan jalan yang mudah bagi
Gus Dur, dirinya menginstruksi warga NU untuk melakukan tahlil 15 hari
berturut-turut.


Seperti apa pendapat para tokoh atas sosok Gus Dur? Adnan Buyung menilai Gus
Dur sebagai sosok spesial. Pemikiran utama Gus Dur adalah terkait
pluralisme. Itu keinginan yang terus dibawa Gus Dur meski dirinya telah
lengser sebagai presiden. "Cita-cita pluralisme beliau harus kita teruskan
dan kembangkan. Itu yang menjadi pemikiran utama Gus Dur saat ini," kata
Adnan.


Mantan Presiden BJ. .Habibie menilai Gus Dur adalah sosok terbuka dalam
segala hal. Gur Dur adalah tokoh yang berani menyampaikan kebenaran
sekalipun itu mengundang reaksi negatif atasnya. "Gus Dur itu blak-blakan
dan jujur," kata Habibie.


Pada pukul 22.55, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama rombongan tiba
di rumah duka. Hanya beberapa saat setelah SBY tiba, Megawati bersama
rombongan meninggalkan rumah duka.


Pengawalan di rumah duka memang ekstraketat. Selain para Banser dan Garda
Bangsa yang berbasis NU, satu satuan setingkat kompi dari Kodam Jaya dan dua
peleton pasukan Marinir berada di lokasi.


Pengamanan semakin diperketat saat Presiden SBY tiba. Para kesatuan TNI
tersebut membentuk pagar hidup untuk memberikan jalan kepada SBY. Para
wartawan tidak bisa memasuki kediaman karena penjagaan itu. Mereka berkumpul
di samping Masjid Munawwaroh sambil menunggu tokoh-tokoh yang melayat. Ketua
Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto tampak hadir sekitar pukul 23.00.


Rombongan presiden hanya sekitar 15 menit di rumah duka. SBY saat itu
didampingi sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Terdapat Menteri
Agama Suryadharma Ali dan Menko Kesra Agung Laksono. Kapolri Bambang
Hendarso Danuri juga hadir. Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi juga hadir
bersamaan dengan rombongan presiden. (git/bay/aga/zul/iro)



Sumber:

http://www.jawapos.co.id/


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke