Tanggal: 07 Januari 2010 - 09:52 WIB Sumber: infobanknews.com
Sejumlah bank besar di Asia Pasifik saat ini masih dipimpin para ekspatriat. Namun, dalam aspek remunerasi, besar ternyata bukan berarti dibayar paling baik. Nugroho Irawan Studi yang dilakukan The Asian Banker dan Hay Group menunjukkan, total penghasilan para chief executive officer (CEO) bank di Asia telah mengalami penurunan sebesar 11,3% sejak 2007. “Dalam tahun yang sulit, penurunan penghasilan CEO dapat dipahami, terutama bagi para bankir yang lebih dari 75% total remunerasi mereka tergantung pada pencapaian kinerja bank,” seperti diutarakan studi tersebut. The Asian Banker merupakan salah satu publikasi finansial terkemuka, sedangkan Hay Group adalah perusahaan konsultan manajemen global. “Dalam survei kami di tahun 2009, 50 CEO dengan penghasilan tertinggi menerima US$86,25 juta secara keseluruhan, sedangkan di dua tahun sebelumnya mereka menerima US$88,6 juta. Selisih penghasilan bagi 10 bankir tertinggi bahkan lebih besar, namun mereka menerima kombinasi US$50 juta di tahun 2009, dibandingkan dengan US$54,4 juta di tahun 2007, (mengalami) penurunan sebesar 11,3%,” masih seperti diutarakan studi tersebut. Semantara itu, kompensasi para CEO bank di Asia Pasifik (dan ekuivalennya) telah mengalami penurunan sejak terakhir kali survei ini dilakukan, yaitu pada 2007, karena makin banyak bank yang mengadopsi remunerasi berbasis kinerja. Studi itu juga menunjukkan bahwa para pemimpin bank besar milik negara yang pada umumnya memiliki keuntungan besar dibayar lebih rendah dibandingkan dengan rekan mereka di bank swasta. “Bank-bank di Asia Pasifik patut berbangga karena mereka tetap memperoleh keuntungan di tengah krisis finansial global. Hal ini lebih dikarenakan mereka terkait dengan ekonomi yang bertumbuh, di mana mereka tidak perlu mengambil risiko berlebihan untuk memperoleh keuntungan,” tutur Peter Hoflich, Managing Editor The Asian Banker. Peter menambahkan, top eksekutif mereka ternyata diberikan kompensasi yang lebih wajar dan budaya risikonya tidak terlalu mendorong mereka untuk mencari pertumbuhan dari aktivitas yang diragukan. Namun, penekanan yang semakin besar pada matriks berbasis kinerja mungkin pada akhirnya akan mengarah pada praktik tidak tepat bila tidak terdapat perlindungan yang tepat. Dari sembilan bank Australia dalam studi tersebut, tujuh di antaranya masuk dalam 10 besar, termasuk dalam empat urutan teratas. Mike Smith dari ANZ merupakan pemimpin bank dengan penghasilan tertinggi dengan total remunerasi hampir mencapai US$9 juta. CEO Commonwealth Bank of Australia, Westpac Banking Corp, dan NAB ada di urutan berikutnya dengan penghasilan masing-masing sekitar US$6 juta. Sejumlah bank besar di Pasifik telah atau saat ini masih dipimpin para ekspatriat. Namun, dalam aspek remunerasi, besar bukan berarti dibayar paling baik. Bahkan, CEO bank milik negara ICBC, bank dengan tingkat keuntungan terbesar di dunia pada 2008, hanya menerima total remunerasi yang relatif kecil, yakni sebesar US$225.000 per tahun. Secara khusus, CEO bank badan usaha milik negara (BUMN) terbesar di Malaysia, Maybank, hanya memperoleh 5% dari tiga rekannya yang memimpin bank swasta dengan bayaran terbaik di bank-bank swasta dan kurang dari 10% dari total remunerasi yang diterima pendahulunya, Amirsham Aziz. The Asian Banker pertama kali memublikasikan 50 CEO dengan penghasilan tertinggi (atau ekuivalennya) pada 2007. Saat itu daftar ini dirajai CEO Macquarie Bank, Alan Moss, yang membawa pulang US$15 juta. Tahun ini CEO Macquarie Bank saat ini, Nicholas Moore, jatuh pada posisi ketujuh dengan remunerasi hanya US$4,7 juta. Kelima CEO bank dengan peringkat tertinggi dalam mengadopsi remunerasi berbasis kinerja adalah orang-orang yang baru diangkat. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja merupakan faktor utama dalam suksesi. Namun, hal ini berbeda bagi CEO baru UOB dan Macquarie Group. Meskipun mereka berada di posisi atas dalam tabel Performance-Based Pay, yaitu masing-masing 91,6% (posisi pertama) dan 86,9% (posisi keempat), mereka sebenarnya memiliki persentase yang lebih rendah dibandingkan dengan pendahulu mereka. Porsi performance-based pay telah mengalami kenaikan skala di sebagian besar grafik, baik bagi CEO yang telah ada maupun baru, terutama pada bagian teratas. Bank-bank di Asia Tenggara sepertinya telah tertular performance-based bug, terutama bank terbesar di Malaysia, Maybank. CEO bank ini pada 2007, Amisham Aziz, menerima 52,1% dari total remunerasi berdasarkan kinerja. Sedangkan CEO barunya, Abdul Wahid Omar, memperoleh 80,3% total pendapatannya dari remunerasi berdasarkan pencapaian tingkat kinerja. Penulis adalah Director of Hay Group. http://www.infobanknews.com/index.php?mib=mib_news.detail&id=1204 [Non-text portions of this message have been removed]

