Refleksi : Boleh menikmati enak-enakan, tetapi jangan ciptakan baby, begitulah bisa pesan KB disingkatkan.
Kalau tak salah diingat, pernah dulu pada tahun 1970-an di Singapura ada seruan yang mirip, dalam mana dikatakan bahwa kaum miskin tidak boleh punya anak banyak, sebab ibu kurang pendidikan, jadi tidak dapat membantu mencerdaskan anak. http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/anak-keluarga-miskin-perlu-dibatasi/ Kamis, 07 Januari 2010 13:58 Anak Keluarga Miskin Perlu Dibatasi Jakarta - Keluarga miskin mempunyai anak lebih banyak dari keluarga kaya. Itu sebabnya, anak dari keluarga miskin perlu dibatasi dalam kaitan pengendalian jumlah penduduk. "Keluarga miskin mempunyai anak rata-rata 3,4. Sedangkan rata-rata anak keluarga kaya hanya 2,0. Jumlah ini harus dikendalikan, kalau tidak laju pertambahan penduduk sulit direm," kata Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) Sugiri Syarief, yang dihubungi SH, di Jakarta, Rabu (6/1). Sugiri mengatakan, tingginya angka kelahiran itu disebabkan akses keluarga miskin terhadap pelayanan Keluarga Berencana (KB) rendah. Keluarga miskin sulit mendapat akses pelayanan KB karena keterbatasan ekonomi. Padahal, dijelaskan Sugiri, keluarga miskin yang merupakan pasangan usia subur sekitar 30% dari 42 juta keluarga yang ada di Indonesia. Pasangan ini rata-rata berusia 25-35 tahun. "Karena itu, sasaran utama tahun 2010 adalah mengurangi jumlah anak keluarga miskin dengan cara mendekatkan pelayanan KB kepada mereka," kata Sugiri. Sugiri menekankan, pihaknya akan melakukan berbagai program agar jumlah penduduk Indonesia terkendali. Laju pertambahan penduduk harus mampu ditekan 0,1% dari laju pertambahan penduduk yang saat ini 1,3%. Adapun penduduk Indonesia tercatat 232 juta. Untuk memperkuat pelayanan terhadap kelompok keluarga miskin, BKKBN mengalokasi anggaran 50% dari Rp 1,23 triliun anggaran BKKBN tahun 2010 atau sekitar Rp 600 miliar. Besarnya dana tersebut, kata Sugiri, disebabkan 30% dari anggaran sudah didominasi untuk membeli alat kontrasepsi. Layanan KB Keliling Selain itu, BKKBN mendorong daerah untuk membuat layanan KB keliling (mobile clinic). Targetnya, semua kabupaten akan mempunyai layanan KB keliling dengan jumlah 503 mobile clinic. "Pelayanan KB ke keluarga miskin akan bekerja sama dengan LSM disesuaikan dengan karakter keluarga sasaran dan ruang gerak LSM," jelas Sugiri. BKKBN sudah menetapkan target 61,4% keluarga miskin harus sudah menjadi akseptor KB. Saat ini, masih tercatat 57% keluarga miskin. Dia mengakui, untuk mencapai 100% tidak mudah, butuh waktu yang panjang. Selain keluarga miskin, BKKBN juga menyasar pasangan usia subur yang menjadi akseptor KB meningkat jumlahnya 7,1 juta pasangan pada 2010. Sekarang, peserta akseptor KB baru 28 juta. Di samping itu, pemberian akses pelayanan KB ke daerah terpencil dilakukan dengan bekerja sama dengan instansi lain. (naomi siagian) [Non-text portions of this message have been removed]

