From: faisalsyah <[email protected]>
Date: Thursday, January 21, 2010, 6:03 AM


  



Cerita SBY di Balik Pagar Rp 22,6 Miliar

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam beberapa bulan ke depan, 
sepertinya tidak lagi menggunakan pesawat sewaan dari maskapai Garuda Indonesia 
atau Pelita Airlines dalam melakukan lawatannya. Soalnya, pengadaan pesawat 
kepresidenan ini sudah mendekati titik terang. Beberapa bulan sebelumnya, 
tepatnya 3 November 2009, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah memberikan sinyal 
untuk memuluskan pembelian pesawat yang katanya sudah dipesan pada produsen 
pesawat asal Amerika, Boeing.

Meski sempat melawan, akhirnya Badan Anggaran DPR luluh juga. Anggaran 
pembelian pesawat dan sejumlah anggaran mubazir lainnya: pembelian mobil dinas 
mewah untuk 150 pejabat negara yang harganya Rp 1,3 miliar per unit, dan 
renovasi pagar istana yang menelan dana Rp 22,6 miliar. 

Saat itu, Menkeu Sri Mulyani mendesak agar usulan belanja mobil dinas mewah 
pejabat, pembelian pesawat kepresidenan, serta renovasi pagar Istana Presiden 
segera diketok palu. Alasannya sangat klasik bahwa sifatnya sangatlah mendesak. 

Untuk renovasi pagar yang diperkirakan menelan beaya sampai Rp 22,6 miliar, 
menurut Menkeu, tergolong masuk kondisi sangat mendesak. Karena, pagar Istana 
Presiden yang sudah ada, kurang memadai dari segi security. Berbekal surat No 
S-629/MK.02/ 2009 tertanggal 13 Oktober 2009, pemerintah usulkan adanya 
renovasi pagar istana presiden dan wapres. 

"Tentu harus ada upaya menjaga keamanan simbol negara dari target teroris,'' 
ucap menkeu.

Melihat gemuknya anggaran tersebut, tidak tertutup kemungkinan bangunan pagar 
Istana Presiden, dibangun menjulang tinggi. Sehingga area Ring-1 itu, bakal 
menjadi kawasan yang sangat tertutup.

Ketua Badan Anggaran DPR, Harry Azhar Azis mengaku kewalahan menghadapi 
ngototnya pemerintah memperjuangkan proyek-proyek Istana. Padahal, dalam setiap 
usulannya, pemerintah dinilainya tidak pernah bersikap transparan. Misalnya 
menyertakan spesifikasi usulan belanja dan tinjauan efisiensinya.

"Kami sendiri kecewa dengan pemerintah. Maunya bahas usulan dan cepat 
disetujui. Padahal, menyangkut penggunaan anggaran, DPR tidak mau main-main. 
Tapi, DPR selalu dipojokkan. Disebut tidak proaktiflah, tidak komunikatiflah, 
'' tegasnya kepada Indonesia Monitor.

Salah satu contoh tidak transparannya pemerintah, lanjut Harry, tergambar dalam 
usulan pembelian 75 mobil mewah. Dalam usulannya, tidak dicantumkan spesifikasi 
produk yang dimaksud. Sehingga sangat sulit bagi DPR untuk melakukan pengkajian 
serta pendalaman dalam koridor akuntabilitas publik.

"Tiba-tiba saja, mobil yang dibeli Toyota Crown Saloon yang sangat mewah. 
Demikian pula soal pesawat terbang kepresidenan dan pagar istana, datanya tidak 
lengkap. Jadi kayak orang buta yang belajar jalan saja,'' paparnya.

Dalam pembahasan ketiga item tersebut, lanjutnya, berlangsung cukup alot. 
Mayoritas fraksi di Panggar DPR mempertanyakan alasan mendesak yang selalu 
dilontarkan pemerintah.

''Saya sempat mencakmencak. Kalau membahas anggaran untuk korban bencana alam, 
saya setuju itu sifatnya mendesak. Tapi kalau untuk belanja pejabat, atau 
kebutuhan lainnya. Saya kok kurang sreg kalau disebut mendesak,'' tegasnya.

Lalu kalau tidak setuju kenapa DPR meloloskannya? Menurut Harry, pemerintah 
selalu menghadapkan DPR dengan pilihan sulit. "Misalnya, kita tolak pembelian 
pesawat. Alasannya harus kuat'dong. Nanti kita yang malah dituding tidak 
menghargai lambang-lambang kenegaraan. Atau malah musuhnya presiden, kan 
repot,'' tuturnya.

Sedangkan untuk anggaran uang muka pembelian pesawat VVIP kepresidenan Boeing 
737-400, lanjutnya, pemerintah beralasan, mendesak karena ada ancaman dari 
Boeing untuk segera melunasi uang muka.

"Katanya, kalau tak segera dibayar, sudah ada pembeli lain yang bersedia," ujar 
Harry menjelaskan salahsatu alasan kenapa anggaran tersebut segera disepakati.

Dirinya mengaku belum tahu berapa harga total dari pesawat tersebut. Ia hanya 
mengetahui, Rp 200 miliar itu sebagai uang muka pembeliannya. "Terus terang 
saya belum tahu berapa harga total dari pesawat tersebut. Yang saya tahu, hanya 
Rp 200 miliar saja, itu untuk uang muka pembeliannya, " ujarnya kepada 
Indonesia Monitor.

Untuk itu, dalam realisasi kedua proyek kepresidenan itu, politisi senior 
Partai Golkar itu, mendesak agar BPK serius dalam melakukan audit. Sehingga 
anggaran renovasi pagar Istana Presiden yang menelan dana Rp 22,6 miliar, serta 
pembelian pesawat kepresidenan Rp 200 miliar, tidak dikotori korupsi apalagi 
moral hazard.

''Kita lihat saja, bagaimana BPK menjalankan tugas dan fungsinya dalam 
mengawasi belanja anggaran Negara,'' tegasnya.

Terkait dengan spesifikasi yang akan dibeli oleh pemerintah, Harry mengatakan, 
kurang mengetahuinya. Soal keamanan dan sebagainya. Nanti bisa dilihat dari 
harganya berapa. Karena harga merupakan keputusan politik dari seberapa aman 
dan nyaman dapat menjaga RI 1.

"Spesifikasi nanti akan dikaji oleh Komisi V. Bahannya seperti apa interiornya 
kaya gimana, itu semua terkait dengan besar kecil harga yang harus dikeluarkan, 
" ujarnya.

Sementara Ketua Komisi V DPR RI Taufik Kurniawan, mengaku belum mengetahui 
perihal pengadaan pesawat kepresidenan. Namun dirinya menegaskan, kalau pun 
nanti anggaran sudah ada dan sudah disetuji sesuai dengan mekanisme pengajuan 
anggaran di DPR, kita akan kaji dan bahas model pesawatnya.

"Kita masih menunggu permintaan dari pemerintah," ujarnya kepada Indonesia 
Monitor.

Terkait dengan jenis pesawatnya, politisi asal PAN tersebut, memaparkan, jenis 
pesawat yang mungkin akan dipilih tentunya yang memiliki daya jelajah yang 
sesuai dengan keadaan geografis di negara ini dan kebutuhan utamanya. Selain 
itu yang paling penting juga hemat bahan bakar.

"Ini cukup penting karena, pesawat yang digunakan juga harus disesuaikan dengan 
landasan penerbangan yang ada di daerah-daerah kita," ujarnya.

Sementara anggota Komis V dari Partai Hanura Saleh Husin mengatakan, lebih baik 
pembelian pesawat kepresidenan ditunda dulu karena tidak sesuai dengan kondisi 
bangsa yang ada saat ini. Selain itu harus dikaji lebih dalam apakah pengadaan 
pesawat lebih hemat dibanding dengan menyewa yang ada.

"Kalau memang sudah memungkinkan dan rakyat sudah sejahtera itu wajar adanya," 
ujar pria yang disebut-sebut akan mendapuk posisi Sekjen Hanura ini.

Apa yang dilakukan pemerintah saat ini ternyata menunjukan wajah asli dari 
pengelolaan anggaran pemerintah. Peneliti politik anggaran Indonesia Budget 
Center (IBC) Roy Salam mengatakan, anggaran yang digunakan untuk uang muka 
pembelian pesawat kepresidenan, bisa untuk menyekolahkan 500 ribu siswa SD dan 
300 siswa SMP dalam satu tahun. Menurut dia, anggaran yang tidak pro rakyat itu 
jumlahnya menyaingi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dalam APBN 2009, terdapat dana BOS untuk SD sebesar Rp 11 triliun bagi 27,1 
juta siswa dan untuk SMP sebesar Rp 5,4 triliun bagi 9,4 juta siswa. Atau, dana 
BOS untuk siswa SD itu sebesar Rp 575 ribu per siswa per tahun dan Rp 400 ribu 
per orang per tahun.

''Jadi, betapa banyak siswa yang bisa disekolahkan dari anggaran untuk beli 
pesawat, renovasi pagar, dan biaya pajak mobil menteri ini,'' kata dia.

Pemerintah selama ini selalu menyampaikan bahwa anggaran masih kurang dan belum 
mencukupi. Artinya, belum semua siswa dapat menikmati sekolah gratis. 
''Anehnya, untuk dana BOS masih kurang, tapi kok untuk beli pesawat ada,'' 
katanya.

[Non-text portions of this message have been removed]









      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke