Refleksi :   Gajah pintar,  tahu dia sasaran inti pelaksana malapetaka

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010020101122413

      Senin, 1 Februari 2010 
     
      UTAMA 
     
     
     
KONFLIK SATWA-MANUSIA: Gajah Liar Rusak Rumah Kades 



      LABUHANRATU (Lampost): Aksi kawanan gajah liar asal Taman Nasional Way 
Kambas (TNWK) semakin mengkhawatirkan. Gajah yang biasanya hanya merusak 
tanaman petani, kini mulai masuk permukiman dan merusak rumah penduduk.

      Sabtu (30-1) malam, selain merusak tanaman padi dan karet, gajah merusak 
rumah Prayitno, kepala Desa Labuhanratu 6, Kecamatan Labuhanratu, Lampung 
Timur. Akibatnya, dapur beserta kandang kambing dan ayam milik Prayitno yang 
bangunannya terpisah dengan rumah, rata dengan tanah.

      Kawanan gajah yang diperkirakan mencapai 40-an itu mulai memasuki 
perkampungan sekitar pukul 19.00. Mereka berjalan dalam empat kelompok.

      Kedatangan kawanan gajah itu diketahui oleh petani yang menjaga sawahnya. 
Namun, mereka gagal mencegah gajah-gajah itu memasuki kampung. Gajah lalu 
mendatangi rumah yang paling dekat yaitu rumah Prayitno.

      Saat itu, Prayitno dan keluarganya masih di rumah orang tuanya di Desa 
Rajabasalama, Labuhananratu. "Untung saat itu ada petani yang berjaga dan 
berhasil mengusir. Kalau tidak, mungkin rumah kami juga rata dengan tanah," 
ujar Prayitno yang juga juga Ketua Forum Rembuk Desa Penyangga Lampung Timur.

      Sekitar pukul 22.00, gajah-gajah itu kembali ke hutan. Selain merusak 
bangunan milik Prayitno, kawanan gajah juga merusak padi dan karet petani. 
Menurut Kusno (40), warga Desa Labuhanratu 6, perilaku gajah-gajah liar asal 
TNWK itu semakin mengkhawatirkan. "Sekarang, gajah-gajah itu tidak seberapa 
takut lagi dengan manusia," ujarnya.

      Kusno memperkirakan tanaman padi yang rusak sekitar 7 hektare dan pohon 
karet yang rusak sekitar 100 batang.

      Menurut para petani di sana, jika kanal pembatas antara hutan dan lahan 
warga tidak secepatnya dibangun, warga yang menghuni desa penyangga TNWK itu 
tidak akan pernah merasa nyaman.

      Pasalnya, gajah-gajah liar itu sudah berani memasuki pekarangan warga. 
Kasus gajah memasuki pekarangan kali ini merupakan yang kedua. Sebelumnya, 
September 2009 lalu, kawanan gajah juga jumlahnya 50-an pernah memasuki 
perkampungan Dusun II, Desa Labuhanratu 9, Lampung Timur. Selain merusak 
tanaman, di antara hewan itu merusak sejumlah kandang ayam.

      "Mudah-mudahan kanal secepatnya dibangun agar kami tidak khawatir lagi. 
Yang mengerikan, gajah sudah berani merusak rumah," ujar Kusno yang didampingi 
sejumlah petani.

      Berdasarkan catatan Wildlife Conservation Society (WCS), selama 2009 
gajah liar dari TNWK telah merusak 179 hektare lahan pertanian di 22 desa 
penyangga di Lampung Timur. Kerusakan berada di 851 titik dengan kerugian Rp1 
miliar per tahun.

      Sugiyo, anggota WCS Way Jepara, menjelaskan pada Januari 2009, gajah 
merangsek 53 titik, Februari (26), Maret (37), April (41), Mei (11), Juni (48), 
Juli (40), Agustus (35), September (12), Oktober (26), November (259), dan 
Desember (263 titik).

      Prayitno mengatakan jika lahan petani penyangga dalam satu tahun yang 
dirusak gajah liar mencapai 179 hektare, kerugian yang dialami petani per tahun 
mencapai Rp1 miliar.

      Perhitungannya, jika rata-rata panen 3 ton per hektare, luasan 179 ha 
akan menghasilkan panen 537 ton. Kalau rata-rata harga padi, jagung, dan 
singkong Rp2 juta per ton, akan menghasilkan uang Rp1,074 miliar. n 
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke