Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW adalah pribadi yang lemah lembut.
Walau begitu, beliau juga terkenal sebagai panglima perang yang handal.
 
Namun, Baginda Nabi SAW tidaklah berlaku seperti raja atau pembesar
pada umumnya yang hanya duduk di singgasananya sementara prajuritnya bertempur
di medanperang.
 
Jika Islam terusik, beliau selalu memimpin kaum muslimin dengan berada
di garda terdepan di garis pertempuran melawan para kafir harbi.
 
Pertempuran selalu akrab dengan yang disebut sebagai peralatan dan
perlengkapan perang. Mulai dari beraneka jenis senjata, pedang, tompak, busur
beserta anak panah, tameng atau perisau, baju zirah atau baju perang, sepatu
alas kaki, dan lain sebagainya.
 
Menurut catatan sejarah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW mempunyai juga
peralatan dan perlengkapan perang seperti yang disebut diatas. 
 
Seperti misalnya, beliau mempunyai beberapa buah pedang, busur beserta
anak panahnya, baju zirah atau baju perang, sepatu alas kaki, dan lain
sebagainya.
 
Rasulullah SAW memiliki 3 busur panah, Rauha’, dan Sauhath, serta si
Kuning. Di sebut si Kuning karena busur panah itu berwarna kuning.
 
Berkait dengan pedang, beliau disebutkan mempunyai 9 buah pedang.
Beragam pedang itu beliau dapatkan dari warisan, hibah, maupun juga dari
pampasan perang. Peadng-pedang beliau Nabi SAW itu, sebagai berikut :
 
 
1. Pedang
Al-Ma’thur.
 
Pedang ini merupakan warisan dari ayahanda beliau, Abdullah bin Abdul
Muthalib.
 
Pedang Al-Ma’thur atau Ma’thur al-Fijar ini berbentuk blade dengan
panjang 99 cm. Pegangannya terbuat dari emas dengan bentuk berupa menyerupai
ular dan dihiasi dengan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat
Kufic ukiran tulisan huruf Arab yang berbunyi ‘Abdallah bin Abd al-Mutalib’.
 
Pedang ini yang menyertai perjalanan hijrah beliau dari Makkah menuju
ke Madinah. Pedang ini di kemudian hari bersama dengan beberapa perang lainnya
diberikan beliau kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
 
 
2. Pedang
Qal’i.
 
Pedang Qal’i atau Qul’ay yang juga dapat berarti tin atau timah putih.
Nama pedang ini juga kemungkinan erat kaitan hubungannya dengan nama suatu
tempat di Syriaatau di Indiadekat
Cina.
 
Pedang berdesain menyerupai gelombang dengan panjang 100 cm ini didekat
pegangannya terdapat tulisan dalam bahasa arab Pedang ‘Ini adalah pedang mulia
dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah’.
 
Pedang ini diketemukan oleh kakeknya Kanjeng Nabi Muhammad SAW saat
beliau membuka mata air zamzam di Makkah.
 
 
3. Pedang
Al-Qadib.
 
Pedang Al-Qadib berupa pedang ringan yang panjangnya 100 cm, berbentuk
blade tipis menyerupai batang tipis sehingga bisa dikatakan mirip dengan
tongkat.
 
Pedang berwarna silver yang disisinya tertuliskan ukiran kalimat ‘Tidak
ada berhala tetapi Allah, Muhammad adalah utusan Allah—Muhammad b. Abdallah b.
Abd. Al-Muttalib’ ini bersarungkan kulit hewan yang dicelup.
 
Pedang ini tak pernah beliau gunakan di peperangan, hanya selalu berada
di rumah kediaman Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
 
Keguanan pedang hanya untuk pertahanan atau persahabatan saat beliau
berpergian saja.
 
Di kemudian hari, pedang ini digunakan oleh khalifah Fatimid.
 
 
4. Pedang
Al-Rasub.
 
Pedang Al-Rasub ini juga merupakan pedang yang selalu ada di rumah
kediaman Rasullullah SAW.
 
Karena hal yang demikian, maka ada juga yang menyebutnya sebagai pedang
rumah Rasulullah untuk menjaga keluarga beliau, seperti layaknya bahtera (Ark) 
yang disimpan oleh bangsa Israel.
 
Pedang berbentuk blade dengan panjang 140 cm itu mempunyai bulatan emas
yang didalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi ‘Ja’far al-Sadiq’.
 
 
5. Pedang Al-Mikhdham.
 
Pedang ini panjangnya 97 cm dan terpahat ukiran tulisan Arab yang
berbunyi ‘Zayn al-Din al-Abidin’.
 
Pedang ini oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW di kemudian hari diberikan
kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra, selanjutnya diwariskan turun temurun ke
anak cucu keturunannya Sayyidina Ali ra.
 
 
6. Pedang Dhu
Al-Faqar.
 
Pedang Dhu al-Faqar atau juga disebut dengan nama Dzulfikar ini
berbentuk blade dengan dua mata pedang. Pedang ini beliau dapatkan dari hasil
pampasan perang pada saat perang Badar.
 
Pada perang Uhud, pedang ini diberikan oleh Rasulullah SAW kepada
Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra. Seusai perang, pedang ini dalam keadaan yang
bersimbah darah, dikembalikan kepada Nabi SAW.
 
 
7. Pedang
Al-’Adb.
 
Nama Al-’Adb mempunyai arti memotong atau tajam. Pedang ini beliau
gunakan sewaktu perang Uhud.
 
Pedang ini dikirim ke para sahabat beliau sesaat sebelum Perang Badar
untuk menunjukkan kesetiaan mereka kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
 
 
8. Pedang
Al-Battar.
 
Pedang Al-Battar yang merupakan pampasan perang dari Bani Qaynuqa ini
berbentuk blade dengan panjang 101 cm.
 
Pedang yang mempunyai sejarah panjang ini disebut sebagai ‘Pedangnya
para Nabi‘.
 
Pedang yang terdapat gambar Nabi Daud as ketika memotong kepala kepala
Namrud yang merupakan pemilik asli pedang ini, berukirkan tulisan Arab yang
berbunyi ‘Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi
Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW’.
 
Konon, banyak kalangan meyakini bahwa Pedang al-Battar inilah yang
kelak akan digunakan Nabi Isa AS ketika diturunkan ke bumi lagi untuk
mengalahkan Dajjal.
 
 
9. Pedang Hatf.
 
Pedang Hatf yang merupakan pampasan perang dari Bani Qaynuqa ini
berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm.
 
Pedang ini bersejarah panjang. Nabi Daud as, mengambil pedangnya
al-Batar dari tangan Namrud sebagai harta rampasan ketika beliu mengalahkannya.
Saat itu umur beliau kurang dari 20 tahun. Allah SWT lalu memberikan mu’jizat
kepada Nabi Daud berupa kemampuan untuk membuat senjata, tameng dan peralaan
perang dari besi.
 
Kemudian beliau, Nabi Daud as, membuat pedang yang dinamai Hatf, sebuah
pedang yang menyerupai al-Battar tetapi berdimensi lebih besar.
 
Nabi Daud as menggunakan pedang ini sampai wafat, yang kemudian pedang
itu dirawat oleh suku Levitar, salah satu suku bangsa Israel.
 
Setelahnya itu, pedang Hatf itu akhirnya sampai ke tangan Sayyidina
Muhammad Rasulullah SAW.
 
 
Pedang-pedang itu, saat ini, sebagian besar tersimpan di museum
Topkapi, Istanbul Turki. Sebagian juga ada yang tersimpan di museum cairoMesir, 
dan beberapa
tempat lainnya.
 
 
Beberapa buah pedang Rasulullah SAW tersebut beserta dengan
perlengkapannya yang lainnya, beberapa saat yang lalu di bulan September 2009,
dipamerkan di Convention Hall Sunsity Mall, Sidoarjo, Jawa Timur.
 
Pameran bertema ‘The Greatest Sword of Prophet Muhammad SAW’ yang
disponsori oleh Kedubes Turki itu selain memajang 6 buah pedang Rasulullah SAW,
juga memajang busur panah milik Rasulullah SAW yang selalu digunakan beliau
saat peperangan.
 
Busur panah yang terbuat dari bambu itu merupakan hadiah bagi Baginda
Nabi SAW dari salah satu kaisar di China.
 
Disamping itu juga dipajang sandal alas kaki yang digunakan Rasulullah
SAW saat perang Badar. Juga tongkat yang digunakan beliau saat berkhotbah.
Serta blue screen atau replika cetakan telapak kakinya Kanjeng Nabi Muhammad
SAW yang diambil dari Masjidil Aqhsa di Jerusalem.
 
Saat ini, masih atas sponsor Kedubes Turki, diadakan pameran serupa
yang diselenggarakan di hall utama Blok M Square, Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan.
 
Pameran direncanakan akan berlangsung sampai dengan tanggal 23 Februari
2010.
 
Selama pameran juga diputarkan film berdurasi pendek, sekitar 10 menit,
yang berisi tentang sejarah Salahuddin Al-Ayubi.
 
Salahuddin Al-Ayubi adalah salah satu pahlawan Islam yang berjasa besar
dalam menyebarkan Islam sampai ke Eropa.
 
Akan tetapi sangat disayangkan, pengunjung pameran tidak diperkenankan
mengambil gambar tanpa izin khusus dari pihak panita.
 
Namun sebagai obat kekecewaan, pengunjung diperbolehkan berfoto dengan
background pedang Al Ma’thur dan Al Qadib.
 
Sungguh suatu pameran yang boleh dibilang cukup langka yang
diselenggarakan di Indonesia.
 
Tentunya, bagi kaum Muslimin, pameran ini dapat menjadi wasilah untuk
mengenal lebih dekat lagi kepada Junjungannya, Sayyidina Muhammad Rasulullah
SAW.
 
Perlu diingat, jas merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Karena dengan mempelajari sejarah perjuangan dakwah Rasulullah SAW itu berarti
kaum Muslimin dapat mengingat kembali betapa sosok manusia paling mulia dan
paling sempurna yang pernah diciptakan Allah SWT di muka bumi ini, Sayyidina
Muhammad Rasulullah SAW, adalah pribadi yang sopan dan santun serta lemah
lembut dalam berdakwah. Namun juga dapat bertindak sedemikian keras terhadap
kafir harbi yang merupakan musuh Islam dan musuh Allah SWT.
 
 
Akhirulkalam, sudahkah hari
ini kita berkirim salam dan sholawat atas junjungan kita Sayyidina Muhammad
Rasulullah SAW ?.
 
 
Wallahualambishshawab.
 
 
*
Artikel lainnya :
‘Apa Kabar pak Tifatul Sembiring
?’, klik di sini .
‘Selamat datang Israel’,
klik di sini .
‘Miss Serambi Mekkah dan Benturan
antar Peradaban Dunia”, klik di sini .
 
*
Pameran Pedang
Rasulullah SAW
http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/03/pameran-pedang-rasulullah-saw/
*


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke