Refleksi : Pepatah Melayu kuno mengatakan :" Raja adil raja disembah, raja 
lalim raja disanggah",   

http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/34267/presiden-apakah-unjuk-rasa-harus-seperti-itu


Presiden: Apakah Unjuk Rasa Harus Seperti Itu?
Rabu, 3 Februari 2010 | 07:55 WITA

CIPANAS, RABU - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan para menteri 
kabinet dan gubernur dari semua provinsi di Indonesia untuk membahas cara unjuk 
rasa pada 28 Januari 2010.

"Tolong dibahas dan diberi masukan, apakah unjuk rasa beberapa hari lalu di 
negara Pancasila, yang konon memiliki budaya, nilai, dan peradaban yang baik, 
harus seperti itu?" ujarnya saat memberikan pengantar pada pembukaan rapat 
kerja semua menteri dan para gubernur se-Indonesia di Istana Kepresidenan di 
Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Selasa (2/2/2010).

Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pembahasan soal itu dilakukan agar 
demokrasi, budaya, dan peradaban di Indonesia bisa diselamatkan sebab dunia 
menyaksikan unjuk rasa itu dengan teknologi canggih yang dimiliki mereka.

"Pembahasan itu bukan untuk memasung demokrasi karena demokrasi itu bagian dari 
reformasi kita, cita-cita kita. Akan tetapi, buatlah demokrasi yang 
bermartabat, demokrasi yang tertib, dan demokrasi yang mendorong kebersamaan 
dan kesatuan kita," tuturnya.

Presiden mengatakan memahami unjuk rasa itu. "Akan tetapi, banyak orang yang 
memberikan masukan yang menggelitik, 'Pak SBY apa, ya, cocok dengan loudspeaker 
yang keras lalu berteriak-teriak SBY maling, Boediono maling, dan menteri 
maling'. Dan, (mereka) tidak bisa diapa- apakan," katanya.

"Ada yang bawa kerbau, 'SBY badannya besar, malas dan bodoh seperti kerbau'. 
Apa itu ekspresi kebebasan dan demokrasi. Juga foto yang diinjak-injak dan 
dibakar di mana-mana dan di daerah lain," ungkapnya lagi.

Ia berharap pembahasan rapat dilakukan terhadap kondisi keamanan dan keamanan 
publik agar pembangunan dapat berjalan dengan baik.

Saat memberikan pengarahan, hadir semua menteri, gubernur, staf khusus 
Presiden, dan sebagian Dewan Pertimbangan Presiden serta pimpinan lembaga 
pemerintah nondepartemen lainnya, seperti Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional 
Muladi, Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri, 
Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, Jaksa Agung Hendarman Supanji, dan 
penjabat Gubernur Bank Indonesia (BI), yaitu Deputi Gubernur Senior BI Darmin 
Nasution.

Adapun Pejabat Pelaksana Tugas Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 
Tumpak Hatorangan Panggabean sempat hadir sebelum acara. Namun, setelah 
Presiden membuka rapat, Tumpak tak terlihat lagi.

Berbagai reaksi

Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah 
Azyumardi Azra di Jakarta, kemarin, mengatakan, keluhan SBY atas ulah peserta 
unjuk rasa pada 28 Januari lalu justru bisa memicu tidak stabilnya politik 
nasional. Azyumardi berharap SBY sebaiknya tidak mengumbar keluhan atas 
tindakan yang menyudutkannya kepada publik.

"Pemimpin, dalam level apa pun, tidak boleh sering mengeluh. Itu tantangan 
menjadi pemimpin. Kalau pemimpinnya mengeluh, bagaimana rakyatnya," katanya.

"Demonstrasi dengan membawa kerbau yang ditulisi SBY itu memang tidak pantas. 
Tetapi, kalau hal itu dijadikan tema pokok dari pernyataan Presiden, hal itu 
juga tidak pas dalam posisinya sebagai pemimpin negara," ujarnya.

Azyumardi mengakui, sebagai manusia, wajar jika Presiden mengeluh. Namun, 
keluhan itu seharusnya cukup disampaikan kepada orang-orang terdekatnya secara 
tertutup, tidak diumbar kepada publik. Keluarga dan orang-orang terdekat 
Presiden harus berani mengingatkan sikap Yudhoyono yang sebenarnya merugikan 
dirinya sendiri itu.

Keluhan SBY selama ini dijadikan alat untuk menarik simpati publik atas dirinya 
sebagai orang yang dizalimi. Namun, menurut Azyumardi, cara itu hanya efektif 
dalam beberapa kesempatan saja. Jika keluhan itu dilakukan berulang-ulang, yang 
muncul bukanlah simpati, tetapi justru cibiran publik.

Guyonan politik

Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ikrar Nusa Bhakti, kemarin 
di Bandung, mengatakan bahwa SBY sebaiknya tidak terlalu banyak atau sering 
berkeluh kesah. Sebagai seorang pemimpin dia harus mampu menunjukkan dirinya 
sosok, yang tidak saja sekadar pekerja keras, melainkan juga tahan banting.

"Tidak selamanya kerbau identik dengan hal-hal buruk. Seperti di Kyoto, Jepang, 
ada kuil kerbau karena di sana hewan itu simbol ilmu pengetahuan. Sementara di 
sini, kerbau adalah hewan bertenaga besar yang sangat berguna untuk membajak 
sawah," ujar Ikrar.

Ikrar berharap SBY menganggap apa yang dilakukan para demonstran dan mahasiswa 
dalam aksi-aksi unjuk rasa tersebut sekadar guyonan politik.

"Jangan sampai masyarakat berpikir, lho kok presidenku begitu.... Padahal, cuma 
dikritik oleh mahasiswa. Kesannya jadi seperti hal yang luar biasa 
sampai-sampai presiden sendiri langsung mengomentari," ujar Ikrar.








[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke