Refleksi: Makrin kritis, tetapi tidak ada yang bertanggung jawab, berarti kritis abadi.
http://www.sinarharapan.co.id/cetak-sinar/berita/read/tanggul-lumpur-sidoarjo-makin-kritis/ Kamis, 04 Pebruari 2010 14:48 Tanggul Lumpur Sidoarjo Makin Kritis Sidoarjo - Hujan yang mengguyur hampir setiap hari membuat tanggul lumpur Sidoarjo yang sudah ada semakin kritis. Pembangunan tanggul lumpur baru masih menuai protes, karena tanggul yang dibangun di Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin tersebut berada di atas tanah yang belum dibayar oleh PT Minarak Lapindo Jaya. Bahkan, sejak akhir Januari 2010 lalu, Badan Pelaksana Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (Bapel BPLS) mengalirkan lumpur ke tanah tersebut melalui sudetan untuk mengurangi akumulasi lumpur yang terus memenuhi tanggul yang telah ada. Menurut Humas BPLS Ahmad Zulkarnain, pengaliran lumpur ke tempat penampungan lumpur yang berbatasan dengan permukiman warga Kedungbendo, benar-benar merupakan tuntutan kondisi. Sebab, jika lumpur dari pusat semburan yang cenderung mengalir ke barat dan utara itu tidak segera dilarikan, akan mengancam Jalan Raya Porong. "Bagaimana lagi? Tanggul yang sudah ada sudah tidak mampu lagi menampung semburan lumpur plus air hujan. Kalau ini dibiarkan, lumpur akan meluber sekaligus mengikis tanggul. Akibatnya, luberan lumpur akan menggenangi rel kereta api dan jalan arteri Porong yang kini menjadi jalan utama dari Surabaya menuju Malang dan Banyuwangi," tutur Zulkarnain, Rabu (3/2). Tanggul baru yang dibangun tersebut terletak tepat pada perbatasan Desa Kedungbendo dan Ketapang, Kecamatan Tanggulangin. Sebenarnya, wilayah Desa Kedungbendo sejak 22 Maret 2007 lalu sudah masuk dalam peta area terdampak. Sesuai dengan Perpres 14/2007, dalam area terdampak dilakukan jual beli atas tanah dan bangunan antara warga dan PT Minarak Lapindo Jaya. Sementara itu, H Hasan, mantan Kepala Desa Kedungbendo, menyatakan, masih lebih dari 100 warga Kedungbendo yang belum menerima proses transaksi jual beli atas tanah dan bangunan mereka. Oleh karena itu, sekitar 22 rumah yang masih dihuni, dan mereka masih bertahan di rumah mereka meski dalam kondisi yang cukup berbahaya. Ia menambahkan, sebenarnya berkas atas tanah dan bangunan warga tersebut sudah diurus sejak tiga tahun lalu. Tetapi, hingga saat ini belum dilakukan transaksi jual beli atas tanah dan bangunan mereka. Hasan mengungkapkan, seharusnya BPLS tidak terus memperluas tanggul, tetapi melakukan pengaliran lumpur ke laut melalui Sungai Porong. Sebab, pada musim hujan seperti ini, sebenarnya sangat efektif mengalirkan lumpur ke Sungai Porong, karena arus deras Sungai Porong akan cepat membawa lumpur hingga ke muara. (chusnun hadi) [Non-text portions of this message have been removed]

