Refleksi : Sebagai anak buah Pak Harto tentu saja SBY sudah banyak diajar:  Pak 
Harto terkenal  sebagai alagojo pembunuh sejuta lebih manusia, ketika naik 
tahta kekuasaan. SBY juga tidak kalah. Buktinya SBY mendukung pengiriman Laskar 
Jihat ke Indonesia Timur. Akibat dukungannya itu puluhan rakyat disana melayang 
jiwa mereka. Kerugian harta pun tak sedikit nilainya. 

Kalau SBY perlu lagi banyak berlajar dari Pak Harto, tidak ada jalan lain 
daripada  turut ke tempat Pak Harto bersemayam.   
  

http://nasional.kompas.com/read/2010/02/06/14454939/SBY.Perlu.Banyak.Belajar.dari.Soeharto


SBY Perlu Banyak Belajar dari Soeharto
Sabtu, 6 Februari 2010 | 14:45 WIB

Persda/Bian Harnansa
Seorang gadis melintas di depan dinding berhias wajah mantan Presiden Soeharto, 
diperempatan lampu-merah Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (17/1). 

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai perlu banyak 
belajar mengenai komunikasi politik dari mantan Presiden Soeharto. Sikap SBY 
yang cenderung mengabaikan persoalan politik yang mengemuka dan bicara pada isu 
tidak penting dianggap sebagai kegagalan SBY menjadi komunikator politik.

"SBY mesti banyak belajar dari Soeharto soal komunikasi politik, yaitu cool, 
tenang. Tapi pada suatu saat dia berbicara, berbobot sekali," kata Tjipta 
seusai sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2/2010).

Pengajar di Universitas Pelita Harapan ini menilai, apa yang disampaikan 
Presiden SBY dalam beberapa pidatonya kerap kali hanya hal-hal yang sifatnya 
umum dan tidak menyentuh substansi persoalan.

Beberapa kali, sebutnya, SBY justru menanggapi persoalan yang seharusnya tidak 
ditanggapi oleh presiden, termasuk aksi unjuk rasa yang menampilkan kerbau 
beberapa waktu lalu. "Jangan setiap kali ini ngomong seperti anak kecil. Jadi 
komplain melulu," ujarnya.

Pernyataan SBY mengenai wacana pemakzulan pun dinilai Tjipta tidak tepat. Ia 
mengingatkan, sesuai dengan konstitusi, SBY tetap bisa dimakzulkan. "Anytime 
SBY bisa saja ditendang, cuma sekarang susah memang memakzulkan presiden karena 
ada MK, tapi secara teoretis bisa," katanya.

++++
http://nasional.kompas.com/read/2010/02/06/11361669/Tjipta:.SBY.Mestinya.Bangga.Dianalogikan.Kerbau


Tjipta: SBY Mestinya Bangga Dianalogikan Kerbau
Sabtu, 6 Februari 2010 | 11:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Polemik seputar aksi unjuk rasa yang menampilkan seekor 
kerbau pada peringatan 100 hari pemerintahan SBY-Boediono yang lalu masih belum 
berakhir. Sikap Presiden SBY yang mengeluhkan etika para demonstran yang 
dianggapnya telah menganalogikan dirinya sebagai kerbau mendapat tanggapan pro 
dan kontra di banyak kalangan masyarakat.

Pengamat komunikasi politik Prof Tjipta Lesmana memandang dari segi lain. Dari 
sisi mitologi mengenai hewan kerbau yang berkembang di daratan China, Tjipta 
mengatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mestinya bangga jika 
dianalogikan sebagai kerbau.

Ia menceritakan, seusai mendengar pidato presiden terkait aksi demo tersebut, 
ia pun menelepon seorang biksu untuk menanyakan apa sebenarnya makna dari 
seekor kerbau itu. "Dan ternyata, SBY harusnya bangga kalau dikatakan kerbau 
karena, dalam mitologi China, kerbau itu adalah hewan yang paling tangguh, 
pekerja keras. Tidak ada hewan yang pekerja keras lainnya seperti kerbau," kata 
Prof Tjipta dalam sebuah acara diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 
(6/1/2010).

Demikian pula dalam kisah-kisah Jawa. Menurutnya, banyak cerita yang 
menggambarkan kerbau sebagai hewan yang memiliki kekuatan dan sulit untuk 
dikalahkan. "Makanya, tidak ada alasan untuk merespons itu sebagai hal yang 
negatif," ujarnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi I DPR Ramadhan Pohan 
memberikan pandangan yang berbeda. Politisi Demokrat ini menilai sikap Presiden 
sudah tepat dan menyampaikan apa yang memang perlu disampaikan.

Presiden, kata Ramadhan, tidak melakukan tindakan represif yang berlebihan 
tetapi justru demokratis dengan mempertanyakan kepantasan aksi unjuk rasa 
seperti itu. "Presiden hanya mengatakan rambu-rambu yang sudah dikatakan oleh 
agamawan dan budayawan. Kitalah yang harus perhatikan etika," ujarnya.










[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke