http://www.gatra.com/artikel.php?id=134655

Proyek Kanal Timur
Mengurangi Ancaman Banjir Jakarta


Bruk! Dua tanggul kokoh itu jebol. Air pun mengalir deras ke arah laut. 
Pembobolan tanggul di kawasan Pintu Air Marunda, Jakarta Utara, 31 Desember 
lalu, itu menjadi pertanda tembusnya proyek pembangunan Kanal Banjir Timur.

"Akhirnya air mengalir jauh ke laut. Proyek Kanal Timur sudah bisa digunakan 
sesuai dengan jadwal yang ditentukan, awal 2010," kata Gubernur DKI Jakarta, 
Fauzi Bowo, yang punya "panggilan dinas" Bang Foke itu. Ia dan sebagian besar 
pejabat teras DKI Jakarta patut menghela napas lega. Betapa tidak, inilah salah 
satu proyek nasional berumur panjang: memerlukan hampir empat dasarwarsa untuk 
diselesaikan.

Proyek Kanal Banjir Timur dicanangkan sejak 1973, mengacu pada masterplan 
buatan Netherlands Engineering Consultants (Nedeco). Rancangan ini didetailkan 
lagi lewat desain Nippon Koei dan Japan International Corporation Agency pada 
1997. Namun penggalian kanal pertama kali baru dimulai pada 2003.

Ketika Fauzi Bowo memegang tampuk pimpinan, proyek Kanal Banjir Timur pun 
dikebut. Apalagi, ketika melakukan kampanye pemilihan Gubernur DKI dulu, Fauzi 
pernah melempar janji: "Serahkan masalah banjir pada ahlinya". Menjelang 
pergantian tahun, Kanal Banjir Timur memang telah mencapai laut.

Total biaya yang dihabiskan, sejauh ini, mencapai Rp 4,9 trilyun. Umumnya 
digunakan untuk biaya konstruksi dan pembebasan lahan. Kanal sepanjang 23,5 
kilometer itu dimulai di Kelurahan Cipinang Besar, membelah kawasan timur 
Jakarta ke arah utara, hingga berakhir ke laut di kawasan Kelurahan Marunda, 
Jakarta Utara.

Toh, Fauzi mengaku, proyek antisipasi banjir itu memang jauh dari sempurna. 
Masih ada sejumlah titik di sepanjang jalur Kanal Banjir Timur yang belum 
sempurna. Misalnya, target lebar badan kanal yang seharusnya 75 meter belum 
tercapai. "Memang belum optimal karena masih ada yang dalam tahap pekerjaan. 
Namun dipastikan selesai dalam waktu dekat," kata Pitoyo Subandrio, Kepala 
Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane.

Kanal Banjir Timur, menurut Pitoyo, akan menjadi pelengkap berbagai proyek 
pencegah banjir yang telah ada. Maklum, bicara soal banjir, Jakarta memang 
menjadi biangnya sejak dahulu kala. Banjir bandang Jakarta direkam sejarah 
terjadi sejak 1614. "Kemudian banjir datang lagi ketika terjadi perubahan 
lahan. Belanda mengubah lahan kebun karet di kawasan Puncak dengan perkebunan 
teh pada 1920-an," tutur Pitoyo.

Untuk mencegah banjir, ketika itu pemerintah kolonial Belanda membangun kanal 
yang kelak dikenal sebagai Kanal Banjir Barat. Saluran banjir ini membentang 
dari Kelurahan Manggarai hingga kawasan Muara Angke sepanjang 18,5 kilometer. 
Sebelumnya, Kanal Banjir Barat itulah yang selama ini bersusah payah meredam 
banjir bandang Jakarta. Toh, kemampuannya terbatas karena hanya bisa 
menaklukkan air bah sampai 370 meter kubik per detik.

Nah, Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur akan berpasangan, bahu-membahu 
mencegah banjir tahunan Jakarta. Kanal Banjir Timur didesain untuk menjaga lima 
daerah aliran sungai yang mengalir di Jakarta. Yakni Sungai Cipinang, Sunter, 
Buaran, Jatikramat, dan Cakung. "Jadi, lima aliran sungai yang dulunya bermuara 
di laut, sekarang ditampung semua di Kanal Timur," kata Pitoyo.

Dibandingkan dengan Kanal Banjir Barat, Kanal Banjir Timur memang mempunyai 
daya tampung lebih besar, dengan debit air hingga 390 meter kubik per detik. 
Selain itu, Kanal Banjir Timur juga dilengkapi dengan sistem kolam sedimen 
berukuran 300 x 350 meter di kawasan Ujung Menteng. "Ini berguna untuk 
menangkap sedimen agar badan kanal tetap leluasa," kata Pitoyo.

Dengan kehadiran Kanal Banjir Timur, apakah persoalan banjir bandang di Ibu 
Kota tuntas? Belum tentu. Sebab, menurut Pitoyo, banjir di kawasan yang 
dilewati Kanal Banjir Timur memang akan berkurang, tapi hanya 25%-30%.

Misalnya, kalau dulu banjir hingga mencapai dada, sekarang hanya sebatas mata 
kaki. Sekarang banjirnya juga hanya sebentar, tak sampai sehari atau dua hari. 
"Tetapi ini tak berarti sama sekali bebas banjir. Soalnya, banjir yang datang 
bisa lebih dari daya tampung Kanal Banjir Timur," ujar Pitoyo.

Contohnya, Kanal Banjir Timur belum tentu dapat mengusir banjir secara optimal 
di lingkungan Bidara Cina dan Kampung Melayu, Jakarta Timur. "Soalnya, sistem 
air di sana tidak terkait dengan Kanal Timur, tetapi berhubungan langsung 
dengan Sungai Ciliwung," tutur Pitoyo.

Bahkan kadang-kadang, tak ada angin tak ada hujan, air bah tetap rajin datang 
berkunjung. Itu gara-gara sistem pelimpasan air yang amburadul, sehingga banyak 
air yang menggenang. Apalagi, sejumlah wilayah di Jakarta berada lebih rendah 
dari ketinggian permukaan air laut.

Karena itulah, Pitoyo melanjutkan, mencegah datangnya banjir bisa identik 
dengan mengelola suatu negara. Soalnya, banyak kepentingan yang terlibat. 
"Karena ada batas daerah, penduduk, kondisi sosial, dan lingkungan. Ada 
undang-undang dan peraturan yang harus ditaati," katanya.

Pakar lingkungan dan drainase dari Universitas Indonesia, Elkhobar M. Nazech, 
setuju dengan pendapat itu. Proyek Kanal Banjir Timur bisa jadi tak banyak 
gunanya jika kebijakan penanggulangannya hanya sebagian dan masyarakat tetap 
tak peduli lingkungan. Salah satunya, ya, soal drainase perkotaan tadi. 
Berdasarkan pantauan Elkhohar, masih banyak saluran air yang mampet dan tidak 
terpelihara.

Padahal, salah satu syarat bebas banjir adalah sistem saluran air dan 
penggunaan lahan yang baik. Menurut Elkhobar, banjir Jakarta terjadi karena 
tiga hal. Pertama, meluapnya sungai-sungai yang melintasi Ibu Kota. "Setidaknya 
ada 13 sungai di Jakarta yang harus dipelihara agar tetap baik. Jika badannya 
semakin sempit, tak dapat menampung air yang masuk," ujarnya kepada Lufti 
Avianto dari Gatra.

Penyebab kedua, dalam kondisi tertentu, air pasang laut dapat merambah sebagian 
wilayah Jakarta karena memang berada di bawah permukaan laut. Ketiga, sistem 
drainase perkotaan yang buruk, sehingga pada saat curah hujan tinggi, air 
meluap.

Perawatan sistem drainase memang rutin dilakukan. Terakhir kali, Pemda DKI 
melakukan rehabilitasi dan berhasil mengangkat 1,5 juta kubik endapan lumpur 
dari 64 saluran air dan anak sungai di lima wilayah Jakarta. Biaya yang 
dihabiskan mencapai Rp 195 milyar. Tapi sedimen dan perambahan lahan bantaran 
sungai seakan tak pernah habis.

Jika kondisi itu dibiarkan, ujung-ujungnya sumber air bersih semakin menyusut. 
"Pada saat ini, Jakarta sudah miskin air bersih. Dari Sungai Ciliwung saja 
tinggal 2,5 kubik per detik. Sumber air bersih dari Sungai Cipinang, Sunter, 
dan yang lainnya lebih banyak bercampur dengan limbah kamar mandi dan dapur," 
kata Pitoyo. Bersyukurlah, Jakarta masih memiliki Waduk Jatiluhur sebagai 
sumber air bersih.

Ampuh atau tidaknya Kanal Banjir Timur nanti bakal terlihat ketika banjir 
melanda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMG), bersama Dirjen 
Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum, serta Badan Koordinasi Survei dan 
Pemetaan Nasional, meramalkan bahwa ancaman banjir menguat sejak Desember lalu 
hingga Februari mendatang.

Lihat saja hasil pengamatan Kepala Laboratorium Sistem Kebumian dan Mitigasi 
Bencana BPPT, Fadli Syamsudin. Menurut Fadli, pada saat ini terdapat gumpalan 
massa atau awan dingin (cold surge) yang berada di laut Cina Selatan. "Cold 
surge ini merupakan massa udara dingin yang terbawa oleh sirkulasi angin 
utara-selatan (meredional)," kata Fadli.

Itu terjadi karena perbedaan tekanan udara di kawasan Siberia, yang kemudian 
mengalir ke arah khatulistiwa. "Tepatnya, ia akan berarak ke selatan melalui 
pesisir utara Pulau Jawa," kata Fadli lagi.

Kenapa awan dingin ini menjadi penting? Menurut Fadli, gumpalan ini menjadi 
salah satu biang terjadinya banjir bandang di Jakarta. "Waktu banjir besar di 
Jakarta pada 2007, cold surge itu juga terdeteksi," katanya.

Selain awan dingin, masih ada tiga faktor lainnya yang ikut berpengaruh, yakni 
fenomena El Nino dan La Nina, kondisi cuaca lokal Jakarta, serta fenomena 
"Madden-Julian Oscillation". Ini gangguan atmosfer dalam bentuk osilasi 
gelombang yang mengalir dari barat ke timur dalam periode 30-50 hari.

Faktor El Nino dan La Nina, kata Fadli, memang kurang berpengaruh. "Tetapi 
faktor lainnya sangat berpengaruh," katanya. Memang masih ada masalah "banjir 
kiriman" dari kawasan Bogor dan sekitarnya. "Faktor kiriman ini memang ada, 
tetapi pengaruhnya kira-kira 40% saja," tuturnya. Selebihnya karena empat 
faktor tadi, termasuk kehadiran awan dingin.

Pertanyaannya kemudian, sejauh mana peluang awan dingin itu menyerbu kawasan 
Nusantara? Menurut Fadli, perilaku mereka bisa dilihat dari kondisi cuaca di 
kawasan Asia, seperti di Hong Kong atau Taiwan. "Melihat pengalaman banjir 
bandang 2007, sepekan sebelumnya awan dingin itu berada di Hong Kong dan 
menurunkan hujan salju di sana," katanya. Namun Fadli mengaku memerlukan waktu 
sepekan atau dua pekan lagi untuk menentukan apakah awan dingin itu telah 
mendekati wilayah Indonesia.

Menurut pantauan Kepala Sub-Bidang Peringatan Cuaca Dini Ekstrem BMG, Kukuh 
Ribudiyanto, kondisi awan dingin memang masih lemah. "Jadi. bisa dibilang, 
hingga pekan ini ada jeda. Hanya wilayah tengah dan timur Indonesia yang 
relatif banyak hujan," ujar Kukuh.

Tetapi, baik Kukuh maupun Fadli tetap yakin, banjir masih tetap mengancam 
Jakarta. "Saya tidak bisa bilang ancamannya kongkret karena ini kan cuaca. 
Istilah yang tepat adalah 'ancamannya makin meningkat'," kata Fadli.

Bagi Kukuh, proses jeda pada saat ini bisa jadi mengulang pola kejadian banjir 
2007. "Dulu banjir 2007 juga begini. Hujan berhenti sebentar, cuma hujan 
rintik-rintik, lalu besoknya mak jeder, banjir bandang," ungkap Kukuh.

Nur Hidayat, Mukhlison S. Widodo, dan Basfin Siregar
[Lingkungan, Gatra Nomor 12 Beredar Kamis, 28 Januari 2010] 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke