Posted by: "jonisibuta" [email protected]
Sat Feb 6, 2010 11:27 pm (PST)
(Dikutip dari milis pembaca Kompas):
Dear kawan-kawan pembela hak-hak buruh,
Berikut adalah tulisan seorang teman saya tentang venomena pemberhentian
kariawan indosiar di ulangtahunnya yang ke 15.
Hal yang penting untuk dicatat dalam tulisan ini adalah:
1. Lebih dari 70 orang karyawan dipecat secara serta merta hanya
beberapa saat setelah mereka melakukan demonstrasi tuntutan akan
kesejahteraan mereka.
2. Setidaknya, 9 dari kariawan yang dipecat tersebut merupakan
kelompok karyawan difabel (tunanetra dan difabel fisik).
3. PHK ini dilakukan tanpa pemberitahuan jauh-jauh hari yang artinya
ini dilakukan dengan melanggar kode etik employer serta melanggar
hak buruh..
Semoga bisa ditindak-lanjuti oleh teman-teman media dan pemerhati hak
buruh...
Salam,
Joni (085878469692)
Venomena pemberhentian karyawan di indosiar.
Diusianya yang ke15, indosiar seharusnya berada dalam masa keemasan.
Namun, apa gerangan yang terjadi? Mengapa begitu banyak karyawan yang
diberhentikan?
Semua cerita yang kutulis ini, adalah pengalaman teman dan orang
tersayangku yang bekerja di indosiar, yang juga kini menjadi korban dari
pemberhentian
itu. Diawali dari rasa tidak kepuasan dan kekecewaan para karyawannya,
yang menganngap bahwa indosiar telah berlaku tidak adil pada mereka
karena mereka
merasa dijadikan sapi perah dengan gaji rendah.
Disaat para bos ongkang-ongkang kaki, mereka harus kerja siang dan malam
menghidupi anak dan isteri. Disaat bos asyik makan dan mandi, mereka
harus meregang
nyawa karena kelelahan. Disaat mereka mulai bosan dengan ketidak adilan,
para bos berkata "keadaan sedang genting. Pemasukkan menurun drastis."
lalu, kemanakah
hasil kerja keras para karyawan selama ini? Kemanakah uangnya? Jika
dihitung-hitung dan jika tidak ada penyusutan uang, seharusnya, pada
tahun yang ke15
ini, bencana itu tidak akan menimpa. Uang hasil keringat dan kegigihan
para karyawan, pasti bisa memperbesar indosiar.
Bermula dari rasa tidak kepuasan terhadap ketidak adilan itulah, muncul
gerakan serikat pekerja yang menyematkan nama SEKAR pada dada mereka.
Anehnya,
kalangan bos pun tidak mau kalah. Mereka membentuk serikat kesetia
kawanan yang menyematkan SEKAWAN sebagai nama di jantung mereka.
Mendengar cerita itu,
aku tertawa dalam hati. Kok mereka para borju itu, tidak mau mengalah
dan memahami bahwa mereka mempekerjakan manusia sebagai penopang hidup
mereka. Bahkan,
yang lebih memilukan, ada beberapa manager yang dengan entengnya berkata
"kalau tidak mau bekerja di sini, ya sudah, masih banyak kok orang yang
membutuhkan
pekerjaan.." Heheheh, sebuah kesombongan yang akhirnya aku dengar dari
perjalanan cerita itu.
Memang ada benarnya sih kalau difikir-fikir, tetapi, kemanakah rasa
kemanusiaan mereka? Dimanakah keprofesionalan mereka? Lihat sajalah,
sekarang rating
indosiar berapa? Itu semua berasal dari sebuah kesombongan. Coba bila
mereka mau mengerti akan kemanusiaan dan keprofesionalan dan bukan hanya
uang semata,
mereka akan menjadi besar dan terkenal dan pasti, akan dapat lebih
banyak uang dari yang sekarang mereka dapat.
Lalu, apa sih kerja sekawan? Ya, seperti namanya, mereka sangat setia,
dan menjungjung rasa kesetiaan itu. Namun, itu hanya untuk kalangan
mereka saja,
sebagai tandingan sekar. Orang-orang sekar yang agak-agak haus uang dan
kekuasaan, pasti tergoda iming-iming harta dan benda yang disuguhkan.
Hehehe, andai
kata mereka bersikap adil, pasti semua anggota sekar akan merasakan
kebahagiaan yang luar biasa dan pasti mereka bekerja dengan giat untuk
indosiar.
Nah kawan, siapasih yang tahan berada dalam lingkungan yang selalu
menekan, meliciki, menindas? Pasti tidak ada. Begitulah para anggota
sekar. Segala daya
dan upaya mereka lakukan untuk berjuang menuntut hak-hak mereka. Dari
mulai melobi pihak atasan hingga mengirimi surat pengaduan ke depnaker
yang tentu
saja, susah sampainya. Setiap menghadap pimpinan, sang bos berkata "kita
belum banyak kemajuan. Kita dalam keadaan krisis." Heheh, padahal, sang
bos itu
berfoya-foya dengan uangnya. Dari mana bisa dikatakan krisis, bila sang
atasan banyak yang bisa bermewah-mewah? Sungguh sebuah pemandangan yang
miris.
Yah, Puncak keos pun terjadi, Tahun ini, indosiar berulang tahun yang
ke15, nah, hari bahagia itulah, dijadikan ajang demo para anggota sekar.
Mulai dari
para OB dan CS, security, dan bagian-bagian lain turut meramaikan demo
yang menuntut hak-hak mereka itu yang bila ditotal jumlahnya lebih dari
300 orang.
Nah kawan, inilah saat yang mengejutkan! Ternyata, muncul seorang
tunanetra dalam demo itu, yang dengan gagah dan lantang, turut berorasi
menuntut hak-hak
mereka sebagai pekerja. Sang bos pun berang melihat itu! Pasti para bos
berfikir "malu kita! Pasti media meliput dan indosiar akan jelek
namanya! gara-gara
sang buta itu!" Seusai demo, keesokan harinya, sangng humaspun bergegas
mendatangi mereka. "Ngapain sih kalian ikut demo, kalian bisa
memperburuk nama
kalian sendiri. Sudahlah, kerja yang baik, kan tidak semua perusahaan
menerima orang cacat. Kalau adapun, itu pasti karena kasihan." Miris aku
mendengarnya
kawan..
Keadaan semakin memanas. Rupanya pihak management marah besar dengan
semua itu. Dan, mereka ingin membuktikan ucapan mereka bahwa masih
banyak yang membutuhkan
pekerjaan sekarang ini.
Akhirnya, terjadilah pemecatan itu. Pada tanggal 28-1-2010, sebanyak 71
orang yang merupakan gabungan CS dan beberapa bagian lain diculik dan
dibawa mutar-mutar
dan berhenti di suatu sekolah dan di sekolah itu mereka disuruh
menandatangani surat pengunduran diri. Dalam form itu, disebutkan bahwa
mereka tidak akan
menuntut apa-apa kepada pihak indosiar. Busyet dah! itusih pemaksaan
namanya. Karena dipaksa dan ditekan serta ada polisi yang menguntit,
mereka semua
tidak berdaya dan dengan terpaksa menandatangani semua itu. Dalam rilis
yang diterima detik.com, disebutkan bahwa semua yang di berhentikan itu
adalah
para cleanning service dan mereka telah disalurkan keperusahaan lain.
Padahal, menurut informasi yang aku terima, tidak semua adalah CS.
Memang semua CS
dikumpulkan, namun jumlahnya belum sebanyak itu pada malam itu.
Kesokan harinya, satu demi satu anggota sekar yang pernah ikut demo
maupun tidak, dipreteli satu persatu keberadaannya. Mereka semua diberi
opsi pengunduran
diri dan setengah dipaksa. Walaupun, secara halus dengan dalih
perusahaan krisis. Padahal, menurut informasi yang kudapat, mereka telah
menyiapkan orang-orang
baru yang masih anyar! He! Sungguh keterlaluan.
Pada tanggal 4-2-2010 (hari ini) orang-orang tunanetra yang ikut demo
tadi dan teman-temanya sebanyak 7 orang, dipanggil menghadap dan sama
seperti rekannya
yang lain, mereka pun disodori surat pengunduran diri. Dalam form
tertulis bahwa surat itu ditandatangani atas persetujuan sendiri dan
tanpa adanya paksaan
dari pihak manapun. Padahal, pada kenyataannya, sang manager berkata
"don't miss the chance! Kapan lagi dapat uang buanyak!" Apakah itu bukan
sebuah interfensi?
Lalu, uang yang dibilang banyak itu berapa sih?
uang yang dibilang banyak itu berkisar antara 29 juta hingga 80 juta
untuk lama waktu kerja yang berfariasi. Orang yang sudah bekerja selama
7 tahun,
hanya diberi pesangon rendah yang bila kesemuanya bila ditotal termasuk
uang lain lain dan 4 kali gaji, adalah 30 jutaan. Apakah itu besar?
Lalu, kata-kata don't miss the chance! apakah itu bukan bentuk
pengusiran secara halus? Apakah begini bentuk kompensasi dari menuntut hak?
Aku berharap ada orang yang memperhatikan tulisanku ini dan membawa para
tunanetra dan saksi lain yang terlibat langsung dalam perkara itu
berkumpul dan
turut memperjuangkan hak yang hilang melalui jalur hukum! Tolong mereka
wahai keadilan yang menghilang! Jangan penjarakan hak mereka! Salahkah
mereka jika
menuntut hak dari hasil kerja keras dan keprofesionalan mereka?
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]