Von: Roeslan [mailto:roeslan@ t-online. de] Betreff: RE: [GELORA45] Lagi, SBY Dipertanyakan Soal Sistem Presidensial Makasih responsnya pak Sunny. Jawaban singkat atas pertanyaan yang pak Sunny ajukan . Pada prinsipnya ketidak mampuan SBY dalam memahami secara mendasar arti dari sistem presidensial dan lain-lain yang pak sunny ajukan , semuanya itu disebabkan oleh karena SBY masih bertahan pada polapikir yang sudah kedalu warso, yaitu cara berpikir Cartesian artinya, cara berpikir secara mekanik yang diparkasai oleh Rene Decartes dan Newton pada abad 19 sampai awal abad 20 han. Pemikiran sisitem muncul sekitar abad 20-han yang diparkasai oleh para biolog, yang menekankan pandangan mengenai orgenisme hidup sebagai keseluruhan terpadau, sehingga konsep-konsep ilmu pengetahuan telah mengalami perubahan-perubahan mendalam dalam pandangan dunia kita; dari pandangan dunia mekanik yang berasal dari Rene Decartes dan Newton menjadi suatu pandangan holistik, sisteimik dan ekologi. Rupanya SBY masih bertahan pada pandangan dunia lama mekanik (Cartesian), sehingga dia tidak dapat memahami pemikiran sistem, yang dalam kontek ini adalah sistem presidensial. Seperti apa yang sudah saya utarakan dalam tulisan saya yang terdahulu bahwa: Ilmu pengetahuan sisitemik memperlihatkan bahwa sistem-sistem hidup yang dalam konteks ini adalah sistem kehidupan suatu negera yang menganut sisitem presidensial, tak dapat dimengerti melalui analisis (Cartesian). Ini berarti bahwa sksndal Bank Century yang terjadi dalam pemerintahan yang menganut sistem presidensial tak dapat dimengerti secara analisis (secara parsial), seperti kebijakan SBY yang termanifestasikan dalam cara memandang Sri Mulyani dalam kasus skandal Bank Century yang dipandang secara terpisah ( terisolir) dari Budiono dan dirinya sendiri (SBY) sebagai presiden yang secarta langsung memimpin KIB dalam suatu negara yang menganut faham sistem presidensial. Polapikir SBY seperti itu merupakan cicir khas dari cara pemikiran Cartesian yang sudah kedalu warso. Ini berarti bahwa SBY tidak memahami pemikiran sistem dalam konteks pemeritahan yang menganut sistem presidensial. Yang kita butuhkan adalah seorang pemimpin yang berkesadaran Universal-holistis- sistem, bukan pemimpin yang masih berkesadaran Cartesian, dan koserfatif yang sudah kedaluwarso. Roeslan. Von: gelor...@yahoogroup s.com [mailto:GELORA45@ yahoogroups. Betreff: Re: [GELORA45] Lagi, SBY Dipertanyakan Soal Sistem Presidensial Bagaimana SBY tidak mengerti pemahaman sistem presidensial? Sudah lima tahun menduduki jabatan belum juga memahami? Selain itu, sebagai jenderal patut mengetahui situasi lapangan sebelum dan sewaktu melakukan sesuatu operasi militer, bukankah prosesnya mirip? Apalagi bergelar doktor, punya banyak penasehat bergelar ddoktor, professor dalam dan luarnegeri, ataukah memang presiden sial? ----- Original Message ----- From: Roeslan To: gelor...@yahoogroup s.com ; nasional-list@ yahoogroups. com ; komunitas-tionghoa@ googlegroups. com Cc: Suara-Minoritas@ googlegroups. com Sent: Sunday, February 07, 2010 6:09 PM Subject: [GELORA45] Lagi, SBY Dipertanyakan Soal Sistem Presidensial Boni Hargens kepada Rakyat Merdeka Online mengatakan, saya kutip: Kesalahan mendasar SBY, kata Boni, adalah tidak mengerti masalah pemahaman sistem presidensial. Dalam konsep presidensial, lanjutnya, diatur bahwa Presiden bertindak sebagai kepala pemerintahan dan menteri sebagai pembantunya. "Lalu bagaimana mungkin permasalahan Century hanya diselesaikan secara parsial saja, hanya Sri Mulyani yang dipersalahkan," ujarnya (Kutipan selesai,huruf Kursuf darau saya). Komentar: Pernyataan Boni Hargens sepenuhnya dapat dibenarkan, karena SBY memang tidak mengerti secara mendasar tentang cara pemikiran sistem, ini tercermin dalam sikap Presiden SBY dalam menyikapi permasalahan sksandal Bank Cetury yang diselesaikan secara makanisme Cartesian, yaitu penyelesaian dengan cara parsial, yang hanya menyalahkan Sri Mulyani, sedangan Boediono dan dirinya sendiri tidak dilibatkan dalam kesalahn itu. Padahal dalam konteks skandal Bank Century dalam negara yang menganut sisitem presidensial, yang dihadapi adalah masalah yang termasuk ketegori sistem, yaitu sistem pemerintahan presidensial, jadi seharusnya dalam menerima dam menaggapi masalah Century harus menggunakan cara pemikiran sistem. Ada perbedaan secara hakiki antara polapikir mekanistik atau yang biasa disebut polapikir Cartesian, dengan polapikir secara sistem. Dalam perubahan dari pemikiran mekanistik (Cartesian) menjadi pemikiran sistem hubungan diantara bagian-bagian yang dalam konteks ini adalah mentri-mentri pembentu presiden dan keseluruhan yang dalam kontek ini adalah sistem presidensial. Ilmu pengertian Cartesian percaya bahwa dalam sistem yang kompleks apa pun, perilaku keseluruhan dapat dianalisis dalam kerangka sifat-sifat bagian-bagiannya. Dengan pola pikir Cartesian inilah rupanya SBY memahami permasalahan sksndal Bank Centuri yang terjadi dalam kekuasaan negara yang menganut sistem presidesial. Ilmu pengetahuan sisitemik memperlihatkan bahwa sistem-sistem hidup yang dalam konteks ini adalah sistem kehidupan suatu negera yang menganut sisitem presidensial, tak dapat dimengerti melalui analisis. Ini berarti bahwa sksndal Bank Century yang terjadi dalam pemerintahan yang menganut sistem presidensial tak dapat dimengerti secara analisis, seperti kebijakan SBY yang termanifestasikan dalam kebijakan secara parsial yang tercermin dalam kutipan diatas. Secara singakat dapat dikatakan bahwa : Sifat-sifat „sistimik“ yang dalam konteks ini adalah sistem presidensial adalah sifat keseluruhan dari suatu pemerintahan, yang tidak dimiliki satupun oleh bagian-bahgian; sifat-sifat sistem presidensial akan hilang ketika sebuah sistem presidensial di analisis menjadi unsur-unsur parsial yang terisolir. Kebijakan presiden SBY dalam kasus skandal Bank Century yang hanya menyalahkan Sri Mulyani berarti bahwa dalam praktek SBY telah mengingkari adanya sistem presidensial yang berlaku dinegara ini. Roeslan. Lagi, SBY Dipertanyakan Soal Sistem Presidensial Minggu, 07 Februari 2010, 16:47:02 WIB Laporan: Ari Purwanto Jakarta, RMOL. Presiden Susilo Bambang Yydhoyono tidak memiliki pemahaman mendasar pada sistem presidensial. Demikian disampaikan pengamat politik Universitas Indonesia Boni Hargens kepada Rakyat Merdeka Online pada saat acara Syukuran Istana Pembebasan Kabinet Indonesia Muda (KIM) sore ini (Minggu, 7/2). Kesalahan mendasar SBY, kata Boni, adalah tidak mengerti masalah pemahaman sistem presidensial. Dalam konsep presidensial, lanjutnya, diatur bahwa Presiden bertindak sebagai kepala pemerintahan dan menteri sebagai pembantunya. "Lalu bagaimana mungkin permasalahan Century hanya diselesaikan secara parsial saja, hanya Sri Mulyani yang dipersalahkan," ujarnya. Boni menambahkan, seharusnya SBY pasang badan dan bertanggung jawab terhadap kasus Bank Century. Karena Sri Mulyani, tuturnya, pembantu presiden, maka SBY juga harus bertanggung jawab. "Pernyataan Sri Mulyani presiden mengetahui bailout Century harusnya bisa menjadi indentifikasi awal pertanggungjawaban SBY," pungkasnya. [zul] [Non-text portions of this message have been removed]

