----- Forwarded Message ----
8 *KEBOHONGAN* SEORANG IBU DALAM HIDUP
Sony
Chow January 18 at 1:33pm (facebook) [email protected]
(Zabur)22:10-11. Ya, Engkau yg mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang
membuat aku
aman pada dada ibuku... kepada-MU aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam
kandungan ibuku Engkaulah ALLAHku ...
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat
manusia
terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini malahan sebaliknya.
Dengan
adanya *kebohongan* ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru
dapat
membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang
mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling
indah di dunia.
ini ada sebuah cerita kesaksian seorang anak : Cerita bermula ketika aku masih
kecil, aku terlahir sebagai seorang anak di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan
untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan
porsi
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: "Makanlah
nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN
IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu
senggangnya
untuk pergi memancing di kolam dekat rumah,
ibu berharap dari ikan
hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan
bergizi untuk petumbuhan.
Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera.
Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa
daging
ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang
aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan
sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia
berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan
ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU
YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu
pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah
kotak korek api untuk ditempel, dan
hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup.
Di
kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih
bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan
pekerjaannya menempel
kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu
masih
harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah
tidur nak, aku tidak capek"
---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian.
Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan
gigih menunggu aku di bawah terik matahari
selama beberapa jam. Ketika bunyi
lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku
dan menuangkan teh yang sudah disiapkan
dalam botol yang dingin untukku. Teh
yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih
sayang yang jauh lebih
kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah
nak, aku tidak haus!"
---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah ayah
meninggal karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai
ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai
kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin
susah dan susah.
Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada
seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku
baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah
melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat
mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG
KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat
dari sekolah dan bekerja,
ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk
pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan
sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak
mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu
berkata :
"Saya punya duit" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh
gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di
sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang
lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati
hidup di Amerika.
Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata
kepadaku "Aku tidak terbiasa" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu
terkena penyakit kanker lambung, harus
dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra langsung
segera pulang
untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang
terbaring lemah di ranjangnya setelah
menjalani operasi. Ibu yang kelihatan
sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan.
Walaupun senyum yang tersebar di
wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang
ditahannya. Terlihat dengan jelas
betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan
kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih,
sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan
tegarnya
berkata : "jangan menangis anakku, Aku tidak
kesakitan" ---------- KEBOHONGAN
IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup
matanya
untuk selama-lamanya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti
merasa tersentuh
dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih
ibu !"
Coba dipikir-pikir, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu
kita? Sudah berapa lamakah kita tidak meluangkan
waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah
aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk
meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu
yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti
lebih peduli dengan pacar kita.
Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan
atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Kita hanya sibuk
mengurus diri sendiri, kawan, boss, suami isteri, anak-anak, orang lain… bahkan
lebih parah lagi : tugas pekerjaan, barang-barang, rumah, mobil, kapal pesiar,
dan semua yang
duniawi itu.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita?
Cemas apakah orang tua kita sudah makan atau belum?
Sehatkah, dapat tidur nyenyakkah, amankah di rumahnya ? Cemas apakah orang tua
kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar?
Kalau ya, coba kita renungkan kembali...
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas
budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik.
Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.
SALAM DI TAHUN YANG BARU
DI KALA ULANG TAHUN,
ADAKAH KAU TENGOK DAN SUNGKEM PADA IBU ???
------------------------------------------------------------------.
[Non-text portions of this message have been removed]