Dengan hormat mengundang rekan-rekan semua untuk datang ke acara bedah
buku 'Kitab Hujan' karya Nana Sastrawan pada acara Kongkow-Kongkow
Apresiasi Puisi ke-3, yang insya Allah akan diadakan :
Hari/ tanggal : Ahad, 21 Februari 2010
Pukul : 16.00 WIB
Tempat: Pondok Pinang 3 No 16 A, Jakarta Selatan
Pembedah: Jamal D Rahman (majalah Horison)
============ ========= ========= ========= =====
Judul buku: Kitab Hujan
Penulis: Nana Sastrawan
Editor: Pringadi Abdi
Penerbit: Halaman Moeka Publishing
KOMENTAR TENTANG KITAB HUJAN:
"Membaca
puisi-puisi Nana terasa kental nuansa kepahitan dan kegetiran dalam
kehidupan yang tak terpahamkan. Jadilah itu kabut yang menutup pandang
tentang kenyataan. Membangkitkan sejuta pertanyaan pertanyaan yang
bahkan dia sendiri telah menyerah dalam mencari jawab nya dengan
melingkarkan jawaban adalah sebagai pertanyaan itu sendiri. Entah yang
ditulisnya adalah perjalanan hidupnya sendiri atau hanya sekedar
imajinasinya saja, namun keberaniannya untuk mengungkapkan sangat layak
untuk dibaca dan diacungin ibu jari karena apa yang dituliskannya
adalah salah satu penafsiran atas penglihatannya tentang kehidupan
meskipun kabut mencoba menutupinya. "
DR. Ir. Loektamadji A. Poerwaka M.T. M.H. (Pencinta Sastra)
“…tak
terelakan, kita akan terdiam di tengah kesendirian…” (Kidung Kematian)
adalah salah satu larik yang menarik bagi saya. Atau, dengan kata lain,
demikianlah puisi-puisi Nana hidup dan berawal dari kesendirian. Ia
serta merta mengkristalisasikan pengalamannya berjalan ke berbagai
tempat, ruang, dan waktu seperti dalam sajak Pelabuhan Ratu, Kota, atau
Tengah Malam. Dalam kesendirian juga ia berbicara tentang sosok dan
tokoh, seperti Ibuku Perempuan Gila, Perempuan, atau sajak-sajak yang
ia dedikasikan bagi WS Rendra juga Mbah Surip.
Rupanya, Nana
paham betul bagaimana seharusnya ia menyikapi kesendiriannya. Ia
berhasil mereka ulang pengalamannya sebagai puisi. Selain mereka ulang,
ia juga menyatakan sikap yang tegas melalui cara pandangnya sendiri
atas segala hal yang terjadi, dan melingkupi dirinya. Maka, tidak
heran, jika puisi-puisi Nana begitu khusyu mengolah kesendirian sebagai
simulacrum," Yopi Setia Umbara (PENYAIR)
"Puisi-puisi Nana
Sastrawan adalah sebuah naskah panjang yg tak akan pernah bisa selesai
hanya dengan satu kali pementasan. Ada babak babak dan adegan yg
sepertinya tidak terangkai tapi memiliki keterkaitan.
Saya
melihat ada pesan tragis yg dititipkan oleh sipenyair pada tokoh-tokoh
(yg entah si penyair itu sendiri atau orang lain) dalam puisi-puisinya
yg ketika dimaknai dengan kata-kata seperti mencungkil semangat untuk
bergerak dan hidup. Meski bentuknya bisa saja komedi sekalipun. Di
sinilah kekhasan atau keunikan puisi-puisi Nana, yaitu kentalnya
visualisasi yg imajiner baik suasana, bentuk ruang, juga
tokoh-tokohnya. Sehingga bagi saya hal itu menarik sekali untuk
diapresiasikan dalam sebuah bentuk pertunjukan ritual yg bernama
teater" Ayak MH ( Sutradara Teater KOIn )
"Nana adalah tubuh
puisi yang hidup. Saya curiga puisi-puisinya di buku ini adalah
matanya, hidungnya, telinganya, dan segala indranya yang lain."
Pringadi Abdi Surya (Penyair dan Cerpenis)
Halaman Moeka Production:
Penerbit dan Jasa Penerbitan Buku | Toko Buku Online | Toko Aneka Kebutuhan
http://halamanmoeka .blogspot. com
http://jualbukubagu s.blogspot. com
http://tokoanekakeb utuhan.blogspot. com
Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail. com.
Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
[Non-text portions of this message have been removed]