Refleksi: Untuk gong Sibuya  : http://www.youtube.com/watch?v=5L-9HcTb1es&NR=1


http://www.gatra.com/artikel.php?id=134692

Setelah Gong Perdamaian Berdentang


Hari itu, Selasa, 19 Januari 1999. Masih dalam suasana Idul Fitri, di hari 
kedua Lebaran itu, suasana kota Ambon tiba-tiba berubah mencekam. Para pemuda 
dari Desa Mardika dan Desa Batu Merah terlibat perkelahian massal. Dengan penuh 
kebencian, mereka baku hantam. Tak ada yang menyangka, bentrokan massal yang 
dipicu pertikaian seorang sopir angkot dari Desa Mardika dengan seorang pemuda 
dari Desa Batu Merah itu meluas dan berbuntut panjang.

Peristiwa yang kemudian menyeret-nyeret isu agama itu menyebabkan ratusan ribu 
orang terpaksa mengungsi. Lebih dari 5.000 orang tewas dalam konflik 
berkepanjangan selama dua tahun. Entah berapa ribu rumah warga yang hangus 
terbakar dan rusak.

Selama itu, dendam dan amarah membuat warga seakan lupa pada kearifan lokal 
pela gandong, yang telah berabad-abad mengikat mereka dalam tali persaudaraan 
yang erat. Rasa takut dan cemas terus menghantui warga hingga beberapa tahun 
setelah peristiwa itu. Suasana panas pun mulai mereda sejak kedua pihak 
berdamai lewat Deklarasi Malino II pada 12 Februari 2002, yang difasilitasi 
pemerintah pusat. "Sekarang Ambon sudah tenang dan aman," ujar Helma Alkatiri, 
seorang warga setempat.

Masih terbayang di pelupuk mata ibu satu anak itu peristiwa yang dialaminya 11 
tahun silam tersebut. Ketika itu, Helma tengah bersilaturahmi ke kediaman 
tetangganya. Tiba-tiba, teleponnya berdering. Seorang kerabatnya mengabarkan, 
telah terjadi kerusuhan massal di kawasan Terminal Mardika dan Batu Merah. 
"Saya langsung gemetar mendengarnya," ungkap perempuan kelahiran Ambon, 26 
April 1960, ini.

Betapa tidak. Lokasi kerusuhan itu hanya berjarak sekitar lima kilometer dari 
rumahnya di belakang Jalan A.Y. Patty, di pusat kota. Kerusuhan dengan cepat 
menjalar ke seluruh pelosok kota. Pada hari itu juga, Helma beserta keluarganya 
memutuskan mengungsi ke rumah seorang kerabatnya, lalu ke Masjid Raya Al-Fatah. 
"Saya hanya membawa yang penting saja, seperti pakaian dan ijazah," katanya 
mengenang.

Pengalaman Mengungsi Berkali-kali
Helma masih ingat, ketika menuju Masjid Al-Fatah, ia harus melewati pecahan 
kaca dan serpihan batu yang bertebaran. Masjid terbesar di Ambon itu berlokasi 
di Jalan Sultan Baabullah. Di sana, ia hidup bersesak-sesak dengan ribuan 
pengungsi lainnya. Pakaian yang ia kenakan pun seadanya. "Asal selamat, sudah 
lebih bagus," tuturnya.

Karena keadaan yang tak kondusif, ia kembali pindah ke rumah seorang familinya. 
Dua pekan di sana, ia kemudian memutuskan mengungsi sementara ke rumah famili 
lainnya di Surabaya, Jawa Timur. Di "kota buaya" ini pun ia tak lama tinggal, 
hanya sekitar dua pekan, lalu kembali ke Ambon. "Bagaimanapun, Ambon tetap 
tanah kelahiran beta," katanya. Sekarang Helma memilih tinggal di rumahnya di 
kawasan Air Kuning.

Seperti dituturkan Helma, suasana Ambon kini memang relatif pulih seperti 
sediakala. Kota itu pun sekarang mulai mempercantik diri lagi. Lihat saja 
kawasan jantung kota, seperti di Jalan A.Y. Patty.

Atmosfer di kawasan ini sudah banyak berubah. Hingga 2004, masih tampak banyak 
bangunan yang rusak akibat konflik. Warna hitam-legam bangunan yang dilalap api 
mendominasi pemandangan di kawasan tersebut. Suasana semakin terkesan kumuh 
karena banyak pula bangunan di kawasan itu yang digunakan sebagai tempat 
pengungsian. Gantungan baju bergelayutan di jendela-jendelanya. Ketika itu, 
jumlah toko yang beraktivitas bisa dihitung dengan jari.

Suasana Kembali Semarak
Sekarang kawasan A.Y. Patty terasa hidup karena roda perekonomian mulai 
bergulir. Hampir semua toko aktif kembali. Mulai toko emas, toko swalayan, 
hingga kantor-kantor biro jasa perjalanan buka lagi. Jalan A.Y. Patty merupakan 
salah satu dari empat ruas jalan utama di kota Ambon. Tiga lainnya adalah Jalan 
Anthony Rhebok, Jalan A.M. Sangadji, dan Jalan Sultan Baabullah.

Pulihnya roda perekonomian di Ambon itu dirasakan Muntamah, pemilik Rumah Makan 
Arema di salah satu ruas Jalan Sultan Hairun. Ia mengaku membuka usaha rumah 
makan itu sejak 2003, ketika keadaan di kawasan tersebut masih sangat sepi. 
"Jumlah toko yang buka masih bisa dihitung dengan jari,? katanya.

Walau demikian, Muntamah tak patah arang. Ia tetap membuka rumah makannya mulai 
pukul 09.00 hingga pukul 21.00. Beruntung, karena minimnya warung makan di 
kawasan tersebut pada saat itu, ia bisa meraup omset hingga Rp 20 juta per 
bulan. Sekarang, setelah banyak warung makan, ia mengaku meraih keuntungan Rp 5 
juta-Rp 10 juta. "Sekarang, ke mana kaki melangkah, di situ selalu ada toko," 
ujarnya.

Perubahan atmosfer juga amat terasa di sejumlah pusat keramaian. Ambon Plaza 
(Amplaz), misalnya, yang merupakan satu-satunya tempat perbelanjaan terbesar di 
kota Ambon. Gedung berlantai empat ini didominasi toko pakaian hingga kebutuhan 
sehari-hari. Eskalator yang kini masih tak berfungsi pun tidak menyurutkan niat 
warga untuk mengunjungi plaza itu.

Sebuah toserba ternama ikut meramaikan suasana di dalamnya. Karena pendingin 
ruangan alias AC tak berfungsi, udara di dalamnya terasa pengap. Ditambah lagi 
banyaknya orang yang hendak berbelanja atau sekadar cuci mata. Para pengunjung 
masih tetap tampak menikmati "wisata belanja" mereka di tengah desiran kipas 
angin sebagai pengganti AC.

Menjelang malam, kebanyakan toko di Amplaz sudah tutup. Hanya toserba itu yang 
masih tetap buka hingga pukul sembilan malam. Sebagai alternatif, masyarakat 
lebih banyak menghabiskan waktu di ruas jalan utama kota Ambon, terutama pada 
malam akhir pekan. Kawasan di Jalan Sultan Baabullah dipenuhi warga. Tua-muda, 
lelaki-perempuan, tumplek-blek di lokasi itu. Kafe-kafe pun mulai dibanjiri 
orang. Di dalam kafe dilengkapi pertunjukan musik secara langsung. Begitu pula 
warung-warung kopi yang bertebaran.

Kawasan Pasar Mardika sebagai tempat awal pecahnya kerusuhan pun kini ramai 
kembali. Tak ada sekat-sekat wilayah seperti dulu. Ini tentu berbeda pada saat 
konflik pecah. Syaiful, salah satu pemilik toko kelontong di sana, mengatakan 
bahwa situasi pada saat ini lebih aman dan nyaman. Seperti Muntamah, ia kembali 
membuka toko pada 2003. "Pada waktu itu, lampu sering mati. Buka toko paling 
hanya dua-tiga jam. Sekarang buka sampai pukul sembilan malam," katanya.

Suasana tak kalah semarak terasa di lokasi lain. Di Jalan Yos Sudarso, 
misalnya, terdapat Pantai Losari. Jika malam tiba, lokasi ini dipenuhi kafe 
tenda. Terdengar pula ingar-bingar suara musik. Yang dijual kebanyakan makanan 
dan minuman ringan, seperti jagung rebus, kacang rebus, hingga air jahe.

Yang Luput Dilanda Konflik
Namun, yang cukup menarik disimak, ada satu kawasan yang ternyata sama sekali 
tidak terkena dampak konflik dan kerusuhan berkepanjangan itu. Perumahan BTN di 
Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, menjadi satu-satunya wilayah yang tidak 
terimbas peristiwa yang sangat mengenaskan itu.

Hal itu diungkapkan beberapa warga di sana. Pada saat Gatra menyambangi kawasan 
tersebut, suasananya terasa begitu tenang dan tenteram. Beberapa pria tampak 
asyik bercanda di pos di samping kiri gapura BTN. "Sejak dulu Wayame aman. 
Katong (kita, dalam bahasa setempat) lebih pilih mangkal di sini," kata Irvan, 
seorang tukang ojek yang ditemui di situ.

Di perumahan itu, umat Islam dan Kristen bahu-membahu untuk tetap menjaga 
keharmonisan dan perdamaian. Kawasan seluas 43.000 kilometer persegi ini 
terletak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Ambon. Akses menuju lokasi ini 
cukup mudah karena banyak angkutan umum yang menuju Wayame.

Walau demikian, tak mudah memang menjaga kedamaian di wilayah yang berpenghuni 
sekitar 1.200 kepala keluarga itu. "Kami sepakat tidak terlibat konflik," ucap 
Kanes Amanupunnjo, salah satu pemrakarsa Tim 20, yang dibentuk untuk menjaga 
kedamaian.

Desa itu terdiri dari 21 RT dan 10 RW. Setelah melalui perundingan, akhirnya 
diiperoleh kesepatan untuk membentuk Tim 20. Tim ini beranggotakan 10 orang 
Kristen dan 10 orang muslim, yang terdiri dari tokoh masyarakat, pemuda, dan 
tokoh keagamaan. "Tugasnya, menyelesaikan masalah terkait konflik," kata Kanes.

Ia mencontohkan, bila ada isu penyerangan oleh suatu komunitas, tim dari 
komunitas itulah yang ditugasi mengecek isu tersebut dan mencoba menyelesaikan 
masalahnya. "Rata-rata isu itu tidak benar," katanya lagi.

Tetap Menjaga Kebersamaan
Dalam seminggu, dilakukan dua kali pertemuan, yakni usai salat Jumat di masjid 
dan usai kebaktian Minggu di gereja. Masjid Darul Na'im dan Gereja Peniel 
menjadi saksi sumpah anggota masyarakat di Wayame.

Janji itu diucapkan melalui Abdurrachman Marasabessy, yang mewakili komunitas 
Islam. Sedangkan komunitas Kristen diwakili Pendeta Jhon Sahalessy. Di sana, 
mereka bersumpah dengan satu tujuan: "Jangan sampai ada konflik dan membuat 
Wayame terpisah," ujarnya, mengungkapkan sumpah bersama.

Pada malam hari, kawasan itu dijaga bersama-sama. Sampai-sampai, banyak warga 
yang tidak tidur pada malam hari. Aturan yang diberlakukan di kawasan tersebut 
sangat ketat. Kalau ada yang melanggar, sanksinya: bisa diusir dari Wayame.

Menerapkan Aturan Ketat
Kanes menuturkan, dahulu memang banyak pihak yang mencoba mengadu domba warga 
di kawasan tersebut. Pernah suatu kali ada yang melempari masjid. Ada juga yang 
sengaja membakar salah satu rumah warga dengan sembilan bom molotov. Para 
provokator malah sempat memasuki wilayah Wayame sambil membawa persenjataan 
lengkap. Hal ini tentu membuat masyarakat menjadi ketakutan. "Kami tetap 
bergeming," tuturnya.

Sebagai konsekuensinya, pelaku lantas dikeluarkan dari kawasan Wayame. Bahkan 
terkadang, sebelumnya, pelaku dipukuli hingga babak belur jika mencoba membuat 
keonaran di kawasan itu. Jika ada yang terlibat lalu tewas dalam konflik itu, 
mayatnya harus dimakamkan di luar Wayame. "Semua agar ada efek jera," katanya.

Bila ada info tentang konflik bersenjata di suatu desa, Wayame punya aturan: 
jangan sampai konflik itu lewat Wayame. Akibatnya, proses distribusi makanan 
pernah terhambat. "Kami hanya mengonsumsi air yang berasal dari sungai di 
gunung," ujarnya. Dalam situasi seperti itu, pada April 1999, muncul ide 
mendirikan pasar sebagai tempat pertemuan kedua komunitas.

Sejak itu, Wayame menjadi sentra transaksi perdagangan bahan pokok yang 
berlangsung pada pukul dua siang. Pedagang dari kedua komunitas bercampur baur 
menjual barang dagangan kepada komunitasnya.

Terdapat speedboat yang mengantar penumpang beragama Islam ke Batu Merah. 
Sedangkan penumpang Kristen diantar hingga Pelabuhan Gudang Arang. "Pertemuan 
itu kadang membuat haru karena ada transaksi dalam keadaan perang seperti itu," 
ucap Kanes.

Banyak yang mengatakan, perdamaian di sana terjadi karena Wayame dikelilingi 
asrama tentara Kompi C Linud 733 BS dan berada di lokasi Pertamina. Tapi, 
menurut Kanes, hal itu tidak 100% benar. Sebab warga Dusun Wailete, Dusun 
Kemiri, dan Desa Poka-Rumahtiga yang berdekatan dengan Wayame tak luput dari 
dampak konflik itu. "Semua karena kami ingin damai," ia menegaskan.

Gong Simbol Perdamaian
Setelah konflik pecah dan melebar, perdamaian di kota Ambon sebenarnya tak 
hanya diinginkan segelintir orang, melainkan oleh hampir seluruh lapisan 
masyarakat. Belakangan, sebagai simbol perdamaian, di kota Ambon dipasang "Gong 
Perdamaian" di Lapangan Pelita di Jalan Sultan Hairun.

Sebelum konflik melanda, lokasi tersebut sempat menjadi tempat konfeksi. 
Setelah itu, pada 2004, kawasan itu disulap menjadi terminal bayangan untuk 
angkutan luar kota. Ambon merupakan kota ke-35 yang dipasangi gong berdiameter 
dua meter itu. Lingkaran luarnya menampilkan bendera seluruh negara merdeka di 
dunia. Di lingkaran tengahnya terdapat tulisan "World Peace Gong", serta ada 
gambar bunga dan tulisan dalam bahasa Indonesia: "Gong Perdamaian".

Di lingkaran dalamnya ditampilkan 10 simbol agama besar yang dianut mayoritas 
penduduk dunia. Sedangkan gambar bunga merupakan peneguhan jati diri Gong 
Perdamaian. Di lingkaran puncak "Gong Perdamaian Dunia" ditampilkan bola dunia 
alias planet bumi.

Peresmian Gong Perdamaian itu dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 
25 Januari 2009. Pada malam minggu, kawasan Gong Perdamaian ramai dikunjungi 
masyarakat. Adanya dua lampu sorot semakin menarik minat, walaupun lokasi itu 
agak minim cahaya pada malam hari.
Masyarakat umumnya memilih menghabiskan waktu di sana sambil memotret-motret. 
Untuk sekali masuk, pengunjung dikenai retribusi Rp 5.000. "Kalau ramai, bisa 
sampai Rp 3 juta semalam," ungkap seorang petugas jaga.

Di lokasi tersebut juga ada museum, di dalam bangunan yang ada di bawah gong. 
Di situ terpajang 71 foto acara seremonial. Ada foto kedatangan Megawati pada 
tahun 2000. Ada juga foto Abdurrahman Wahid (almarhum) pada saat bertemu dengan 
delegasi Maluku.

Di luar itu, ada foto kondisi pertokoan di samping tiga pos yang dibakar massa 
pada tahun 2000. Tumplek-blek-nya masyarakat yang hendak keluar dari Ambon pada 
1999 juga terpotret. Bahkan terpampang foto sebuah mobil angkutan umum yang 
diduga menjadi asal-muasal pecahnya konflik horizontal di Ambon.

Sayang, museum itu tak dilengkapi dengan informasi seputar gong itu. Padahal, 
dengan adanya informasi tentang "Gong Perdamaian Dunia", tempat ini bisa 
dijadikan lokasi alternatif bagi studi wisata para pelajar.

[Ragam, Gatra Nomor 12 Beredar Kamis, 28 Januari 2010] 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke