SIBUYA?

  http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010021002332975

      Rabu, 10 Februari 2010 
     

      OPINI 
     
     
     

NUANSA: Kerbau Kesayangan Kami 


      SAAT masih kecil, tepatnya saat masih duduk dibangku SD, aku sering 
diajak berkunjung ke rumah Mbah Kung dan Mbah Utiku di sebuah kampung di kaki 
Gunung Merapi.

      Sebuah kampung di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di 
sanalah ibuku dibesarkan dan dilahirkan. Di sebuah kampung yang sampai saat ini 
masih mengalir air jernih dan dingin dari pegunungan.

      Saat itu, sekitar tahun 80--90-an, mbahku memelihara ternak beberapa ekor 
kerbau. Bahkan ada seekor kerbau yang sejak kecil sudah ada di rumah itu, dan 
menjadi kerbau kesayangan ibuku.

      Nama kerbau tersebut Paijem, adalah kerbau kesayangan ibuku. Setiap hari 
Selasa Kliwon, selalu dibawa ke sungai untuk dimandikan, terus diberi makan 
ketupat.

      Kerbau tersebut selalu digunakan untuk membajak sawah. Dia selalu menurut 
dan tidak pernah marah. "Bahkan kami menganggap dia sebagai keluarga, bedanya 
dia tidak bisa berbicara," kata ibuku mengenang.

      Bahkan jika ada orang jahat melintas dia memberi tahu dengan cara 
memanggil-manggil. Sehingga, rumah Mbah Kung dan Mbah Uti selalu terbebas dari 
orang-orang jahat.

      Ketika aku dan adik-adikku masih kecil, Paijem dan anak-anaknya selalu 
kami ajak bermain bersama-sama di sawah. Saat ada pekerja yang membajak sawah, 
kami kemudian diajak naik di bagian belakang tempat mengendalikan kerbau.

      Meskipun harus belepotan lumpur, kami sangat bahagia. Apalagi setelah 
selesai membajak kami selalu dibawakan sego megono atau nasi megono, yakni nasi 
dicampur dengan urab dari berbagai macam sayuran ditambah kerupuk uli atau 
kerupuk dari nasi yang tidak dimakan, sungguh nikmat.

      Bagi kami Paijem dan anak-anaknya sama sekali bukan binatang malas. Dia 
justru sangat rajin dan cerdas karena sangat mengerti apa yang kami inginkan. 
Jadi, saat SBY merajuk soal demonstran yang membawa kerbau, aku jadi kaget. 
Sebab, prototipe kerbau tidak seperti yang dipikirkan SBY.

      Apalagi dia sebagai Presiden yang mestinya berhati samudera yang memiliki 
luas tiada terkira. "Mestinya yang mengeluh itu masyarakat miskin yang untuk 
cari makan saja susah karena dikejar-kejar Pol. PP," kata suamiku.

      Dia menambahkan SBY seharusnya bisa merasakan penderitaan rakyat, 
bukannya merajuk dan marah-marah atas keluhan rakyatnya. Meskipun aku turut 
menyesal karena sebagian besar masyarakat memilihnya sebagai presiden, toh aku 
tidak bisa berbuat banyak.

      Menurut Lukman, sahabatku di kantor, satu-satunya kesalahan masyarakat 
Indonesia, adalah memilih SBY sebagai presiden kembali. "Apa pun persoalannya 
dia menang 60 persen, itu yang harus diakui. Jadi apa pun adanya SBY, ya harus 
diterima," kata dia.

      Waduh, sampai kapan ini terjadi, apakah kita harus menunggu dalam 
kepedihan hingga masa jabatannya berakhir, ataukah kita harus turun ke jalan, 
sama saat kau menjadi mahasiswa tahun 1998 dulu? n SRI WAHYUNI
     



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke