DUA BERITA BERLAWANAN ISI - SOAL BEDA WAKTU (Surabaya Post lebih mutakhir) 6 Feb 2010 - PERKARA TAKUT MALU - MASALAH PENJAJAHAN DAN INTIMIDASI - TEMPO CUMA MAU WAWANCARA PENGUASA 2 Sept 2009 - DAN BANYAK LAGI KEMUNGKINAN LAIN
NAH, HANYA TEMPO-INTERAKTIF DAPAT MENJAWABNYA ? JANGAN MEMAINKAN NASIB ORANG KECIL YANG MALANG! SALAM Kalpataru Penyelamat Hutan Riau Dicabut - Re: [ITB_] BILA RAKYAT MULAI NGAMBEK ... piala dikembalikan ? barangkali karena wedi-isin...hehe...as usual dah salam kang --- In [email protected], gsetyabudi wrote: > > Kang, > Yang pernah saya baca berita sebaliknya. > Berikiut berita dari Tempo Interaktif. > > Salam, > GS > > Kalpataru Penyelamat Hutan Riau Dicabut > Rabu, 02 September 2009 | 14:24 WIBTEMPO Interaktif, Jakarta - Penghargaan Kalpataru kepada ninik mamak Negeri Enam Tanjung dari > Riau dicabut. Ninik mamak menerima penghargaan dari Presiden RI pada > Hari Lingkungan 5 Juni lalu telah merusak hutan wisata alam Rimbo Tujuh > Danau dengan membuka jalan yang membelah hutan sepanjang 3,036 > kilometer dengan lebar 15 meter. > > Menteri Negara Lingkungan Hidup > Rachmat Witoelar mengatakan piala, sertifikat, dan bentuk penghargaan > Kalpataru lainnya telah dicabut dari ninik mamak tadi pagi oleh tim > dari Kementerian dan pemerintah daerah setempat. "Kita telah salah duga > memberikan penghargaan Kalpataru," kata Rachmat dalam jumpa pers di > kantornya, Selasa (2/9). > > Penghargaan Kalpataru diberikan oleh > pemerintah kepada para pejuang lingkungan dengan kategori Perintis > Lingkungan, Pengabdi Lingkungan, Penyelamat Lingkungan, dan Pembina > Lingkungan. Ninik mamak itu menerima penghargaan dalam kategori > Penyelamat Lingkungan dalam penilaian Dewan Pertimbangan Kalpataru 2009 > karena telah berhasil melestarikan Hutan Ulayat Rimbo Tujuh seluas > 1.000 hektar. > > Belakangan, tim menerima laporan perusakan hutan > melalui tulisan berjudul "Hutam Kalpataru di Riau dibelah" di sebuah > terbitan nasional pada 13 Juli. Tim dari Kementerian diturunkan untuk > memverifikasi yang kemudian dilaporkan kepada Dewan Pertimbangan > Kalpataru. > > Pembuatan jalan dilakukan oleh ninik mamak yang > dipelopori oleh Penghulu Adat Dahlan S Datuk Majalelo dan kepala desa > Zulkarnain JS. Tujuannya untuk membuka keterisolasian masyarakat adat > dari jalan luar. Namun, setelah dicek, ternyata tidak benar, sebab > sudah ada akses jalan lain. > > Deputi VI Bidang Komunikasi > Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat mengatakan tim tidak tahu adanya > rencana pembangunan jalan tersebut. Padahal, dalam salah satu > pertanyaan seleksi ditanyakan kepada ninik mamak mengenai rencana > mendatang terhadap hutan. > > "Kalau kami tahu dia akan bangun jalan tentu tidak diberikan penghargaan dan akan dihentikan," katanya. > > Setelah > perusakan diketahui, pembangunan dihentikan dan pemerintah daerah > diminta mengembalikan kondisi hutan pada keadaan semula. Akan dilakukan > proses penyelidikan tentang dampak kerusakan dan pelaku bisa dijerat > hukuman pidana. Perusakan hutan tersebut juga telah dilaporkan secara > tertulis kepada presiden. BANDINGKANLAH : --- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote: > > > > http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=4e7dd9fa7156b49c2db167bdc47f95d2&jenis=c4ca4238a0b923820dcc509a6f75849b > > > Kalpataru Dikembalikan ke SBY > Sabtu, 6 Februari 2010 | 11:33 WIB > > PEKANBARU - Kalpataru yang merupakan penghargaan tertinggi untuk penggiat > lingkungan hidup dikembalikan oleh Patih Laman, kepala Suku Talang Mamak, > kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jumat (5/2). Ini menjadi > bentuk protes atas hilangnya hutan adat mereka. > > Berangkat dari Desa Sungai Ekok, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiru > Hulu, pria yang telah berusia 90 tahun itu singgah ke Pekanbaru untuk segera > memulangkan piala yang didapatnya sejak 2003 diserahkan kepada Presiden. > > "Hati saya sangat sakit. Kami tidak lagi punya Rimba Puaka. Entah bagaimana > nasib masyarakat kami ke depannya," kata Patih Laman, saat mengunjungi Kantor > Berita ANTARA Biro Riau di Pekanbaru yang berjarak 300 km dari tempat > tinggalnya. > > Dia mengaku sangat sedih dengan kenyataan yang dihadapinya. Penghargaan dari > pemerintah pusat itu hanya sebentar membuatnya bangga tapi kemudian > membuatnya menderita hingga jatuh sakit. "Penghargaan yang diberikan kepada > saya itu seakan membujuk saya agar rela menukarkan hutan adat kami dengan > Kalpataru. Padahal tidak. Saya akan kembalikan Kalpataru agar hutan kami > kembali," katanya. > > Patih Laman mendapat piala Kalpataru pada era Megawati Soekarnoputri karena > dinilai pemerintah berhasil menjaga dan melestarikan Penyabungan dan > Penguanan, satu-satunya hutan adat Talang Mamak yang tersisa. > > Ketika itu, tiga hutan adat lainnya, yang biasa disebut masyarakat Talang > Mamak sebagai Rimba Puaka, yaitu kawasan hutan Sungai Tunu (104,933 ha), > hutan Durian Jajar (98.577 ha) dan hutan Kelumbuk Tinggi Baner (21.901 ha), > sudah ditebangi dan berganti sawit. > > Belum lama ini, hutan Panyabungan dan Penguanan akhirnya juga tak bisa > diselamatkan lagi oleh Patih Laman, dan berubah menjadi perkebunan sawit. > "Saya akan menyerahkan Kalpataru kepada Pak Gubernur," kata Laman lirih. > > Dia mengisahkan, kondisi hutan adat tempat bermukim Suku Talang Mamak atau > juga Suku Melayu Tua ini sangat memprihatinkan. Sekitar dua ribu hektar hutan > adat hampir semua dirusak dan berubah fungsi menjadi sawit. > > Kawasan hutan adat suku Talang Mamak yang berada di dalam Taman Nasional > Bukit Tigapuluh (TNBT) Riau dan Jambi 1.800 hektar di antaranya terdapat di > Penyabungan dan 150 hektar di Hutan Durian Cacar. > > "Untuk apa saya pegang piala ini kalau hutan adat yang menjadi sumber > penghidupan suku kami terus dibabat tanpa ada perlindungan dari pemerintah. > Padahal hutan adat kami telah ditetapkan menjadi kawasan yang dilindungi," > keluh Patih Laman. > > Perusakan hutan adat sudah terjadi sejak 2008. Upaya telah dilakukan dengan > mendatangi pemerintah daerah pun tidak ada hasilnya. Patih juga mengaku > kesulitan menemui Gubernur Riau, karena karena sering keluar kota. > > "Suku kami kini sudah banyak diracuni dengan iming-iming uang asal mau > menjual hutan adat yang sudah kami jaga generasi ke genarasi. Suku kami > memang terbelakang. Banyak sekali yang tidak baca dan tulis jadi bisa > dibodohi," tutur pria yang rambutnya dipenuhi uban ini.ntr > > > >

