Refleksi : Siapa kepung siapa?
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010021701173011
Rabu, 17 Februari 2010
UTAMA
Pansus Century Terkepung
JAKARTA (Lampost): Menjelang berakhir masa kerjanya pekan depan, Pansus
Angket Century terkepung. Lingkaran dalam kekuasaan gencar bergerilya
menjinakkan koalisi.
Di tengah gencarnya politik premanisme yang diramu dengan politik
transaksi, semua bisa berubah. Perubahan itulah yang membayangi sikap partai
koalisi. "Pansus dalam titik kritis, dua hari ini mendekati titik puncak,
pandangan akhir fraksi akan disampaikan hari Rabu," kata anggota Pansus Century
dari Fraksi Golkar Bambang Soesatyo, Selasa (16-2).
Menurut Bambang, tekanan kepada Pansus Century datang dari banyak
kalangan. Pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab itu rata-rata dirugikan jika
skandal Century terungkap. "Banyak praktek kotor dari pihak yang
berkepentingan," kata dia.
Bambang menjelaskan tekanan tidak hanya dari penguasa, tetapi juga Bank
Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan, Komite Stabilitas Sektor Keuangan, Bank
Mutiara (dulu Bank Century), dan pihak-pihak lain. Bambang berharap masyarakat
mendukung penuh Pansus Century. "Masyarakat juga dewasa melihat mana tingkah
laku politik kotor dan mana yang murni," ujarnya.
Agenda Pansus hari ini ialah penyampaian pandangan fraksi atas aliran
dana Bank Century setelah pengucuran dana talangan Rp6,7 triliun. Pansus telah
membuat kesimpulan awal atas kebijakan bailout. Skor sementara 7-2, yaitu tujuh
fraksi meliputi Golkar, PDIP, PKS, PAN, PPP, Gerindra, dan Hanura yang
menyatakan kebijakan itu melanggar undang-undang. Hanya dua fraksi yang
menyetujui, yakni Demokrat dan PKB.
Penyampaian pandangan fraksi akan diikuti pembentukan tim kecil yang
bertugas menyusun rumusan dan hasil kerja Pansus. Tim bekerja selama empat hari
dan masa tugas Pansus pun berakhir pada 24 Februari sehingga keesokannya dibawa
ke Badan Musyawarah DPR untuk menetapkan jadwal rapat paripurna pada 2 Maret
mendatang.
Hari ini hingga seminggu ke depan itulah masa paling kritis. Orang-orang
dari lingkaran kekuasaan gencar bergerilya menjinakkan koalisi, bahkan partai
oposisi pun didatangi.
Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam, Andi Arief kemarin mendatangi
Sekjen PDIP Pramono Anung. Kendati peristiwa itu disebut sebagai pertemuan dua
sahabat lama, aroma lobi tidak terhindarkan. Pramono menegaskan lobi sudah
tidak mampu membendung arus besar fraksi di DPR yang menyebutkan telah terjadi
pelanggaran dalam pengambilan kebijakan bailout.
Akan tetapi, tanda-tanda pergeseran sikap fraksi mulai tampak. Semula PAN
berada dalam arus besar bahwa kebijakan bailout salah. Sikap PAN berubah. Ketua
Umum PAN Hatta Rajasa mengingkari kesimpulan awal fraksinya. Menurut dia, PAN
belum mengambil kesimpulan. Perubahan sikap PAN bisa dipahami sebab rumah Hatta
menjadi tempat konsolidasi koalisi.
Konsistensi Golkar
Konsolidasi koalisi sesekali dilakukan di kediaman Menteri Koperasi dan
UKM Sjarifuddin Hasan dari Partai Demokrat. Hasan mengakui sudah ada dua
kesepakatan penting yang dicapai koalisi dalam pertemuan terakhir di kediaman
Hatta pada Minggu (14-2). Pertama, kebijakan yang diambil pemerintah soal
Century adalah penyelamatan ekonomi. Koalisi sepakat langkah tersebut tidak
bisa diseret ke arah kriminalisasi.
Kedua, kata Hasan, jika dalam pelaksanaanya ada unsur melanggar hukum,
koalisi sepakat menyerahkan masalah ke ranah hukum. "Intinya, koalisi tetap
solid," kata dia.
Di partai koalisi, sejauh ini hanya Golkar yang masih enggan terikat
dengan kesepakatan itu. "Saya sebagai Sekjen Golkar ingin mempertegas bahwa
Golkar tetap konsisten menjadikan data dan fakta sebagai instrumen," kata Idrus
Marham yang juga ketua Pansus.
Sikap Golkar itu sejalan dengan testimoni Achsanul Qosasih, anggota
Pansus dari Demokrat. "Di antara partai-partai koalisi, Golkar yang paling
keras. Partai lain relatif bisa memahami kebijakan soal Century."
Sri Sultan Hamengku Buwono X, salah seorang inisiator Nasional Demokrat,
mengingatkan Pansus untuk menghindari politik transaksi yang pada akhirnya
membohongi rakyat. Ia mengajak rakyat mengawal fraksi. Jangan biarkan Pansus
mendekati ajal. n U-1
[Non-text portions of this message have been removed]