Mahathir: Indonesia Bisa Menjadi Negara Besar Ketujuh
Bogi Triyadi
11/02/2010 20:17
Liputan6.com, Kuala Lumpur: Mahathir Mohamad mengakui Indonesia bisa menjadi
negara besar ketujuh
di dunia. Namun, semuanya tergantung pada pendekatan pemerintah
terhadap rakyatnya. "Itu karena Indonesia telah ditopang dengan
kekayaan sumber alam, jumlah rakyat yang besar, dan berpendidikan.
Tinggal bagaimana pendekatan pemerintah terhadap rakyatnya," kata
mantan Perdana Menteri Malaysia itu dalam acara Leader Talk: Sustainability of
Thinking Paradigm Towards National Perception Development yang diadakan
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) bersama KBRI di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis
(11/2).
Mahathir mengatakan hal tersebut menanggapi pernyataan dosen
Universitas Nasional Singapura, Nasir Tamara. Tamara menyatakan suatu
saat Indonesia akan menjadi negara besar ketujuh di dunia, apalagi kini
sudah masuk negara-negara G20.
Mahathir mencontohkan Jepang yang tak punya sumber daya alam tapi
menjadi negara makmur karena pendekatan pemerintah terhadap rakyatnya
tepat. Menurut Mahathir, yang paling penting, pemimpin harus mencintai
bangsa dan negaranya. "Bukan membangun rumah besar dan kekayaan
menumpuk yang sudah tentu akan menyingkirkan kepentingan rakyatnya,"
turut Mahathir yang memimpin Malaysia selama 22 tahun.
Lain halnya dengan Nasir Tamara. Ia menilai Indonesia bisa menjadi
negara besar ketujuh di dunia asalkan mampu mempertahankan demokrasi
saat ini. Selain itu, juga tak ada kudeta atau pergantian kepemimpinan
melalui pemili, kebijakan publik yang tepat, dan pergaulan
internasional yang bagus.
"Kami telah melakukan riset. Hasilnya Indonesia telah bangkit dan akan
menjadi negara besar ketujuh asalkan tidak ada perang saudara dan
kudeta. Demokrasi saat ini telah menempatkan Indonesia berada di jalur
yang tepat (on the track) menuju tahap kemamkmuran dan kemajuan
ekonomi, tapi perlu waktu," kata Tamara.
Selain Mahathir dan Tamar, hadir dalam acara ini sebagai pembicara
adalah Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Dai Bachtiar, serta dekan
Universitas Waseda Jepang, Prof Ken Kawan Soetanto. Acara ini dihadiri
sekitar 300 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malaysia,
termasuk perwakilan mahasiswa Indonesia di Jakarta, Amerika, dan
Belanda.(ANT)
[Non-text portions of this message have been removed]