BUMN dikangkangi koruptor. Ganyang monopoli BUMN. Dikelola anak bangsa tidak identik oleh BUMN. Kita camkan itu. Merdeka!
--- In [email protected], A Nizami <nizam...@...> wrote: > > Antek-antek asing memang mencoba menanamkan pemikiran (mindset) kepada bangsa > Indonesia bahwa mereka tidak mampu. Oleh karena itu serahkan kekayaan alam > kita kepada asing. > > Keberadaan BUMN2 seperti ANTAM, Pertamina, Elnusa, dsb sebetulnya sudah > membuktikan bahwa kita mampu mengelola kekayaan alam sendiri. Bahkan Malaysia > yang SDM dan SDAnya di bawah kita sekarang lebih maju karena mereka mandiri. > > Pada tahun 2008 Petronas meraup revenues sekitar 77 miliar dollar AS (Rp 770 > triliun) atau sekitar 80 persen dari RAPBN 2010. > > Petronas berada di urutan nomor 95 dari 500 perusahaan terbesar versi majalah > Fortune. Keuntungan Petronas tahun 2008 sebesar 15,3 miliar dollar AS > (sekitar Rp 153 triliun), menempatkan Petronas pada posisi ke-13 dari 40 > perusahaan dunia yang memperoleh keuntungan paling besar (Fortune, 24 Agustus > 2009). > > Penambangan emas itu sudah dikenal sejak 5000 tahun sebelum masehi (7000 > tahun yang lalu). Jadi kalau ada yang bilang bangsa Indonesia tidak mampu > menambang emas, selain bohong juga menghina. Itu sama saja bangsa Indonesia > lebih primitif daripada manusia pra sejarah...:) > > Dengan dikuasainya kekayaan alam di Papua oleh Freeport, Indonesia cuma dapat > royalti 1% untuk emas dan perak, sementara Freeport dapat 99%. Bayangkan, > Indonesia yang merupakan pemilik emas dan perak cuma dapat royalti 1%, > sementara tukang cangkulnya dapat 99%! > > http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/12/05041364/pertamina.tari.pendet.dan.petronas > Kini faktanya, Pertamina sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan Petronas. > Petronas yang tetap konsisten dengan apa yang ditiru dari Pertamina kini > terbukti telah berkembang menjadi salah satu perusahaan minyak raksasa dunia. > Pada tahun 2008 Petronas meraup revenues sekitar 77 miliar dollar AS (Rp 770 > triliun) atau sekitar 80 persen dari RAPBN 2010. > > Petronas berada di urutan nomor 95 dari 500 perusahaan terbesar versi majalah > Fortune. Keuntungan Petronas tahun 2008 sebesar 15,3 miliar dollar AS > (sekitar Rp 153 triliun), menempatkan Petronas pada posisi ke-13 dari 40 > perusahaan dunia yang memperoleh keuntungan paling besar (Fortune, 24 Agustus > 2009). > > http://www.semuasaudara.com/umum/2009/04/sejarah-emas/ > Namun jauh sebelum itu, Emas telah dikenal sejak 40 ribu tahun sebelum > masehi. Sejumlah suku pedalaman sudah mengenal Emas dan dijadikan sebagai > alat budaya khususnya perlengkapan spiritual kuno. Dalam sejarah, masyarakat > Mesir Kuno (Circa) tahun 1932 sebelum masehi mereka memakamkan Raja > Tutankhamen dalam peti Emas seberat hampir 2..500 pound. Raja Croesus dari > Lydia (kini merupakan wilayah Turki) pada 560 tahun sebelum Masehi > memerintahkan pembuatan koin emas pertama dan peristiwa ini menandai sejarah > emas sebagai alat untuk bertransaksi. Bangsa Romawi sendiri pada tahun 50 SM, > mulai menggunakan koin Emas sebagai alat transaksi. > > Sebagai komoditi pertambangan, Emas mempunyai sejarah yang sangat panjang. > Diperkirakan sejarah penambangan Emas sudah dimulai sejak 2000-5000 tahun SM. > Begitu panjangnya usia kegiatan pertambangan Emas tentunya juga banyak > mengalami perubahan metoda, dimulai dengan cara pertambangan tradisional > yaitu menggunakan gravitasi atau amalgamasi air raksa, kemudian motoda > Sianida, flotasi dan heap leaching. Pertambangan Emas terbesar saat ini > adalah Afrika Selatan, kendati demikian tidak berarti Afrika Selatan memilki > cadangan emas terbesar. Sesuai sifatnya Emas memang tidak habis dikonsumsi, > berbeda dengan komoditi lain yang habis dikonsumsi sehingga memungkinkan > negara lain yang tidak memilki tambang Emas yang banyak tetapi justru memilki > cadangan Emas yang besar, hal ini terkait dengan fungsi Emas sebagai cadangan > devisa dan instrumen moneter serta investasi. > > === > http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/tambang-emas-freeport-kekayaan-negara-yang-terampas-3.htm > Dalam KK Generasi I, Freeport dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, > royalti dan dividen sampai tahun 1976. Sementara dari tahun 1976-1983 > pemerintah hanya mengenakan pajak penghasilan badan (PPh) sebesar 35% (pada > saat tarif pajak yang berlaku 41, 75%). Setelah tahun 1983, PPh yang > dikenakan meningkat menjadi 41,75%. Sepanjang tahun 1974-1984, renegosiasi > ketentuan kontrak, terutama terkait pajak dan royalti, serta pemilikan saham, > terus dilakukan. Hasil renegosiasi tersebut antara lain adalah > diberlakukannya royalti sebesar 1,4%-3,5% atas penjualan bersih tembaga, dan > royalti 1% atas penjualan emas dan perak. Kesepakatan tentang royalti ini > tertuang dalam ketentuan KK Generasi V. > > Pembayaran pajak Freeport kepada pemerintah, seperti tercermin dalam Laporan > Keuangan Freeport McMoran Copper and Gold, Co. (FCX), mengalami evolusi dari > tahun 1973 sampai 1995. Pada tahun 1986, misalnya pajak yang dibayarkan US$ > 5,9 juta. Jumlah ini meningkat menjadi US$ 190, 7 juta pada tahun 1995. Pajak > yang dibayarkan ini relatif kecil jika dibandingkan dengan pendapatan FCX. > Pada tahun 1986 misalnya, pajak ini hanyalah 7% dari pendapatan FCX, > sedangkan tahun 1995 jumlahnya 10% dari pendapatan FCX. Sementara itu, > berdasarkan Kontrak Karya Generasi V, saham Indonesia di PT Freeport > Indonesia mencapai 20% dan PT Freeport Indonesia diharuskan membayar pajak > penghasilan badan sebesar 35% dan pajak deviden dan bunga sebesar 15%, serta > royalti atas penjualan produknya. > > > === > Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits > http://media-islam.or.id > Milis Ekonomi Nasional: [email protected] > > > > Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya > sekarang! http://id.mail.yahoo.com >

