http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=247056
SKANDAL BANK CENTURY
Berbahaya jika Pansus Sampai "Masuk Angin"
Sabtu, 20 Februari 2010
JAKARTA (Suara Karya): Kredibilitas fraksi-fraksi di DPR sangat
dipertaruhkan terkait rekomendasi atau hasil akhir Pansus Angket Bank Century.
Jika Pansus "masuk angin", yaitu menyembunyikan atau memanipulasi fakta dan
bukti pelanggaran berikut nama-nama mereka yang bersalah dalam kasus skandal
Bank Century demi kepentingan kekuasaan, kepercayaan publik terhadap parpol di
DPR niscaya tandas.
Peringatan itu diutarakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
(PBNU) Hasyim Muzadi dan aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak)
Effendi Ghazali di Jakarta, Jumat.
Hasyim Muzadi mengingatkan, inkonsistensi rekomendasi akhir
fraksi-fraksi di Pansus dibanding pandangan awal masing-masing bisa menyebabkan
gangguan terhadap stabilitas sosial ekonomi masyarakat.
Menurut Hasyim, selama Pansus bekerja hingga hampir tiga bulan,
masyarakat disuguhi berbagai informasi dan data berbagai pelanggaran kasus Bank
Century secara terbuka dan transparan. Dengan demikian, masyarakat luas bisa
menilai dan bahkan memprediksi rekomendasi/laporan akhir Pansus.
"Kalau kemudian kebenaran data dan fakta itu dimanipulasi
fraksi-fraksi di Pansus, ini mengundang bahaya. Masyarakat sudah tahu, tapi
disuruh tidak tahu. Kotak pandora yang sudah dibuka lebar jangan coba
ditutup-tutupi dengan alasan apa pun," ujar Hasyim.
Dia mengingatkan, apabila publik kecewa terhadap hasil akhir
Pansus, maka ketidakpercayaan terhadap parlemen akan semakin kuat dan meluas.
"Jadi, fraksi-fraksi atau partai di DPR jangan memicu kemarahan publik," tutur
Hasyim.
Meski demikian, dia menegaskan bahwa PBNU sendiri akan tetap
bersikap dalam koridor moral politik saja. PBNU tidak akan memasuki ranah
politik praktis. "Kami hanya ingin mengingatkan partai politik dan politisi di
DPR agar menjunjung tinggi kebenaran," katanya.
Effendi Ghazali juga mengingatkan, hasil akhir atau rekomendasi
Pansus akan memengaruhi tiga hal, yakni masa depan DPR, masa depan politikus
muda di Pansus, dan masa depan partai-partai mitra koalisi.
"Ini (angket Bank Century) adalah momentum DPR untuk mengembalikan
citra parlemen di mata masyarakat. Seperti kita ketahui, energi masyarakat
sekarang tersita untuk Pansus, bahkan kinerja DPR yang lain tidak terlihat.
Jadi, kalau mau mengembalikan citra DPR dan bahkan parpol, inilah saatnya,"
ujar Effendi.
Dia khawatir, meskipun kini banyak muncul politikus muda yang vokal
dan kritis, toh mereka bisa dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan. Alhasil,
keputusan Pansus dikhawatirkan tidak jauh berbeda dengan hasil pansus-pansus
sebelumnya.
"Kalau itu terjadi, maka masa depan politisi muda yang kritis di
DPR akan habis. Rakyat tidak lagi percaya terhadap mereka dan juga partai
mereka. Ini bisa menjadi modal yang buruk pada pemilu mendatang," tutur
Effendi.
Sementara itu, mengenai sikap fraksi-fraksi di DPR dalam pandangan
awal mereka atas kasus Bank Century, Effendi berpendapat, skor 7:2 jauh lebih
bermutu dibanding skor 9:0 yang ditunjukkan Pansus dalam dua kali penyampaian
pandangan masing-masing fraksi.
Untuk penyampaian pandangan awal fraksi-fraksi atas kasus itu yang
berakhir dengan skor 7:2, kata Effendi, terlihat dengan jelas dua pihak yang
menyerang dan bertahan.
Menurut dia, apabila skor 9:0 yang terus digemakan, maka ujung
semua penyelidikan skandal Bank Century sudah jelas, yakni hanya akan
menimpakan semua kesalahan kepada Deputi Pengawasan BI. Sementara pihak-pihak
lain yang seharusnya lebih bertanggung jawab terbebaskan.
"Apabila keputusan final itu yang benar-benar terjadi di DPR, maka
rakyat akan bertanya, pasti ada apa-apanya," ujar Effendi.
Sementara itu, Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
menyatakan akan menyebutkan nama-nama orang yang dianggap bertanggung jawab
dalam kasus Bank Century pada pandangan akhir fraksi di rapat konsultasi
internal Pansus, Rabu (24/2).
"Sikap Partai Golkar pada pandangan fraksi sangat jelas akan
menyebutkan nama-nama orang yang dianggap bertanggung jawab atas pemberian dana
talangan ke Bank Century," kata anggota Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo
dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, Partai Golkar perlu menyebutkan nama orang yang
dianggap bertanggung jawab, karena penyelidikan Pansus itu menemukan data dan
fakta adanya pelanggaran pada proses pemberian fasilitas pendanaan jangka
pendek (FPJP) dan penyertaan modal sementara (PMS) ke Bank Century.
Kerja Pansus selama ini, kata Bambang, telah dipublikasi secara
intensif oleh media sehingga semua persoalan sudah gamblang dan transparan.
Partai Golkar sendiri, ujarnya, sudah menyampaikan pandangan awal yang
menyatakan sejumlah lembaga bertanggung jawab dalam kasus Bank Century ini,
yakni Bank Indonesia, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Komite
Koordinasi (KK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Anggota Pansus dari Fraksi PKS Andi Rahmat mengatakan hal senada.
Menurut dia, FPKS akan menyebutkan nama-nama orang yang dianggap bertanggung
jawab pada pandangan akhir fraksi, terutama terkait temuan tentang FPJP dan
PMS.
"Penyebutan nama-nama tersebut untuk mempertegas persoalan agar
lebih fokus," katanya.
Jika pada pandangan akhir Pansus tidak menyebutkan nama, maka Andi
khawatir kasus Bank Century ini menjadi bias.
Di lain pihak, Sekjen DPP Partai Demokrat Amir Syamsuddin
mengatakan, kerja Pansus belum sampai pada kesimpulan akhir yang akan
ditetapkan pada rapat paripurna DPR, 2 Maret 2010.
"Apakah perlu disebutkan nama atau tidak, kita tunggu saja pada
pembahasan di rapat paripurna DPR," katanya.
Sementara itu, Juru Bicara Presiden Julian Aldrim Pasha menyatakan,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono percaya Pansus akan menghasilkan rekomendasi
yang positif bagi semua pihak. "Sepanjang itu dalam koridor kelaziman yang
memang ada dalam proses, ya kita ikuti," kata Julian. (Rully)
[Non-text portions of this message have been removed]