From: halim hd <halimh...@yahoo. com>
Subject: [indonesianvillage] PLAGIARISME, DEMO & TEROR
To: "jurnal perempuan" <jurnalperempuan@ yahoogroups. com>, panying...@yahoogro
ups.com, "bugis komunitas" <bugin...@yahoogroup s.com>, "kawula muda"
<kam...@yahoogroups. com>, "kota kota palu" <kotap...@yahoogroup s.com>,
"sulawesi tengah" <sult...@yahoogroups .com>, "antariksa kunci"
<kunc...@yahoogroups .com>, Ngobrolin_Teater@ yahoogroups. com, "POJOK TEATER"
<pojokteater@ yahoogroups. com>, "kampoeng medan"
<kampoengmedan@ yahoogroups. com>, "penulis lepas" <penulislepas@ yahoogroups.
com>, "teater gama" <teaterg...@yahoogro ups.com>, "warung gayeng"
<warung-gayeng@ googlegroups. com>, "pembacakompas fpk" <forum-pembaca-
kom...@yahoogrou ps.com>, cotomakassar@ yahoogroups. com, "pendidikan
kebudayaan" <dik...@yahoogroups. com>, "perpustakaan perpus" <perpustakaan@
yahoogroups. com>, "Jurnalisme Sastra" <jurnalisme-sastra@ yahoogroups. com>,
"WONG BANTEN" <wongban...@yahoogro ups.com>, "milisrumahdunia rumah dunia"
<rumahdu...@yahoogro ups.com>, "indonesia village" <indonesianvillage@
yahoogroups. com>
Date: Saturday, February 20, 2010, 12:18 AM
KRONOLOGIS AKSI DEMO MAHASISWA UNTIRTA TERHADAP KASUS PLAGIARISME
Pemberitaan media massa tentang kasus
plagiat yang dilakukan oleh guru besar kami Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat,
membuat kami para mahasiswa UNTIRTA yang CINTA KEJUJURAN dan PEDULI KAMPUS
merasa
terkhianati dan dibohongi. Oleh karena itu kami para Mahasiswa UNTIRTA
melakukan berbagai rencana dan pengkajian terhadap artikel guru besar kami.
Beberapa malam tepatnya dua malam
sebelum melakukan gerakan aksi demo tersebut, sudah menemukan data-data valid
tentang artikel yang diplagiat oleh Sholeh Hidayat. Dan kami melakukan kajian
analisis paragraph per paragraph membedah artikel tersebut. Dan Malam itu,
Kamis (18/2) jam 18.00 s/d 21.00 melakukan rapat pertemuan dan sudah siap untuk
turun kejalan dengan membuat petisi atau surat
tuntutan kami terhadap guru besar UNTIRTA yang melakukan plagiat, untuk
disampaikan ke Senat dan komisi etika kampus.
Malam itu, teman-teman sudah
mempersiapkan berbagai macam yang bersangkutan tentang akis kami besok pagi.
Dan menurut salah seorang teman kami, yang mengkaji data dan mengkonfirmasikan
ke mahasiswa hukum. Ternyata, kasus plagiat ini termasuk kedalam tindak
kebohongan publik dengan berbagai persoalan lain yang masih menyangkut dengan
Sholeh Hidaya serta beberap stafnya di LPPM UNTIRTA, maka kami sepakat untuk
aksi bersama-sama besok menuntut hal itu. Tetapi, ketika malam berganti pagi
dan kami dari para mahasiswa yang hendak turun aksi, mendapati teman-teman
mahasiswa dari beberap jurusan bahkan fakultas yang mau ikut gabung berkurang.
Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat kami para mahasiswa Cinta Kejujuran
dan Peduli Kampus UNTIRTA. Meski hanya ada sekitar 20-25 orang, kami tetap
melakukan aksi tersebut.
Sekitar pukul 10.20 WIB, kami
aksi di depan rektorat dengan melakukan orasi-orasi yang mengumandangkan
kebohongan palsu, pengkhianatan dan kebodohan public yang mencontreng nama baik
kampus UNTIRTA terhadap artikel Sholeh Hidayat. Di aksi demo tersebut kami
dilayani langsung oleh Pembantu Rektor Satu, bapak Sadeli Hanafi, dan beberap
staf rekotorat lainnya. Kami membacakan tuntutan kami, dan menolak keras
plagiarisme yang dilakukan oleh guru besar kami. Sebab, hal itu sama halnya
memberikan stigma buruk terhadap kampus UNTIRTA dan khususnya mahasiswa Cinta
Kejujuran
dan Peduli kampus UNTIRTA.
Inilah tuntutan kami:
mendesak senat Untirta untuk segera menindak tegas
Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd., yang telah melakukan plagiasi
(jiplakan)mendesak senat Untirta untuk mengeluarkan putusan
tentang pencopotan gelar Profesor, Sholeh Hidayat.mendesak Prof. Dr. H.
Sholeh Hidayat, M.Pd., untuk
mengakui tindakan plagiasi yang dilakukannya dan meminta maaf kepada
seluruh sivitas akademika kampus UNTIRTA, dan masyarakat Indonesia
.seluruh sivitas akademika UNTIRTA harus menjunjung
tinggi nilai-nilai kejujuran.
Dari empat tuntuntan tersebut
ditanggapi langsung oleh PR 1, dan katanya tuntutan nomor dua bukan wewenang
Senat UNTIRTA, karena penyematan gelar Profesor itu atas kewenangan Mendiknas.
Dan kami menerima itu, tapi kami meminta agar Senat UNTIRTA melakukan tindakan
atau keputusan atas tindak plagiasi yang dilakukan oleh Prf. Dr. H. Sholeh
Hidayat, M.Pd., dan kami juga meminta Senat UNTIRTA menggelar sidang terhadap
Sholeh Hidayat dengan menghadirkan para penulis yang tulisannya di jiplak, para
Senat UNTIRTA, pakar Linguistik, dan para media massa. Setelah itu, surat
pernyataan atau
tuntutan kami ditandatangani oleh PR 1 dengan harapan kasus plagiasi itu cepat
diproses dan menginformasikan keputusannya, di tunggu paling lambat 4 x24 jam.
Setelah demo di depar gedung
rektorta dan dilayani langsung oleh PR 1 dan para staf nya. Kami pindah aksi
deo di depan gedung LPPM, dengan harapan pak Sholeh Hidayat mengakui tulisannya
tersebut memang plagiat. Namun, beberapa menit kemudian, kami para aksi demo
disuruh masuk kedalam mendiskusikan hal kasus tersebut.
Di dalam ruangan gedung LPPM
sudah hadir Sholeh Hidayat (ketua LPPM sekaligus orang yang melakukan
plagiasi), Hidayatullah Haila, (sekretaris LPPM), Budi ( alumni UNTIRTA dan
dosen Teknik yang mendampingi kedua orang tua tersebut) dan para staf LPPM
lainnya yang berdiri, duduk menyaksikan peristiwa tersebut. Dari kami mahasiswa
Cinta Kejujuran dan Peduli UNTIRTA, Ihya (selaku korlap dan presma UNTIRTA),
Nidu (perwakilan BELISTRA) dan Wahyu (perwakilan mahasiswa) serta mahasiswa
lainnya yang menyimak diskusi/pembicaran tersebut.
Dalam pembicaran tersebut, kami
meminta pak Sholeh Hidayat mengakui tulisannya tersebut memang plagiat, dengan
apa yang sudah kami analisis dan konfirmasi ke media yang bersangkutan. Akan
tetapi, lagi-lagi Profesor tersebut tidak mengakui kesalahannya, bahkan ia
mencak-mencak menyebutkan jasa-jasanya di UNTIRTA, awal pertama kali di duduk
di UNTIRTA, dan berbagai macam lainnya, dengan dibantu sekretaris dan dosen
teknik tersebut.
Perdebatan tersebut berkahir
menjelang beberapa menit sholat Jumat. Dan kami para mahasiswa undur diri untuk
bubar dengan kesimpulan bahwa pak Sholeh Hidayat tidak mengakui bahwa dia
melakukan kesalahan. Sholat Jumat selesai dan kami para mahasiswa melakukan
aktvitasnya masing-masing. Namun, yang membuat kami tercengang adalah, ketika
salah satu mahasiswa bahkan sebagian mahasiswa yang awalnya akan ikut gabung
aksi dan tidak itu aksi, berdasarkan informasi mendapat anacaman yang tidak
mengenakan dari pihak LPPM mengenai kasus plagiasi Sholeh Hidayat ini. Dan
tidak tanggung-tanggung, ancamannya adalah ancaman pembunuhan.
Saya, dan teman-teman mahasiswa
Diksatrasia yang tergabung dalam mahasiswa Cinta Kejujuran dan Peduli UNTIRTA
merasa terkejut. Dari hal itu saya atau kami memahami hal itu sambil
membincangkan kembali kasus tersebut.
Menjelang malam, tepatnya sebelum
adzan magrib berkumndang. Saya dan teman saya Nita mendatangi PKM BEM UNTIRTA
untuk menyelamatkan data-data dan arsip Koran yang masih berhubungan dengan
kasus plagiasi tersebut. Tanpa di sangka-sangka empat orang dari pihak LPPM
dating ke PKM BEM UT menanyakan tentang aksi demo tadi dan
menanyakan siapa Korlapnya. Begini kalau mau jelasnya:
“Assalamualaikum.” Dua laki-laki
itu masuk ke ruang BEM ketika kami sedang membereskan Koran.
“ Ada ketua BEM-nya?”
“Nggak ada pak. Emang ada apa
ya?” kata teman saya Nita.
“Nggak, Cuma mau ngomong aja.
Korlap yang tadi demo siapa ya?” Tanya laki-laki itu dengan nada tak bersahabat.
“Iya, emang ada apa pak? Korlapnya
ketua Presma.” teman saya Nita.
“Bapak dari mana?”
“Kami dari LPPM.” Dua laki-laki
itu masuk sambil melihat-lihat isi ruangan dengan wajah masam.
Saya dan teman saya agak sedikit
curiga mencoba untuk tenang.
“Tadi, ikut aksi tidak.”
“Iya, ikut. Emang ada apa?”
“Kami mau ngomong nih.”
“Wah, kalau mau ngomong enaknya
harus ada ketuanya deh…”
“Iya, kami mau ngomong masalah
demo tadi.”
“Emang tujuan demo tadi apa?”
“Wah, pak. Kalau ngomong sekarang
nggak enak kalau tidak ada teman-teman yang lainya. Enaknya banyak saja pak.”
“Iya, tahu nomor presma tidak?”
Teman saya Nita meminta kepada
teman yang lain yang sedang main laptop sedang saya berdiri mengamati dua
lelaki yang masuk di ruang BEM tersebut.
“Ini pak nomornya.”
“Ketua Presmanya sedang ke
Pandeglang.” Kata saya. “Tapi nggak tahu pulangnya kapan.”
Kumandang adzan magrib pun
terdengar. Saya dan teman saya hendak pulang, dan dua dari empat laki-laki itu
masih berjaga di luar ruangan. Masih menanyakan hal yang sama tentang demo aksi
tadi.
Dan kami buru-buru pulang, tapi
mereka menitipkan pesan bahwa dua dari empat laki-laki itu, “tolong sampaikan
salam dari Leo dan Eidi.”
Kami buru-buru pulang dan
menghubungi teman-teman yang ada diluar supaya tidak dating ke kampus karena
akan disantroni oleh pihak LPPM yang sepertinya beritikad tidak baik.
wasalam
Muhden
Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!
__________________________________________________________
Coba Yahoo! Messenger 10 Beta yang baru. Kini dengan update real-time,
panggilan video, dan banyak lagi! Kunjungi http://id.messenger.yahoo.com/
[Non-text portions of this message have been removed]