dagelan!, "bahwa semua nabi bani israel adalah muslim, coba saja ngomong ke org 
israel!, jgn ngawur, 

agama islam itu ada setelah muhammad berusia 40 tahun, sebelumnya kata Allah 
sdh ada terbukti ada nama2 tokoh Abdullah (hamba Allah), bgmn ada kata2 Allah 
sdgkan blm ada AlQuran?

kalau mmg kata Allah tdk bs dipakai agama lain, lebih baik mulai skrg 
diinventaris kata2 yg sdh ada sebelum agama Islam ada, spt kata"amin", kmd 
nama2 nabi2 yg sdh ada pada kitab2 suci terdahulu , maka dilarang disebut2 oleh 
orang2 Islam, spt Adam sampai dgn Isa Al Masih.

 



________________________________
From: Heru sulistiyo <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
Sent: Thursday, February 4, 2010 15:38:30
Subject: [ppiindia] Fw: [Penulismuslim] Penggunaan Kata 'Allah' Tak Sekedar 
'Politik"

  
ikut melanjutkan dari milis lain :)

 

----- Forwarded Message ----
From: cakilis <caki...@yahoo. com>
To: kk_h...@yahoo. com
Sent: Thu, February 4, 2010 3:36:23 PM
Subject: Fw: [Penulismuslim] Penggunaan Kata 'Allah' Tak Sekedar 'Politik 
Semata'

--- On Thu, 2/4/10, caklis <cak...@yahoo. com> wrote:

>From: caklis <cak...@yahoo. com>
>Subject: [Penulismuslim] Penggunaan Kata 'Allah' Tak Sekedar 'Politik Semata'
>To: Penulismuslim@ yahoogroups. com
>Date: Thursday, February 4, 2010, 3:23 PM
>
>
>  
>http://www.hidayatu llah.com/ opini/pemikiran/ 10624-penggunaan -kata-allah- 
>tak-sekedar- politik-semata. html
>
>
>Penggunaan Kata 'Allah' Tak Sekedar 'Politik Semata' 
>Thursday, 04 February 2010 13:48 
> 
>Masalah penggunaan kata "Allah" seharusnya dikembalikan ke ranah teologis, dan 
>jangan terpancing untuk mengaitkannya dengan wacana politik semata
> 
>
>Oleh: Asmu'i*
>
>
>Miris, kontroversi penggunaan "kata Allah" di Malaysia digembar-gemborkan 
>sebagai wacana politik semata. Sejumlah tulisan di beberapa media massa ambil 
>bagian dalam upaya ini. Tak ayal, masalah teologis ini menjadi "seakan-akan" 
>tidak memiliki akar yang jelas dalam ranah agama.
>
>Tentu, upaya ini bukan tanpa alasan. Agaknya, pendukung keputusan Mahkamah 
>Tinggi Kuala Lumpur pada 31 Desember 2009 yang membenarkan penggunaan kata 
>''Allah'' oleh surat kabar Katholik Herald-The Catholic Weekly terbitan Gereja 
>Katolik Roma, Malaysia, berusaha menjegal upaya banding pemerintah Malaysia 
>atas keputusan tersebut dengan mengait-ngaitkannya dengan isu politik. Yang 
>mereka inginkan satu, semua orang melihat masalah tersebut hanya 
>dilatarbelakangi oleh kepentingan politk belaka. Jika berhasil, tentu ini akan 
>menjadi tekanan ke pemerintah, sebab wacana yang akan berkembang, bahwa 
>keputusan pemerintah yang tidak mendasar itu telah memicu lahirnya kekerasan.
>
>Kita tahu, masalah penggunaan kata "Allah" menyita perhatian publik 
>internasional, baik umat Islam secara khusus maupun non muslim. Karena itu, 
>mengembalikan masalah tersebut ke akar masalahnya (ranah teologis) adalah satu 
>keniscayaan. Sehingga, semua pihak dapat menilai dan bersikap secara 
>proporsional dan tepat. Untuk itu, tulisan ini akan mengulas 'mengapa mengatur 
>penggunaan kata "Allah" itu penting. Di sini juga akan dijelaskan 'posisi' 
>pemerintah sebagai pihak pengemban amanah.
>
>'Allah' Nama Tuhan Agama Tauhid (Islam)
>
>Dalam al-Qur'an, disebutkan bahwa mulai dari Nabi Yunus (QS. Yunus: 72), Nabi 
>Ibrahim (Ali Imran: 67), dan semua Nabi dari Bani Israil (QS. Yunus: 84, QS 
>An-Naml: 44, dan Ali Imran: 52) adalah muslim. Ini menunjukkan bahwa agama 
>mereka adalah Islam, bukan Yahudi atau Kristen misalnya. Sebab, yang dibawa 
>para Nabi itu adalah ajaran Tauhid, menyembah Allah Yang Esa. Rasulullah juga 
>menegaskan ini, sebagaimana sabda beliau,"Aku (Rasulullah SAW) orang paling 
>dekat dengan Nabi Isa bin Maryam di dunia maupun di akhirat. Nabi-Nabi adalah 
>bersaudara, agama mereka adalah satu meskipun ibu-ibu mereka berlainan." (HR. 
>Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Imam Ahmad). Semua ini dapat kita pahami dan 
>yakini karena sumber kita (al-Qur'an dan al-Hadits) tidak bermasalah. Bagi 
>kita, al-Qur'an dan al-Hadith itu sifatnya tetap dan final.
>
>Wahyu juga menjadi sumber final konsep Ketuhanan dalam Islam. Karena itu, 
>tidak ada unsur-unsur praduga di dalamnya. Hatta, nama Allah telah termaktub 
>secara jelas di dalamnya. Allah subhanawataala   berfirman:"Sesunggu hnya Aku 
>ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku 
>dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Taha: 14). Allah  juga 
>berfirman,"Sesunggu hnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa 
>ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka 
>menyombongkan diri (QS. 35). Secara implisit, kalimat La Ilaha Illallah  dalam 
>ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah itu merupakan nama diri, bukan gelar 
>atau penisbatan tertentu. Yang demikian ini disebut sebagai isim jamid, atau 
>kata benda yang tidak berasal usul dari kata lain sebagaimana isim musytaq 
>(baca:Tafsir al-Qur'an al-'Adzim Juz I). Pendapat ini juga didukung oleh Imam 
>Syafi'i dan Imam al-Ghazali.
>
>Demikian juga dengan cara mengucapkannya, juga berdasarkan sumber yang jelas, 
>yakni ajaran Rasulullah saw. Karena itu, tidak ada perselisihan di kalangan 
>umat Islam tentang hal itu. Selain itu, dalam firman-Nya QS. Al-Isra': 110, 
>Allah telah melarang kita untuk memanggil-Nya dengan panggilan yang tidak Ia 
>sebutkan dalam kitab-Nya. Jadi, kita hanya boleh memanggil-Nya dengan 
>nama-nama yang ada dalam wahyu-Nya, yang kita kenal sebagai al-asma' al-husna. 
>Di sini, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa nama-nama itu menunjukkan 
>kepada satu Zat Yang Esa, Allah (baca: Tafsir Thabari danTafsir al-Qur'an 
>al-Adzim).  
>
>Yahudi dan Kristen bukan Agama Tauhid
>
>Hari ini, agama-agama sebelum Islam sulit dipastikan keotentikannya, sebab 
>pemeluknya telah melakukan perubahan pada kitabnya (QS. 2: 59, 75, 79 & 4: 
>46). Sehingga, Yahudi dan Kristen yang sekarang bukanlah agama yang dibawa 
>oleh Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Isa. Apalagi, secara tegas al-Qur'an telah 
>menyatakan bahwa Nabi Ibrahim itu bukanlah Yahudi atau Nasrani, tapi Muslim 
>(QS 3:67). Dan Nabi Isa telah mengajak kaumnya (bangsa Yahudi) untuk mengimani 
>Nabi Muhammad saw, namun mereka menolaknya (QS ash-Shaf:6).   
>
>Monoteisme yang ada dalam Yahudi tidak sama dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, 
>Tauhid adalah pengakuan Allah sebagai Tuhan Maha Esa. Tauhid memiliki tiga 
>karakteristik, pertama, menafikan Dzat yang banyak;kedua, menafikan 'yang 
>menyamakan' (al-Nadzir) dalam dzat-Nya; dan ketiga, Keesaan-Nya dalam 
>mengatur, menciptakan tanpa perantara dan bantuan dari apapun (baca: Hasyiyah 
>al-Dasuki 'ala Umm al-Barahin). Sementara Yahudi, sampai saat ini masih 
>berselisih tentang 'siapa Tuhan yang satu' yang mereka maksud. Ada yang 
>mengidentifikasinya sebagai 'Yahweh'. Selain itu, dalam tradisi Yahudi, nama 
>Tuhan tidak boleh diucapkan (baca:Oxford Concise Dictionary of World 
>Religions). 
>
>Kontroversi dalam masalah Ketuhanan juga terjadi dalam Kristen. Konsep Yesus 
>baru populer setelah konsili Nicea tahun 325 yang diadakan oleh Kaisar 
>Constantine. Dalam masalah tersebut, peran Paulus sangat kental (baca: Kodiran 
>Salim & M.I Ananias). Konon, sebelumnya Jemaat awal Kristen masih menyembah 
>Allah Yang Esa dan menganggap Yesus sebagai seorang utusan Allah (baca: M.I 
>Ananias). Tidak hanya itu, selanjutnya pembicaraan melebar kepada konsep bahwa 
>Allah itu satu dalam tiga pribadi, yakni Allah Bapa, Allah Anak (Yesus) dan 
>Allah Roh Kudus (baca: Frans Donald). Mengenai ini, seorang agamawan Kristen 
>asal Belanda, C. Groenen Ofm mengatakan bahwa konsep Kristen tentang Ketuhanan 
>Yesus adalah misterius dan tidak dapat dijangkau akal manusia.
>
>Tidak berhenti di situ, di tahun 1930 di Amerika Serikat, berdiri apa yang 
>dikenal sebagai Gerakan Nama Suci untuk mengembalikan ajaran Kristen kepada 
>akar Yudaik (Hebraic Roots Movement). Masalah penyebutan nama Tuhan termasuk 
>yang mendapat perhatian serius gerakan ini. Mereka ini secara terang-terangan 
>menolak penggunaan kata Allah, karena bukan dari tradisi Yudaik. Di Indonesia, 
>dari gerakan tersebut lahir Bible versi khusus, namanya Kitab Suci Torat dan 
>Injil. Di dalamnya, nama Allah diganti kata Elohim, kata TUHAN diganti Yahweh, 
>dan kata Yesus diganti Yesyua Hamasyah (baca:Gerakan Nama Suci, Nama Allah 
>yang Dipermasalahkan) . Demikianlah, pelarangan penggunaan kata Allah dari 
>dalam tubuh Kristen sendiri sudah ada. Kiranya, cukuplah ini menjadi bukti 
>bahwa seperti halnya Yahudi, Kristen itu juga bukan agama tauhid.
>
>Kewajiban Pemerintah
>
>Di Malaysia, Islam adalah agama resmi negara (agama Persekutuan) . Dimana 
>melindungi 'aqidah Islam' merupakan salah satu tugas pemerintah. Sesuai tugas 
>ini pula, kaum non-Muslim dilarang menyebarkan agama mereka kepada kaum 
>Muslim. Realisasi ini bisa dilihat misalnya, di hampir seluruh Negara bagian 
>di Malaysia, ada peraturan yang melarang kaum non-Muslim menggunakan sejumlah 
>istilah khas dalam Islam, seperti kata 'Allah' ini.
>
>Pelarangan pemerintah itu juga sangat relevan dan penting, sebab disinyalir 
>ada "misi Kristen" di balik penggunaan kata Allah. Ini bisa dilihat misalnya, 
>dalam majalahKatolikHeral d edisi bahasa Inggris, tidak ada penggunaan kata 
>Allah. Namun, dalam edisi bahasa melayu, kata Allah mereka gunakan.
>
>Demikianlah, dalam Islam tanggung jawab seorang pemimpin (pemerintah) itu 
>tidak hanya pada masalah-masalah keduniaan saja. Namun juga mencakup 
>masalah-masalah akhirat (baca: al-Siyasah al-Syar'iyyah danal-Tarbiyyah 
>al-Islamiyyah) .
>
>Sementara itu, pandangan yang melihat adanya keterpisahan antara urusan 
>duniawi dan akhirat adalah cara pandang sekuler. Tentu saja cara pandang yang 
>demikian bertolak belakang secara diametris dengan ajaran Islam. Sebab, 
>pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada manusia (rakyat) semata. Tapi 
>juga bertanggung jawab kepada Allah. Demikianlah seharusnya pandangan hidup 
>Islam (Islamic worldwiew) dipraktekkan. Dimana konsep tauhidillah menjadi 
>karakteristik dan dasar utamanya (baca: al-Tasawwur al-Islami wa Muqawwimatuhu 
>dan Muqawwimat at-Tasawwur al-Islami). Singkatnya, sangat tidak tepat manakala 
>ada yang melihat satu kebijakan pemimpin/pemerintah an Islam-seperti masalah 
>penggunaan kata 'Allah' di Malaysia-dari kaca mata politik belaka. Sebab pada 
>hakikatnya, seluruh aktivitas kepemimpinan itu  adalah implementasi 
>keberimanannya kepada Allah.
>
>Akhirnya, mari kita lihat masalah kontroversi penggunaan kata "Allah" ini 
>secara mendasar. Agar, keputusan yang kelak ada benar-benar mencerminkan 
>keamanahan kita, khususnya pemimpin (pemerintah) dalam mengemban risalah-Nya. 
>Wallahu a'lam bi as-shawab.  Penulis adalah alumni ke-II Program Kaderisasi 
>Ulama (PKU) Gontor Ponorogo '09. Sekarang sedang menyelesaikan Program Pasca 
>Sarjana di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo, Fakultas Ushuluddin, 
>Jurusan Pemikiran Islam 
> 

[Non-text portions of this message have been removed]





      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke