http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=13471
2010-03-01 Skandal Century dan Kebenaran Politik Oleh: Sarlito Wirawan Sarwono Guru Besar Psikologi, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia, Jakarta joanito de saojoao Dalam filsafat ilmu, kebenaran adalah suatu putusan (hasil pemikiran) yang sama dengan kenyataan. Jadi, kalau kita mengatakan bahwa itik itu bertelur, atau tanaman tidak berindera, maka keputusan kita benar. Kebenaran seperti itulah yang menjadi tujuan ilmu pengetahuan. Tetapi, untuk mencapai kebenaran, apalagi mengatakan kebenaran, sama sekali tidak mudah. Socrates selama puluhan tahun berkelana ke pelosok-pelosok Kota Athena untuk mengobrol dengan masyarakat jelata dan akhirnya menemukan bahwa setiap manusia mempunyai ide. Ketika mengumumkan temuannya, ia diadili dan dihukum mati dengan minum racun karena dianggap gila. Copernicus yang mempelajari matematika seumur hidupnya dan Galileo Galilei dikucilkan dari gereja karena teori Heliosentrik yang mengatakan bahwa bumi yang mengelilingi matahari, bukan matahari mengitari bumi. Teori yang diluncurkan Copernicus pada abad XVI itu dikukuhkan Galileo Galilei pada abad XVII. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, kita pun enggan mengatakan kepada teman wanita yang sudah tak berjumpa selama bertahun- tahun bahwa dia sekarang makin gendut. Kita akan mengatakan ia makin cantik dan makin sehat. Untuk mengatakan kebenaran yang sederhana pun kita harus berhati-hati agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Lain halnya dengan Pansus Bank Century. Dalam tempo hanya dua bulan, 30 anggota Pansus yang sangat terhormat berlomba-lomba mengklaim kebenaran. Tidak peduli apakah pernyataan mereka akan menyinggung orang lain, tidak sesuai dengan fakta, atau menjungkirbalikkan nilai tata krama. Menteri, wakil presiden, dan mantan wakil presiden dilecehkan. Orangtua disapa dengan kata-kata bernada merendahkan, nama Tuhan terus-menerus disebut, seakan-akan Tuhan mendukung mereka. Bahkan antaranggota Pansus sendiri saling melontarkan kata-kata tak senonoh. Semua itu disampaikan atas nama wakil rakyat dan kebenaran. Karena ada sembilan fraksi dalam Pansus, ada sembilan macam kebenaran juga. Di dalam ilmu pengetahuan, jika masih ada perbedaan kesimpulan tentang kebenaran, maka penelitian akan berlangsung terus, hingga ditemukan kebenaran yang hakiki. Para ilmuwan dan ulama Kristen memerlukan waktu 300 tahun sebelum akhirnya menerima teori Heliosentrik sebagai kebenaran. Tentu saja Pansus tidak usah menunggu 300 tahun untuk mencapai kebenaran. Ilmu pengetahuan sekarang sudah mempunyai berbagai metodologi canggih untuk mencapai kebenaran dalam tempo singkat. Dengan metodologi canggih, Densus 88 bisa membongkar tuntas terorisme di Indonesia oleh kelompok Noordin M Top dan Dr Azahari. Kecanggihan metodologi inilah yang tidak dimiliki sebagian besar anggota Pansus. Mereka tidak memiliki kemampuan berpikir mengikuti hukum-hukum logika yang mutlak harus diikuti dalam mencari kebenaran ilmu, walaupun ada anggota yang bergelar master, doktor, bahkan profesor. Akibatnya, metode penyelidikan Pansus tidak berdasarkan argumentasi yang logis, melainkan hanya berdasarkan pengetahuan awam, bahkan tercampur dengan emosi. Ketika emosi sedang memuncak, akal otomatis terganggu jalannya. Itulah sebabnya diskusi di Pansus terdengar seperti debat kusir. Tetapi terlepas dari debat kusir atau debat parlemen, yang penting diamati adalah ke arah mana kerja Pansus ini akan berlabuh. Kita masih ingat bahwa gagasan awal pembentukan Pansus adalah untuk mengetahui ke mana aliran dana Bank Century. Sebagai lembaga politik DPR merasa perlu bahwa Pemilu 2009 harus fair. Sebagian anggota DPR curiga, sebagian dana bailout Bank Century mengalir ke partai dan capres tertentu. Jelasnya, Partai Demokrat dan pasangan SBY-Boediono. Tanpa Hipotesis Dalam ilmu, pernyataan yang jelas itu dinamakan hipotesis. Tanpa hipotesis yang jelas, bisa dipastikan penelitian (dalam bahasa Malaysia disebut "penyelidikan") akan melantur ke mana-mana tanpa arah. Anehnya, dari awal sampai menjelang akhir, tidak ada satu anggota Pansus pun, apalagi Pansus sebagai tim, yang berani menyatakan hipotesis secara jelas. Semuanya dinyatakan dalam kalimat-kalimat tersirat-implisit, tidak pernah secara tersurat-eksplisit, karena tidak ada yang mau disalahkan jika ujung-ujungnya nanti pernyataan itu tidak benar. Padahal, dalam pencarian kebenaran secara ilmiah, hipotesis yang kemudian tidak terbukti adalah masalah biasa. Maka, hasil temuan Pansus sudah dapat diduga, melantur ke mana-mana alias divergen. Kesimpulan divergen yang melebar ke mana- mana itu, kemudian dicoba untuk dikonvergensikan (dikerucutkan) secara paksa dengan menggunakan pendekatan skor sepakbola 7-2, yang kemudian didorong ke arah menjadi 9-0. Untuk menjadikan 9-0 dilakukanlah strategi, taktik, dan lobi politik. Kemudian begitu ada tanda-tanda bahwa kecurigaan adanya aliran dana ke Partai Demokrat dan pasangan SBY-Boediono tidak terbukti, arah investigasi Pansus membelok ke arah kebijakan menteri keuangan dan Gubernur Bank Indonesia waktu itu. Hasilnya belum jelas. Apakah dari 7-2 akan menjadi 9-0 atau 6-3 atau bahkan 5-4. Para politisi masih bermain "sepakbola". "Kebenaran" dijadikan bola untuk ditendang ke sana, ditendang ke sini. Publik bengong karena bingung menyaksikannya. Kalaupun ada hipotesis bahwa ada aliran dana ke Partai Demokrat dan pasangan SBY-Boediono, sejauh ini tidak terbukti. Tapi, proses Pansus bergulir terus. Sebut nama atau tak sebut-nama. Kalau sebut nama, kenapa? Apa hubungannya dengan hipotesis? Kalau tak sebut nama, kenapa? Kalau disebut kenapa? Yang jelas, penyelidikan sudah melebar ke segala arah, tidak terfokus untuk menjawab pertanyaan dan hipotesis awal. Dalam keadaan tidak jelas seperti ini, tetap saja pada 2 Maret 2010, hasil Pansus akan disampaikan dalam rapat paripurna DPR. Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie sudah membuat pernyataan politik bahwa Golkar tidak akan beringsut dari kesimpulan akhir dan siap mengerahkan anggotanya untuk mengantisipasi voting. Lho, kebenaran kok ditetapkan melalui pemungutan suara. Copernicus dan Galileo Galilei kalah voting selama 300 tahun, sehingga dikucilkan dari gereja, tetapi hari ini tidak ada yang tidak sependapat dengan teori bahwa bumi mengelilingi matahari, bukan matahari yang mengelilingi bumi. u [Non-text portions of this message have been removed]

