KH. Abdullah Sajjad, Sumenep – Madura


(Gambar diatas merupakan modifikasi dari lukisan gambar Kiai Abdullah
Sajjad)



Kiai Abdullah Sajjad adalah putra Kiai Syarqawi dari Nyai Qamariyah.
Dilahirkan di Guluk-Guluk Sumenep Madura. Tanggal dan tahun kelahirannya
tidak diketahui secara pasti. Namun demikian, nama besarnya tidak bisa
dilupakan siapa pun.



Beliau adalah pahlawan kemerdekaan yang hidup di pinggiran kota yang bagi
sebagaian orang kurang begitu tertarik untuk mengungkapnya. Memang beliau
bukanlah sosok yang haus anjungan dan bangga dengan publikasi. Tanpa
publikasi sekalipun, semerbak kemasyhurannya dikenal banyak orang. Itu
semua  karena kebesaran dan peran sosial politiknya yang tidak sederhana. Ia
adalah tokoh fenomenal: pendidik, pejuang, dan penulis sekaligus.


Layaknya pemuda yang lahir dari rahim pondok pesantren, Abdullah Sajjad
kecil oleh orang tuanya dikirim untuk mnimba ilmu dari satu pesantren ke
pesantren yang lain. Beliau pernah belajar di pesantren yang paling populer
pada masanya, Pesantren Kadenmangan asuhan Syaikhona Khalil. Selain itu,
beliau juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng jombang dan
Pesantren Panji Sidoarjo.


Setelah beberapa tahun ngelmu di satu pesantren dan beralih ke pesantren
yang lain, Abdullah Sajjad kembali ke habitat awalnya, Guluk-Guluk, untuk
melanjutkan perjuang orang tuannya, yaitu mengembangkan pesantren. Dan sejak
saat itu, beliau diberi kesempatan untuk merintis sendiri sebuah “pesantren”
di pesantren Annuqayah. Inilah awal pemekaran dan pembiakan pesantren
Annuqayah menjadi wilayah-wilayah dengan kebijaksanaan otonom.


Di wilayah barunya yang dikenal dengan Latee inilah Kiai Haji Abdullah
Sajjad mengawali perannya sebagai pengajar yang ulet dan tangguh. Keuletan
beliau terlihat dari aktifitasnya yang membarikan hampior seluruh waktunya
untuk mengisi pengajian kitab setiap usai salat berjamaah, kecuali setelah
salat Maghrib dan salat Subuh yang digunakan untuk pengajian Al-Quran. Tidak
cukup dengan semata-mata mengajar para santrinya, Kiai Haji Abdullah Sajjad
merasa bertanggung jawab dalam perbaikan moralitas masyarakat sekitarnya.
Wujud tanggung jawab ini direalisasikan dengan merintis pengajian umum untuk
masyarakat sekitar pesantren yang dilaksanakan setiap malam Ahad.


Dalam perkembangannya, minat peserta pengajian tidak saja terbatas pada pada
masyarakat yang berdekatan dengan pesantren, tetapi juga meluas hingga ke
berbagai daerah di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan.   Beliaulah yang dikenal
sebagai perintis pertama pengajian umum di Pesantren Annuqayah. Beliau juga
dikenal dekat dengan dan begitu memperhatikan  masyarakat bawah. Ini
misalnya, sebagaimana dikisahkan Kiai Abdul Basith, salah satu putranya dari
Nyai Aminah Az-Zahra’, setiap mendengar ada tetangga sakit, Kiai Abdullah
Sajjad biasanya mengajak sebagian santrinya untuk menjenguk dan sekaligus
membacakan Qasidah Burdah untuk si sakit. Jiwa sosial yang demikian mendalam
mengaliri kepribadiannya.


Kalau Kiai Abdullah Sajjad lebih bergerak di luar, tidak halnya dengan Kiai
ilyas. Kiai Ilyas lebih bergerak dalam membenahi internal pesantren.
Ekspansinya yang demikian luas ke luar ini menyebabkan Kiai Abdullah Sajjad
begitu mudah mendapat pengakuan masyarakat dan sebagai konsekuensinya beliau
pernah terpilih menjadi kepala desa Guluk-Guluk. Penerimaannya untuk menjadi
kepala desa didasarkan pada keinginan beliau untuk menanamkan Islam kepada
warga masyakatnya melalui institusi desa. Dengan demikian, lengkaplah peran
dakwah Kiai Abdullah Sajjad. Di samping ditopang  pola pendekatan kultural
melalui pengajian-pengajian umum yang telah dirintisnya, beliau juga
memanfaatkan pola pendekatan struktural melalui lembaga desa.


Figur yang Kokoh Pendirian


Kiai Abdullah Sajjad merupakan tokoh yang tegas dan berkarakter.  Tokoh yang
satu ini  tangguh dalam membela prinsip yang dipegangi dan lebih bersifat
reaktif, atau bahkan cendrung antipati terhadap pelecehan yang dilakukan
kalangan “modernis”. Sebagaimana diketahui, pertentangan antara kelompok
“modernis” yang kerap diasosiakan dengan dengan Muhammadiyah dan kelompok
“tradisionalis” yang diasosiasikan dengan Nahdlatul Ulama demikian
meruncing, tidak terkecuali pada masa Kiai Abdullah Sajjad. Kiai Abdullah
Sajjad dengan karakternya yang tegas dalam memebela prinsipnya pun terleibat
dalam “pertarungan” gagasan ini. Ini misalnya, sebagaimana diuturakan Kiai
Abdul Basith, dalam lembaran catatannya Kiai Abdullah Sajjad pernah menulis
pembelaan terhadap penggunaan kata ushalli setiap kali memulai salat: satu
hal yang didebat oleh kalangan Muhammadiyah. Model pembelaan ini juga
menunjukkan  konsistensi sikapnya dan ketegasan prinsipnya dalam membela
keyakinan yang dianjurkan para ulama salafus shalih.


Bukti lain yang menunjukkan konsistensi dalam mempertahankan prinsip adalah
anjurannya untuk selalu berhati-hati dan benar-benar mencermati ketika
membaca “kitab-kitab tertentu”.  Sebagaimana diutarakan Kiai Abdul Basith,
Kiai Abdullah Sajjad pernah menulis catatan di lembaran kitab Fushusul Hikam
karya Muhyiddin Ibn ‘Arabi yang menjelaskan anjuran untuk berhati-hati dalam
membacanya sehingga tidak melahirkan kesimpulan yang “menyesatkan”. Tentu
saja anjuran ini merupakan bagian dari pembelaannya terhadap prinsip yang
diyakininya. Tentu saja, pembelaan tersebut diterapkan secara serampangan,
tetapi melalui penelusuran dan pengamatan kritis.


Pejuang Kemerdekaan


Dibacakannya teks proklamasi  pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan wujud
kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan. Namun sayang, meluapnya ambisi
imprealistik menyebabkan Belanda kembali menjajah paska kemerdekaan 1945.
Penjajah terus meluaskan wilayah ekspansinya hingga ke wailayah Madura.
Ketika Belanda untuk kedua kalinya memasuki Madur pada tahun 1947,
kepemimpinan Laskar Sabilillah di Sumenep yang semula dipegang Kiai Mohammad
Ilyas diserahkan  kepada Kiai Abdullah Sajjad yang pada saat itu beliau baru
menjabat klebon (kepala desa) Guluk-Guluk.  Melalui institusi itulah Kia
Abdullah Sajjad menghimbau dan mengajak para warganya untuk terlibat dalam
jalur politik : politik membela agama, bangsa, dan negara. Dihimpunlah
masyarakat dalam wadah yang disebut dengan Laskar Sabilillah: suatu wadah
yang difungsikan untuk menggalang dan menghimpun kekuatan dalam menentang
penjajah yang kembali menguasai Sumenep.  Ajakan ini mendapat respons yang
positif dari warga masyarakat. Apresiasi masyarakat terhadap seruan kiai
tentu saja ditopang oleh pola kehidupan masyarakat yang telah terbentuk
dengan kokoh dan pada saat yang sama  kedudukan kultural kiai pada saat itu
telah mapan. Di pihak yang lain penindasan penjajah kian meningkat dan
disinilah mulai terbentuk solidaritas bersama untuk menghadapi penjajah
sebagai common enemy.


Dibantu keponakannya, Kiai Khazin yang bertindak sebagai pimpinan pasukan,
Kiai Abdullah Sajjad lebih berposisi sebagai pengatur taktik dan strategi
pertempuran. Begitu Belanda terus berusaha masuk ke arah Sumenep,  tentara
Sabilillah dengan gencarnya melakukan perlawanan. Mengingat peralatan perang
Belanda tidak sesederhanan yang dibayangkan, upaya pertahanan terus
dilakukan. Hingga suatu ketika pertahanan tidak lagi mampu membent\dung arus
pasukan belanda, Kiai Khazin selaku pimpinan lapangan mengirim utusan ke
Annuqayah, markas tentara sabilillah, agar pesantren Annuqayah dikosongkan.
Sementara Kiai Mohammad Ilyas mengungsi di dusun Berca, daerah pedalaman
Guluk-Guluk, Kiai Abdullah Sajjad mengungsi ke Karduluk, daerah sebelah
timur Prenduan, dengan ditemani bebrapa santrinya.


Setelah empat bulan di pengungsian, datanglah sepucuk surat yang ditujukan
kepada Kiai Abdullah Sajjad yang berisi pernyatan bahwa Guluk-Guluk aman
terkendali dan Kiai Abdullah Sajjad dimohon untuk kembali ke Pesantren
Annuqayah.  Sebelum surat itu disampaikan kepada Kiai Abdullah Sajjad, pihak
pimpinan pesantren Annuqayah yaitu Kiai Mohammad Ilyas dan Kiai Idris
melakukan musyawarah dan akhirnya keduany apun menyetujui. Kiai Abdullah
Sajjad pun kembali ke Pesantrren Annuqayah. Mendengar kedatangan Kiai
Abdullah Sajjad, sontak saja masyarakat berkunjung ke pesantren untuk
menemuinya. Sementara Kiai Abdullah Sajjad sedang ayik-asyiknya menemani
para tamu di Mushallah sehabis beliau melaksanakan salat Maghrib, tiba-tiba
sembilan serdadu Belanda datang dan menagkap beliau. Kiai Abdullah Sajjad
pun dibawa ke lapangan Guluk-Guluk, dan disanalah beliau mengakhiri usianya
akibat kekejaman dan kelicikan tentara penjajah. Beliau dibunuh di ujung
kerakusan senapan penjajah. Peristiwa berkabung ini terjadi pada tahun 1947.



Meskipun Kiai Abdullah Sajjad telah wafat, namun semangat yang beliau
hunjamkan di sanubari para pengikutnya terus bergelayut dan semangat untuk
berjuang terus bergelora. Beberapa bulan kemudian, Kiai Khazin yang menjadi
pimpinan pasukan Sabilillah yang sekaligus keponankan Kiai Abdullah Sajjad
menyusul kepergian pamannya lantaran sakit setelah kembali dari pengungsian
. Beliau mengungsi ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerejo,
Asembagus Sitobondo. Pesantren ini oleh Belanda dinyatakan sebagai Heillige
Zone (zonal suci) yang merupakan daerah terlarang terlarang bagi tentara
Belanda. Artinya, tentara Belanda dilarang keras untuk memasuki kawasan
tersebut walau untuk menangkap tokoh dan pejuang kemerdekaan sekalipun,
sehingga pondok pesantren dijadikan sebagai penyembunyian dan sarang
pelarian gerilyawan pasukan Indonesia.



Karya Peninggalannya


Di  sela-sela kesibukannya mengurus para santri serta keterlibatannya dalam
pengajaran masyarakat, ditambah lagi dengan keterlibatannya dalam medan
juang melawan penjajah, Kiai Abdullah Sajjad masih bisa menyisihkan waktunya
untuk merenung dan menulis karya. Satu-satunya karya yang menjadi saksi
ketekunan beliau adalah Mandzumatur Risalah yang berisi sembilan puluh
delapan bait nadlam yang isinya mengurai tentang cara berakidah yang tepat.
Kitab ini disuguhkan dengan model tanya jawab dan disusun ddengan format
nadlam. Ada bebrapa poin yang diperbincangkan kitab tersebut, yaitu tentang
makna iman, hakikat iman, cara beriman kepada Allah, cara beriman kepada
para malaikat, cara beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allahm cara
beriman kepada para Nabi, jumlah kitab yang diturunkan, jumlah para Nabi dan
Rasul, cara beriman pada hari akhir, cara beriman pada qadar, dan
sebagainya.  Sebagaimana disebutkan secara jelas dalam salah satu baitnya,
kitab ini ditulis pada tahun 1360. Dan pada pada tahun 1418, Abu Muhammad
Zaqien al-Maduri, nama samaran Kiai Abdul Basith, salah satu putra Kiai
Abdullah Sajjad, memberikan komentar (syarh) singkat  dengan judul kitab
Idlahul Afadil Syarh Mandzumatul Masa’il.


Meskipun beliau hanya meninggalkan sebuah karya, namun semangatnya untuk
meninggalkan karya semacam ini di sela-sela kesibukannya sebagai pendidik
dan pejuang sekaligus merupakan fenomena yang langka.  Dalam situasi sosial
yang penuh pergoalakan ini, beliau hadir mempersembahkan sebuah karya yang
tidak kecil maknanya bagi umat.


Demikaianlah sepotong sejarah pengabdian seorang figur fenomenal yang
mencurahkan hidupnya demi kepentingan agama, bangsa, dan negaranya. Tulisan
ini tidak mungkin mampu melukiskan “warna utuh” perjalanan sejarahnya.
Begitu kaya nuansa yang dilakoninya sehingga mustahil dituangkan dalam
tulisan yang teramat singkat ini. Tapi yang jelas, Kiai Abdullah Sajjad
adalah figur fenomenal.[]



Dari berbagai sumber


-- 
"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke