Jama'ah milis yang dirahmati Allah,
sekedar menyampaikan sebuah wacana.
wassalam,
widi
http://asfa-widiyanto.blogspot.com/
----------------
Ketika Kiai Sepuh Nyantri
02/01/2010 Mengembara untuk mencari ilmu merupakan tradisi pesantren yang
disebut dengan santri kelana, yang menyusuri dari pesantren ke pesantren untuk
mendalami pengetahuan. Ternyata tradisi itu tidak hanya berlaku di lingkungan
santri. Para kiai sepuh juga melakukan hal demikian, seperti Kiai Cholil
Bangkalan, Kiai Dahlan Jampes, termasuk kiai Chozin dari Sidoarjo Jawa Timur.
Kiai Chozin pemimpin pesantren Siwala Panji Sidoarjo, tempat bergurunya para
ulama, termasuk kaia hasyim Asy’ari pernah nyantri di sana di bawah bimbingan
Kiai Chozin. Setelah itu Kiai Hasyim belajar ke Mekah selama beberapa tahun,
belajar pada ulama terkemuka di Haramain. Selama di Mekah Kiai Hasyim menjalin
hubungan dengan para ulama dan santri seluruh dunia dan ulama Nusantara
khususnya. Karena itu sepulang dari Mekah Kiai Hasyim tetap menjadi pimpinan
dan selalu menjadi rujukan para ulama Nusantara karena kealiman dan
kharismanya.
Apalagi setelah mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama tahun 1926 popularitas Kiai
ini semakin membesar, tidak hanya luasnya pengaruh, tetapi kedalaman
keilmuannya. Mendengar kemasyhuran Kiai Hasyim itu tampaknya gurunya yaitu Kiai
Chozin penasaran ingin memperoleh pengetahuan dari bekas santrinya itu,
sehingga pada suatu bulan Romadlon tahun 1933. Kiai sepuh itu berangkat ke
Pesantren Tebuireng untuk mengaji di sana.
Tentu saja kiai Hasyim Asy’ari merasa tidak enak, kiai sepuh dan guru yang
sagnat dihormati itu mengikuti pengajiannya, sehingga memintanya sang kiai
tidak ikut penajian karena beliau adalah gurunya yang lebih alim. Sementara
pengajian hanya untuk para santri. Tetapi dengan tenang Kia Chozin menjawab,
“Memang dulu saya guru sampeyan, tetapi sekarang sampeyan yang menjadi guru
saya.” Mendengar jawaban itu kiai Hasyim tidak berkutik karena ini menyangkut
sabda sang guru yang harus ditaati.
Kiai Chozin kemudian ditempatkan di kamar tersendiri, tidak bersama dengan
santri lainnya. Tetapi hal itu menjadikan Kiai Chozin kurang senang dan minta
ditempatkan dalam kamar bersama santri lainnya. Rupanaya kiai Hasyim tidak
kehabisan akal untuk menghoirmati gurunya. "Begini kiai, sampeyan telah menjadi
santri saya maka sampeyan harus taan pada sang guru."
Kemudian kiai Hasyim membuat beberapa peraturan khusus untuk santri sepuh ini,
pertama, Kiai Chozin wajib menempati kamar yang telah disediakan, kedua, tidak
diperkenankan mencuci pakain sendiri, ketiga, apabila memerlukan sesuatu harus
meminta bantuan langsung kepada Kiai Hasyim, tidak perlu lewat santri. Sebagai
santri dan sekaligus tamu, maka Kiai Chozin akhirnya mengikuti aturan yang
dibuat oleh Kiai hasyim. Karena Kiai ini melihat ini sebagai bentuk
penghormatan Kiai hasyim kepada Sang Kiai.
Selama menjadi santri itu Kiai Chozin memperoleh bukti tentang keluasan dan
kedalaman kiai bekas santrinya itu, maka ia memberikan dukungan sepenuhnya
terhadap gerakan yang dilakukan, baik dalam keagamaan maupun gerakan politik
melawan penjajahan. Karena itu selain para alumni Siwalan Panji diserukan masuk
NU. Demikian juga ketika seruan jihad dikumandangkan pada 22 Oktober 1945,
santri di sekitar Surabaya dan sidoarjo sangat aktif dalam perjuangan itu.
(mdz).
Disadur dari Buku Biografi Muhammad Ilyas, 2009
[Non-text portions of this message have been removed]