Mantap.. hebat.. akurat.. penjelasannya netral n objektif.

hope 4 the best n prepare 4 the worst

knowing is nothing without applying





--- On Sun, 3/7/10, yudha renesanto <[email protected]> wrote:

From: yudha renesanto <[email protected]>
Subject: [ppiindia] Hal menarik seputar karakter asinan terhadap Anand Krishna
To: 
Date: Sunday, March 7, 2010, 1:01 AM







 



  


    
      
      
      *Perhatian, ini tulisan panjang, subyektif, mengandung curcol, dan 
menyebut

nama. Dengan nekat membaca ini, berarti Anda sudah setuju untuk tidak

menuntut dan atau mengutuk saya. :)*



*diambil dari **guhpraset. wordpress. com<http://guhpraset. wordpress. 
com/2010/ 02/19/seputar- karakter- asinan-terhadap- anand-krishna/ #more-1440>

**

*



——-——-——-——-——-——-——-——-——-——-——-



Jadi gini, baru-baru ini saya ditanya-tanya begini:



“*Guh, guru spiritual lu kena kasus cabul ya!*” tanya seorang Mbak Cantik.

“*Guh, Anand Krishna terkait dugaan asusila?*” tanya Mbak lain yg lebih

cantik.

“*Nyet, AK kenapa tuh di TV One?*” tanya seorang yang pasti temannya lintas

spesies.



Yaiks!



Dan saya pun harus kembali bergaul dengan TV. Tadinya saya malas sekali

menonton TV, kecuali kalau terhubung dengan PS2. Malas menonton iklan. Tapi

demi menonton Mbak TR vs AK ya apa boleh bikin.



Saya berhasil nonton berita itu. Berkali-kali.



Dan baru setelah beberapa kali, saya tersadar kalau pemberitaan di TV

itu *tidak

berimbang*. Bagian TR diberitakan dengan mantap dan jelas sekali,

diulang-ulang sampai bosan, nah giliran pihak AK bicara, cuma diperlihatkan

singkat sekali.



Cara pemberitaan begitu membuat saya teringat pada cerita implisit beberapa

teman yang ngakunya bekerja di pabrik PR (bukan Pubic, tapi Public. *Public

Relations*). Secara implisit mereka menyampaikan bahwa “*Sebagaimana

perusahaan PR dibayar untuk mengatur agar media diisi berita yang

menguntungkan klien korporat, sebagai PR kami juga bisa dibayar untuk

mengatur agar media diisi berita yang membunuh musuh-musuh klien kami”*.

Pendapat yang membuat saya berprasangka buruk pada stasiun TV yang saya

tonton.



Tapi sore tadi cara TV mulai berubah.



Selepas maghrib saya menonton (lagi) TV One, kali ini wakil pihak tertuduh

dimunculkan. Ibu Maya yang baru nongol langsung komplain memperingatkan

pembawa acara yang beberapa detik sebelumnya mengatakan “*pihak AK sampai

sekarang sulit dihubungi*” padahal Ibu Maya sudah siap dan menunggu di

studio sejak 17.30 (atau 16.30, saya lupa). Tentu saja beliau membantah

semua tuduhan dan mengatakan hal yang dituduhkan tidak pernah terjadi.



Siaran langsung itu lumayan vulgar. Ada kalimat dari seorang mas-mas dari

pihak TR: “*…seperti menggosok vagina*“. Mbak SM juga menyebut-nyebut “*…tisu

berisi cairan sperma*“. Semua diucap secara eksplisit. Sevulgar itu, sesore

itu, pada jam primetime dimana anak-anak mungkin masih terjaga. TV One ini

pasti hanya di stel di TV yang berada di ruangan khusus orang dewasa.

Ternyata bukan cuma blog saya saja yang bisa sevulgar itu.



Sekarang saya yakin karakter Anand Krishna memang sedang dibantai oleh

media. Dibuat tampak cabul secabul-cabulnya. Pembantaian ini bahkan sudah

dimulai sebelum pengadilan direncanakan. Ini mengingatkan saya pada nasib

Antasari. Media membuat beliau tampak mesum dengan mengekspos saat-saat

dimana pengadilan yang (entah kenapa) sangat tertarik dengan cara Antasari

membuka kutang Rani. *….mmm… kutang….*



Lantas?



Ya bagi semua yang berguru pada Anand, baik secara langsung, lewat buku,

maupun diam-diam dari jauh, kasus ini jelas sangat amat menggelisahkan.

Apalagi trial by press yang sedang dilakukan TVnya Bang One bersama

media-media lain. Itu sux!



Trus gimana?



Ya gimana lagi. Kita ikuti saja perkembangannya gimana. Kasus ini jelas akan

mengalihkan perhatian sebagian orang dari kasus-kasus besar macam Century,

penggelapan pajak dan semacamnya. *berharap jangan ada yg nyebut kasus

Freeport atau Aceh atau Kalimantan*.



Kalau nanti TR bersama hipnoterapis, psikolog dan 100

pengacaranya<http://go2.wordpres s.com/?id= 725X1342& site=guhpraset. 
wordpress. com&url=http% 3A%2F%2Fbit. ly%2FaAoPRF>berhasil

membuktikan AK bersalah, kamu gimana Guh??



Ya… saya akan terus menghormatinya sebagai Guru. Jika guru sekolah yang

pernah menampari saya puluhan kali hanya dalam waktu satu hari bisa tetap

saya hormati, apalagi AK yang sudah mengajarkan banyak pemahaman baru dan

memperluas wawasan saya. Namun saya yakin beliau tidak bersalah.



Apalagi saya sudah mulai melepaskan paham buntelanisme. Sebuah cacat dalam

‘buntelan’ tidak harus membuat saya menganggap seluruh buntelan jadi layak

buang. Sebaliknya, adanya beberapa hal yang bagus dalam buntelan, tidak

berarti seluruh isi buntelan pasti bagus. Saya masih terus belajar untuk

tidak terjebak buntelanisme.



Udah? Gitu aja?



Belum. Kan judulnya diatas itu adalah “hal-hal menarik disekitar karakter

asinan terhadap AK”. (Untuk yang belum mengerti, karakter asinan ini

maksudnya adalah *character assasination* atau pembunuhan karakter)



Jadi, inilah hal-hal menarik itu. Semua terkait kasus TR vs AK yang bertema

“Hipnotis”, “Brainwash” dan “Cabul yang secabul-cabulnya”:



*1. Keberanian yang inspiratif*



Inilah sisi baiknya. Keberanian Mbak TR bisa *menginspirasi dan menyemangati

siapapun yang menjadi korban pelecehan agar berani melapor*. Jika Mbak TR

berani melaporkan tokoh sebesar AK, masa dilecehkan oleh guru sekolah atau

guru ngaji saja takut dan bungkam? Jika Anda atau anak Anda dilecehkan, ya

memang harus lapor! Ada komnas perlindungan wanita dan polisi yang akan

melindungi korban. Sebesar dan seagung apapun seseorang tidak lantas berhak

memperlakukan Anda seenaknya.



*Tapi juga perlu hati-hati. Pastikan kejadian itu benar-benar

terjadi.*Jangan sampai membuat fitnah. Atau lebih mengerikan,

diperalat pihak-pihak

tertentu untuk memfitnah.



*2. Perlunya hati-hati dalam bertingkah laku*



Terutama jika Anda publik figur yang sering menyinggung banyak orang.

Sekarang ini, sekedar mengatakan “*I love you, you are my angel*“,

merangkul, memberi tepukan persahabatan di punggung atau minta dipijit bisa

jadi bukti pelecehan.



Sedikit saja salah langkah, pekerjaan penting yang menumpuk bisa

terbengkalai karena Anda sibuk berurusan dengan kasus pelecehan.



Perhatikan dengan siapa Anda berinteraksi. Belum lama ini, segerombol siswi

sekolah bertema agama di Jawa Timur bersepakat untuk menganggap foto

preweding dan rebonding dapat memicu perbuatan zinah. Dan karenanya harus

diharamkan. Beberapa ulama juga meyakini bahwa Ibu-ibu yang berprofesi jadi

tukang ojek dapat memicu syahwat. Bayangkan jika Anda dengan segala

kecabulan Anda berinteraksi dengan orang-orang ini. Tuntutannya pasti parah

sekali.



*3. Potensi bahaya “hipnotis” dan “cuci otak*“



Anda yang pernah nonton TV mungkin pernah melihat bagaimana master-master

seperti Kuya atau Rafael bisa membuat orang menceritakan rahasia pribadinya,

atau melakukan hal-hal bodoh.



Orang bisa diprogram dengan hanya mendengarkan perintah, misalnya: “*Pada

hitungan ketiga, Anda akan sadar, kemudian setiap kali Anda mendengar musik

X, Anda menari balet dengan gemulai, Anda yakin Anda lah pebalet nomor satu

didunia, semua penonton mengagumi Anda*“. Selanjutnya setiap kali korban

hipnotis mendengar musik X dia akan joget sesuai program. Itu semua

dilakukan diluar kesadaran hingga korban dilepas dari program tersebut.



Bayangkan jika ternyata ada tokoh lain yang lebih mahir sekaligus lebih

jahat, lalu program yang ditanamkan adalah “….* mendengar kata “X” dari saya

lewat telpon, Anda akan menekan gas sedalam-dalamnya, menembus dinding

pembatas dan terjun bebas dari parkiran lantai paling atas*“.



Atau yang lebih seram lagi “*… Anda akan sadar segar bugar, membaca kitab

suci sampai tamat tiga kali, kemudian berangkat membawa bom ini untuk

diledakkan di pintu kanan belakang istana”*.



Atau yang paling seram “….* setelah hitungan ke 9, Anda akan bangun seperti

tidak terjadi apa-apa. Merasa sangat merdeka. Dan selanjutnya Anda akan

mendakwahkan ayat-ayat kebencian dalam setiap ceramah Anda, untuk membuat

siapapun yang mendengar ceramah Anda jadi orang pemarah yang mudah memberi

cap kafir, merasa paling suci dan suka membakar rumah ibadah agama lain*“.



*4. Peluang baru untuk ahli-ahli hipnotis dan hipnoterapis yang kreatif*



Daripada menjual skill yang dipelajari dengan susah payah untuk memperkaya

stasiun TV murahan, lebih menguntungkan kalau terima order dari politisi

busuk yang ingin menyingkirkan musuhnya.



Misalnya… Ini hanya contoh lho: Terima pesanan untuk “memberi pelajaran”

pada Bu Srimul supaya jangan kurang ajar. Caranya: Menanam ingatan palsu ke

dalam pikiran salah satu bodyguard bu Srimul yang gay. Bahwa setiap malam

bulan purnama, Bu Srimul selalu memperkosanya dengan sadis, gaya *woman on

top* tanpa pernah mau gantian, berkali-kali sampai mas bodigar *bucat *pasi.



Setelah repetisi proses hipnotis/brainwash cukup dan “ingatan baru” itu

cukup permanen, barulah si mas bodigar yang malang itu diajak baik-baik,

dengan penuh empati, untuk berani melapor ke Komnas perlindungan bodigar.

Laporkan Bu Srimul karena sudah menzaliminya dengan sangat zalim sekali.



Aksi hitman macam ini lebih cantik daripada menyewa pembunuh bayaran

konvensional. Para politisi busuk modern pasti tertarik. Semua juga tahu,

membunuh seseorang hanya akan membuatnya jadi pahlawan. Lebih efektif kalau

menyingkirkannya dengan jebakan kasus-kasus beraroma selangkangan.



*5. Pentingnya kemampuan menangkal dan membatalkan hipnotis, brainwash dan

semacamnya *



Mengajarkan hal itu ke publik pasti efeknya akan sangat merugikan

pihak-pihak yang selama ini diuntungkan. Banyak penguasa/pemuka dan agama

akan kehilangan umat, banyak iklan jadi tidak efektif, rekrutmen jumlah

perokok muda jadi semakin sulit dan rakyat jadi agak susah diperbudak.



Tapi mereka, para master hipnotis, psikolog dan hipnoterapis itu, punya

tanggung jawab moral untuk mengungkapnya. Menurut saya, jika mereka punya

nurani, jika mereka mengetahui caranya, mereka harus segera mengungkapnya.



*6. Makin murah dan mudah akses internet, makin sulit rakyat dibodohi*



Seorang kawan yang sebelumnya tidak tahu siapa AK jadi tertarik dan mencari

tahu visi AK setelah browsing lewat Opera Mini <http://mini. opera.com/> di

HP murahannya. Kawan yang lain malah mulai membuat komentar-komentar yang

berusaha menjelaskan dan membela AK dari trial by press. Itu juga dilakukan

dari handphone.



Ini menarik. Saat TV-TV berkomplot meyakinkan pemirsa bahwa Mr. X hanyalah

manusia kampret tak berguna, penonton bisa dengan mudah mencari sendiri

informasi penyeimbang dari pihak tertuduh.



Biaya internet makin murah, harga telpon seluler yang mampu menjalankan

opera mini juga semakin terjangkau oleh banyak kalangan. Orang makin gampang

cari info dari Internet.



Tentu saja di internet juga ada media-media besar dan “tokoh” berpengaruh

yang satu “misi” dengan TV. Tapi di alam cyber yang sama juga tersedia

info-info alternatif yang memperkenalkan sudut pandang lain.



Jika saya adalah penguasa yang terbiasa menggunakan TV dan media-media satu

arah untuk membodohi rakyat dengan “informasi resmi” dan “tersaring”, saat

ini saya pasti sedang gundah gulana.



Hanya tinggal menunggu waktu sebelum orang-orang dengan HP murahan ini

mengikuti langkah seniornya untuk berisik mengomentari pembodohan yang

dilakukan penguasa. Jadi, saya akan merasa perlu membuat UU untuk mengatur

pengguna internet. Tentunya yang berpasal karet, hingga bisa berfungsi bagai

linggis serba guna untuk menusuk, memukul atau mencongkel siapapun yang

kurang ajar.



Yak! Sudah terlalu panjang.



Sebagai penutup, saya sarankan agar Anda yang baru tahu AK dari

berita-berita TV, silakan browsing ke situs

resminya<http://www.anandkri shna.org>.

Lihat wiki. Pelajari apa saja kegiatannya. Apa mimpi beliau dan sempatkan

juga baca-baca tulisan-tulisanya.



- – - – - – - – -



*Catatan:*



*Saya memang berguru pada AK. Maksud kata “berguru” disini memang saya

menganggapnya sebagai guru. Saya belajar banyak sekali dari beliau. Tapi ini

bukan berarti saya sudah diakui atau sudah diangkat sebagai murid, apalagi

murid yang baik dan berbakti, hehe. Sama sekali tidak. Hal yang sama juga

terjadi dalam hubungan saya dengan guru-guru yang lain, termasuk

Krishnamurti, Master Ching Hai, Gandhi, Gus Dur, Paulo Coelho, Pak Subuh,

Peter Joseph, J Fresco, Bangaip, Mbah Mbel, Alex, Sora, Bang Leo, Difo cs

dll. Mungkin sekali tokoh yang saya anggap guru malah tidak pernah

ngehkalau dirinya dianggap guru dan tidak bakalan menganggap saya

murid. Dan itu

bukan masalah. Jadi…. tidak perlu ada yang menuduh saya ngaku-ngaku jadi

murid ya? :)*



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke