From: Roeslan <[email protected]>
Cc: [email protected]
Date: Sunday, March 7, 2010, 4:02 PM


  





ATAS NAMA “DEMOKRASI SANTUN“ PRESIDEN SBY MENENTANG KEPUTUSAN MAYORITAS 
SIDANG PARIPURNA DPR YANG MENYALAHKAN KEBIJAKAN BAILOUT BANK CENTURY.
 
Dalam kekuasaan yang didominasi oleh Partai Demokrat yang dinakodai oleh 
prsiden SBY, Indonesia  berdiri  pada landasan kehidupan Demokratis, dan 
Liberalisme gaya neoliberal. Artinya prinsip suara mayoritas rakyat berperan 
menentukan, diakui; Tapi praktis hanya berlaku dalam batas-batas tertentu saja 
selama menguntungkan kepentingan penguasa. Rupanya inilah yang dimaksud oleh 
presiden SBY dengan apa yang beliau namakan “Demokrasi yang santun“.
 
Kesantunan demokrasi ini tercermin dalam sikap presiden SBY yang menolak keras 
suara mayoritas rakyat pada rapat paripurna DPR  3 Maret 2010, melalui 
pemungutan suara mayoritas anggota DPR akhirnya memutuskan: Proses bail out 
Bank Century bermasalah!
 
Rupanya sikap Presiden SBY yang dengan mudah dapat menentang keras keputusan 
mayoritas DPR yang dipilih secara langsung oleh rakyat, adalah menandai 
(mencirii) bahwa kehidupan Demokratis di Indonesia dibawah pimpinan SBY dan 
dominasi PD, berisi individualisme dan Liberalisme gaya neoliberal, telah 
mendapatkan lahan empuk di NKRI, sehingga dapat membuka jalan Tol masuknya 
investor-investor dari negara-negara neoliberal, untuk secara mudah dapat 
melangkahkan kakinya  di NKRI tanpa halangan apaun, untuk menguasai 
tanah-tanah, suber-sumber kekayaan alam dan hutan-hutan yang masih terbentang 
luas. 
 
Memang jika itu yang dikehendaki oleh “Demokrasi Santun“ a la SBY, maka 
diperlukan adanya kekuasaan negara yang lemah dalam tindakan, tapi cukup kuat 
dalam melindungi hakmilik individu (baca: kapital domestik dan asing). Oleh 
karena itulah tidak mengherankan jika presiden SBY pasang badan membela 
mati-matian Boediono dan Sri Mulyani, karena dua orang itulah merupakan 
agen-ageg yang setia, ramah dan santun yang sudah biasa melayani imperialisme 
neoliberal untuk melangkahkan kakinya di bumi Indonesia dan selanjutnya untuk 
menguras semua kekayaan alam bumi Indonesia termasuk membabat hutan-hutannya 
untuk ditanami tanaman-tanaman secara monokultur untuk memenuhi kepentingan 
industri-industri besar di negara-negara maju ( baca: negara-negara kapitalis 
neoliberal). 
 
Pansus Century adalah merupakan suatu terobosan politik untuk melawan dominasi  
golongan neoliberal yang secara terang-terangan telah memanfaatkan 
undang-undang negara, untuk menjalankan liberalisi ekonomi, seperti yang 
tercermin dalam kebijakan-kebijakan rezim neoliberal yang dipimpin oleh 
presiden SBY, yang didukung oleh partai Demokrat dan antek-anteknya yaitu PKB 
dan PAN.
 
Di era reformasi yang telah gagal total ini, rupanya telah memberikan peluang 
besar bagi golongan kapitalis neoliberal di Indonesia yang tergabung khususnya 
dalam Partai Demokrat yang sekarang ini berkuasa, yang mencerminkan adanya 
pengejowantahan kaum kapitalis monopol baik yang domestik maupun asing, dalam 
memanfaatkan undang-undang negara sebagai etikat adanya “kehidupan Demokratis 
santun“, yang menjamin barlakunya sistem multi partai. 
 
Partai-partai dari berbagai aliran politik oleh pemerintah dibiarkan saja 
eksistensinya, selama kegiatan partai-partai itu tidak membahayakan bagi 
kelangsungan hidup kekuasaan golongan neoliberal. Jika kegiatan partai-partai 
politik dipandang membahayakan kepentingan penguasa , maka presiden dan PD-nya 
segera pasang badan  untuk melakukan tidakan yang represif, seperti misalnya 
terhadap partai koalisi yang menyetujui keputusan sidang Paripurna DPR 03 Maret 
2010, yang secara tegas menyalahkan kebijakkan pemerintah dalam konteks bailout 
Bank Century.
 
Semantara di negeri-negeri kapitalis  demikian juga di Indonesia era orde baru 
partai-partai itu malah dibei sokongan uang oleh negara dalam jumlah yang 
disesuaikan dengan proporsi suara yang diperoleh dalam pemilihan umum. Selama 
kaum neoliberal, terutama imperialisme neoliberal, masih mempunyai andalan 
karena memiliki uang yang berlimpah-limpah, jalan apa saja olehnya dihalalkan. 
Misalnya sisitem propaganda, merekayasa sistem pemilihan umum supaya 
menguntunkan golongan neoliberal, menyebarkan intrik-intrik dan 
menhambur-hamburkan uang sogokan. Pokoknya dengan berbagai jalan, opini umum 
digiring untuk memenangkan mayoritas suara bagi partai-partai yang tanpa resiko 
terhadap kekuasaan kapitalisme monopol (imperialisme neoliberal), yang pada 
umumnya adalah partai-partai yang beraliran Konservatisme, liberalisme dan 
Sosial demokrasi.
 
Roeslan.
 
 
 







      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke