Jadi ceritanya, masih pada bahas sinetron rating nomor 1 sekarang nih (topik teroris)? Kasihan betul rakyat RI.. dijejalin sinetron terus.. Pada sadar napa sih.. :-p
-- Wassalam, Irwan.K "Better team works could lead us to better results" http://irwank.blogspot.com Pada 10 Maret 2010 14:06, A Nizami <[email protected]> menulis: > > > Iya. Prinsip Hukum yang Universal adalah: "Asas Praduga Tak Bersalah" atau > "presumption of innocence". > Semua orang dianggap tidak bersalah. Jadi Densus 88 tidak bisa main tembak > mati orang begitu saja. > > Nanti pengadilanlah yang membuktikan apakah orang itu bersalah atau tidak > bersalah. Pengadilanlah yang memutuskan apakah seseorang dihukum mati atau > dibebaskan. > > Polisi sudah sering salah tangkap, termasuk Densus 88. Ada yang sampai > babak belur dipukuli polisi ternyata tidak bersalah, ada pula yang sampai > divonis 17 tahun sebagai pembunuh Asrori ternyata si jagal Ryan mengakui > bahwa Ryanlah pembunuhnya. > > Kalau Polisi salah tangkap mungkin masih bisa minta maaf: "Maaf kami salah > tangkap". > > Tapi kalau polisi salah tembak mati orang apakah polisi akan berkata: "Maaf > kami salah menembak mati keluarga anda?" > > Kalau AS bisa menangkap teroris hidup2, masak petinggi Polri yang begitu > hormat pada AS tidak bisa meniru hal itu? > > > http://infoindonesia.wordpress.com/2010/03/10/tembak-mati-teroris-betulkah-teroris-yang-ditembak/ > > Tembak Mati Teroris. Betulkah Teroris yang Ditembak? > > Masalahnya adalah jujurkah polisi? > Benarkah yang ditembak mati adalah orang yang bersalah? > Apakah kasus itu tidak direkayasa? > Kasus Bibit Chandra di mana polisi dan > jaksa merasa yakin buktinya kuat, namun tim 9 yang terdiri dari pakar > hukum dan juga Mahkamah Konstitusi menemukan fakta bahwa penahanan > Bibit Chandra direkayasa. > Saksi kunci Ari Muladi pun mengaku > disuruh supaya bersaksi bahwa dia telah bertemu dan menyuap Bibit dan > Chandra yang ternyata tidak benar.Begitu pula kasus Antasari hingga > hakim pun memutuskan bersalah padahal saksi kunci seperti mantan > Kapolres Jaksel, Wiliardi Wizar mengaku bahwa dia disuruh membuat BAP > agar Antasari dijebloskan ke penjara dengan menyatakan Antasari yang > memerintahkan pembunuhan. Ternyata tidak benar. > Harusnya > polisi membawa tersangka ke pengadilan agar bisa diadili dengan > adil.Jangan sampai orang yang tidak berdosa mati tanpa peradilan yang > sah. > Foto teroris dengan pistol di tangan, > tapi tidak digenggam dan jari dipelatuk agak aneh. Harusnya jika tidak > tergenggam kuat dengan jari di pelatuk, maka pistol itu jatuh ke bawah. > Betulkan posisi pistol memang begitu atau cuma diselipkan > Cuma militer yang bisa membunuh orang tanpa peradilan. Bukan polisi. > Bawa ke pengadilan. Jika terbukti bersalah, terserah apakah teroris itu > dihukum mati atau dimutilasi. > Prestasi polisi menangkap teroris > memang bagus. Namun harusnya tidak main tembak mati. Tapi dibawa ke > pengadilan agar bukan orang yang tidak bersalah yang tertembak mati. > Kan kemarin polisi Depok salah menangkap Dosen UI sebagai pelaku hingga > babak belur. Untung tidak ditembak mati langsung. > > Kasus salah tangkap oleh polisi sudah > wsering terjadi. Tempo menulis bahwa dari Februari 2009 hingga 7 > Desember 2009 saja sudah 4 x polisi salah tangkap. Jose Rizal di Depok > dipukuli sampai babak belur oleh polisi padahal dia tidak bersalah. > Seorang bapak juga dipukuli sampai babak belur oleh polisi karena > dituduh merampok padahal ternyata tidak. > Bahkan Hambali alias Kemat (26) dan > Devid Eko Priyanto (17), warga Desa Kalangsemanding. Keduanya divonis > 17 dan 12 tahun penjara dengan tuduhan membunuh Asrori padahal sang > jagal Ryan mengaku sebagai pembunuh Asrori. > Sekali lagi teroris yang kejam memang > harus dihukum mati. Di sisi lain kasus polisi salah tangkap juga sering > terjadi. Jadi sebaiknya polisi jangan main tembak mati terhadap orang > yang diduga teroris. Sebaliknya bawa ke pengadilan biar hakim yang > memutuskan apakah dia bersalah atau tidak. > Keberhasilan polisi menangkap teroris > patut dipuji. Namun alangkah baiknya jika polisi tidak main tembak > mati. Lebih baik lagi jika polisi juga menangkap copet yang sering > beraksi di pasar, stasiun, dan angkutan umum, penodong, perampok, dan > sebagainya. Karena mereka itu justru setiap hari menyusahkan masyarakat. > Berbagai Kasus Salah Tangkap oleh Polisi termasuk Densus 88: > http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2009/12/07/fks,20091207-974,id.html > Lagi-Lagi Polisi Salah Tangkap > Senin, 07 Desember 2009 | 09:08 WIB > TEMPO Interaktif, Jakarta -Kasus > salah tangkap oleh kepolisian kembali terulang. Kini penulis buku dan > Direktur Komunitas Bambu, JJ Rizal menjadi target salah sasaran anggota > Kepolisian Sektor Beji, Depok. > Rizal disergap lima anggota Polsek > Beji berpakaian preman kemarin (6/12), saat dirinya melintasi jembatan > penyebrangan Depok Town Sqaure. Rizal yang tak mengerti apa-apa, > mencoba memberontak dari sergapan tersebut. Namun sayang, kelima polisi > tersebut menghujamkan pukulan dan tendangan ke Rizal. Para polisi juga > menodongkan senjata ke arah Rizal. > Aksi kekerasan pun terhenti saat > Rizal berteriak meminta tolong dengan menyebut kata Polisi!!. > Ternyata Rizal tak sadar jika dirinya tengah dipukuli polisi. Dia baru > menyadari saat salah seorang anggota yang memukulinya mengeluarkan > kartu indentitas kepolisian. > Setelah menjalani proses interogasi > di kantor Polsek Beji, barulah diketahui bahwa penyergapan tersebut > salah sasaran, alias polisi salah tangkap. Kasus tersebut pernah > terjadi tiga kali dalam tahun ini. Artinya, yang dialami Rizal adalah > yang kempat, sejak Februari 2009. > Diawali dengan pergelaran operasi > pemberantasan kejahatan jalanan pada Februari lalu, Kepolisian Daerah > Metro Jaya diduga salah menangkap dua orang bernama Lutfi, 43, dan > Ahmad Dahlan, 32. Keduanya disangka tukang parkir liar. > Pada 8 Juni, Kepolisian Sektor > Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat salah menangkap targetnya, pencuri > laptop, kamera, dan telepon seluler milik seoragn warga. Korban saat > itu adalah Syahrul Ramadhan Burhanudin, 15, yang ditahan selama 63 hari. > Lalu pada 24 November 2009, > Kepolisian Resor Jakarta Utara menangkap Ade Yulizar, 40, yang dituduh > terlibat perampokan. Ade pun sempat dihajar oleh polisi. Dan kini hal > serupa terjadi pada JJ Rizal, yang disangka sebagai bagian dari > kelompok kriminal. Pria berambut gondrong dan berkulit hitam itu > akhirnya berencana menuntut pihak kepolisian. > Namun menurut Kepala Polsek Beji, > Ajun Komisaris Sukardi seharusnya Rizal tak perlu melakukan perlawanan > terhadap lima anggotanya itu. Meski begitu, Sukardi beserta jajarannya > meminta maaf atas kejadian yang kurang menyenangkan, yang dialami Rizal > pada Minggu malam tersebut. > TIA HAPSARI | SOFIAN > > http://news.okezone.com/read/2010/03/09/337/310667/densus-88-sempat-salah-tangkap-di-pamulang > Densus 88 Sempat Salah Tangkap di Pamulang > Selasa, 9 Maret 2010 13:51 wib > Amirul Hasan Okezone > TANGERANG Densus 88 antiteror > yang melakukan penggerebakan dan baku tembak di sebuah ruko di > Pamulang, Tangerang Selatan, pada Selasa siang sempat salah menangkap > orang. > Menurut salah seorang saksi mata, > Agus mengatakan, salah tangkap tersebut terjadi sesaat setelah baku > tembak yang terjadi di warung internet Multiplus di Jalan Siliwangi, > Pamulang. > Dia dibawa polisi untuk > diinterogasi di salah satu gedung yang berada di sebelah warnet, kata > pria setengah baya ini kepada okezone di lapangan, Selasa (9/3/2010). > Dia menceritakan, pria yang berusia > sekira 28-an itu dibawa paksa dengan kawalan ketat. Lengan pria yang > menggunakan baju hitam dan celana ¾ itu sampai lecet, tandasnya. > Sementara itu, seorang wanita yang > diduga sebagai istrinya sang pria, langsung ke luar dari salon dan > menghampiri petugas Densus 88. Wanita itu berada di salon yang tidak > jauh dari lokasi penggerebakan. Wanita itu langsung meminta agar > suaminya dibebaskan, tandasnya. > Setelah 10 menit berselang, > pasangan tersebut akhirnya dibebaskan oleh petugas. Polisi sempat > minta maaf kepada mereka, tuturnya. > Namun karena terburu-buru keluar > salon, wanita yang mengenakan kaos hijau ketat itu kehilangan dompet > dan dua telepon genggamnya. Sudah ditelpon tetapi tidak diangkat, > tambahnya.(kem) > > http://www.poskota.co.id/poskota-tv/2009/11/24/salah-tangkap-bapak-dua-anak-dihajar-polisi-yahyawd > Salah Tangkap, Bapak Dua Anak dihajar Polisi-yahya/wd > Selasa, 24 November 2009 19:50 WIB > JAKARTA (Pos Kota) Salah tangkap, > bapak dua anak dihajar polisi hingga babak belur, Selasa (24/11). > Sebelumnya korban dituduh merampok juragan sembako di daerah Koja Jumat > (20/11) malam lalu. > Luka sobek dan memar menghiasi di > wajah Dade, 40. Pria yang berprofesi sebagai sopir perusahaan pelayaran > ini dijemput aparat Polres Jakut di rumah kontrakannya, Jalan Kenanga, > RT 02/10, Kel. Semper Barat, Cilincing. > Mereka datang jam lima pagi. Tanpa > surat penangkapan, saya ditodong pistol dan digebuki. Padahal saya > sudah bilang saya tidak bersalah, ujar korban yang sempat menjalani > perawatan di RS Tugu Pelabuhan. > Setelah yakin kalau Dade bukanlah > pelakunya, petugas kembali memulangkan pria asal Padang itu ke > rumahnya. Kami akan bertanggung jawab atas biaya pengobatan korban, > ujar Wakasat Reskrim Polres Jakut AKP Santoso yang ditemui di lokasi > kejadian. (yahya/B) > > http://www.detiknews.com/read/2008/08/27/185345/995834/10/ryan-bunuh-asrori-polisi-salah-tangkap > Rabu, 27/08/2008 18:53 WIB > Ryan Bunuh Asrori, Polisi Salah Tangkap > Djoko Tjiptono detikNews > Mr X Korban Ryan Teridentifikasi > Jakarta Terungkapnya fakta baru bahwa > Mr X korban pembunuhan Verry Idam Henyansyah alias Ryan adalah Asrori > alias Aldo memunculkan banyak pertanyaan. Salah satunya adalah mayat > siapakah yang selama ini diyakini sebagai Asrori? > Sebelumnya pihak keluarga yakin, > Asrori dibunuh pada 22 September 2007. Pria kemayu itu ditemukan > tergeletak tak bernyawa di kebun tebu di Desa Kalangsemanding, > Kecamatan Perak, Jombang. Meski muka sudah lebam karena ditemukan > sepekan berselang, keluarga masih bisa mengenali jika mayat itu Asrori. > Saya yakin itu Asrori, karena dia > anak saya. Di kakinya ada bekas luka kena knalpot dan dari giginya saya > juga bisa mengenal dia, kata Masyitoh, ibu Asrori beberapa waktu lalu. > Keyakinan Masyitoh semakin kuat > saat polisi berhasil menangkap dua orang yang diduga sebagai pembunuh > sang anak. Mereka adalah Hambali alias Kemat (26) dan Devid Eko > Priyanto (17), warga Desa Kalangsemanding. Keduanya akhirnya diganjar > vonis 17 dan 12 tahun penjara. > Namun belakangan, semua kisah > pembunuhan Asrori itu terbantahkan oleh pengakuan Ryan. Pria kemayu itu > mengatakan polisi salah tangkap. Menurut Ryan, Asrori tewas di > tangannya. > Awalnya pengakuan Ryan ini tidak > dipercaya begitu saja. Maklum, tersangka pembunuhan berantai ini kerap > memberikan pengakuan yang berubah-ubah. Tapi hasil tes DNA menunjukkan > keluarga Ansrori identik dengan mayat Mr X yang ditemukan terkubur di > rumah Ryan. Sederhananya, mayat Mr X itu adalah Asrori. > Lalu mayat siapa yang ditemukan di kebun tebu tersebut? Adalah tugas polisi > untuk mengungkap misteri tersebut. > Begitu pula dengan nasib kedua > orang yang terlanjur divonis bersalah. Jika pengakuan Ryan benar, > berarti mereka adalah korban salah tangkap. Dan sudah semestinya > hak-hak mereka yang terampas direhabilitasi. (djo/djo) > > http://www.detiknews.com/read/2008/08/28/105553/996111/10/salah-tangkap-pembunuh-asrori-akibat-polisi-over-acting > Kasus Ryan > Salah Tangkap Pembunuh Asrori Akibat Polisi Over Acting > Nala Edwin detikNews > Jakarta Salah tangkap dalam kasus > pembunuhan Asrori alias Aldo bukanlah yang pertama kali terjadi. Kasus > salah tangkap ini terjadi karena polisi sering over acting dalam > menjalankan tugasnya. > Polisi kita sering over acting. > Yang penting ditangkap dulu orangnya. Selain itu juga ada tuntutan dari > atasan, kata kriminolog Erlangga Masdiana kepada detikcom, kamis > (28/8/2008). > Menurut Erlangga, dalam > pemeriksaan, polisi seharusnya tidak hanya mengejar pengakuan > tersangka. Akibatnya tersangka yang belum tentu bersalah diintimidasi > untuk mengaku. > Seharusnya yang dikejar bukan pengakuan tersangka saja, tapi bukti dan > fakta, katanya. > Erlangga juga meminta hakim lebih > teliti melihat suatu perkara dan jangan hanya mengandalkan hasil > interograsi polisi saja. Hakim juga harus kritis dalam memeriksa suatu > perkara, katanya. > Kasus salah tangkap ini bermula > ketika Ryan mengaku menghabisi Asrori alias Aldo. Padahal Polres > Jombang telah menetapkan Maman Sugianto, Imam Hambali dan David Eko > Priyanto sebagai tersangka kasus pembunuhan itu. Bahkan Imam dan David > telah menjalani hukuman 17 dan 12 tahun penjara. (nal/iy) > > === > Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits > http://media-islam.or.id > Milis Ekonomi Nasional: > [email protected]<ekonomi-nasional-subscribe%40yahoogroups.com> > > > > >Dari: cak lis <[email protected] <caklis%40yahoo.com>> > >Kepada: [email protected] <Arab-Indo%40yahoogroups.com>; > [email protected] <alamislami%40yahoogroups.com>; > [email protected] <CyberDakwah%40yahoogroups.com>; > [email protected] <daarut-tauhiid%40yahoogroups.com>; > [email protected] <flp-jepang%40yahoogroups.com>; > [email protected] <fossei%40yahoogroups.com>; > [email protected] <insistnet%40yahoogroups.com>; > [email protected] <islam_liberal%40yahoogroups.com>; > [email protected] <hidayatullahcom%40yahoogroups.com>; > [email protected] <milis-kammi%40yahoogroups.com>; > [email protected]<Muhammadiyah_Society%40yahoogroups.com>; > [email protected] <myquran%40yahoogroups.com>; > [email protected] <PPI_Yordania%40yahoogroups.com>; > [email protected] <ppmi-pakistan%40yahoogroups.com>; > [email protected] <profetik%40yahoogroups.com>; > [email protected] <syiar-islam%40yahoogroups.com>; > [email protected] <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>; > [email protected] <comes_info%40yahoogroups.com>; > [email protected] <hidayatullahnews%40yahoogroups.com>; > [email protected]<islamic_discussion_via_internet%40yahoogroups.com>; > [email protected] <Nongkrong_Bareng2%40yahoogroups.com>; > [email protected] <eramuslim%40yahoogroups.com>; > [email protected] <jurnalperempuan%40yahoogroups.com> > >Terkirim: Rab, 10 Maret, 2010 13:26:44 > >Judul: [JMP] Menjustifikasi Kematian Teroris (Yang Selalu Ditembak Mati) > > > > > > > > > > > > > > > > > >> > > > >> > > > > > >http://www.hidayatu llah.com/ opini/opini/ 11003-menjustifi > kasi-kematian- teroris > >Menjustifikasi Kematian Teroris > > > >> Wednesday, 10 March 2010 10:18 > > > > > > > > >Amerika bisa menangkap Hambali dan Umar Al Faruq tanpa harus menewaskan > mereka. Mengapa di tempat kita selalu mati? > >Oleh: Heru Susetyo* > > > >Ada > >fenomena aneh di balik kisah sukses Detasemen Khusus 88 membekuk para > >"teroris" dua bulan terakhir ini. Yaitu, hampir semua"teroris" -nya mati > >tertembak ataupun terbunuh dengan cara lain. Pasca peledakan hotel J.W. > >Marriot dan Ritz Carlton tanggal 17 Juli 2009, tak kurang dari > >sembilan"teroris" yang dianggap berperan langsung dan tidak langsung > >telah terbunuh. > > > >Ibrohim, florist hotel Ritz Carlton > >terbunuh pada 8 Agustus 2009 di Temanggung, dalam drama pengepungan > >yang diliput banyak media massa. Pada hari yang sama Air Setiawan dan > >Eko Sarjono juga ditembak hingga tewas di Bekasi. Pada 16 September > >2009, masih di bulan Ramadhan, empat teroris termasuk buruan nomor > >wahid, Noordin M. Top, terbunuh dalam drama baku tembak di Solo. > >Kemudian, yang masih gres, dua buronan utama, kakak beradik > >Syaifuddin Zuhri dan Mohammad Syahrir, menjemput ajal di ujung senapan > >Densus 88 di Ciputat. Persis menjelang shalat Jumat 9 Oktober 2009. > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [email protected] 5. No-email/web only: [email protected] 6. kembali menerima email: [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

