Tulisan lama, tetapi masih relevan.
 
http://intelindonesia.blogspot.com/2009/11/mencegah-fenomena-kehancuran-indonesia.html
Tuesday, November 03, 2009
Mencegah Fenomena Kehancuran Indonesia Raya

Mengapa saya katakan fenomena? karena tidak lain sudah terlihat dalam pandangan 
mata bathin Blog I-I tentang hancurnya Indonesia Raya yang didahului oleh 7 
perkara.

1. Rusaknya moral manusia Indonesia akibat godaan korupsi, dalam usia matang 
Indonesia Raya yaitu memasuki tahun ke-67, seyogyanya masalah ini sudah harus 
berakhir dengan penegakan hukum yang tegas. Apabila gagal, maka ini adalah 
tanda-tanda kepastian hancurnya Indonesia.

2. Hilangnya jiwa ksatria dari prajurit-prajurit bangsa Indonesia, khususnya 
TNI, Polri dan Intelijen. Para pengawal rakyat, bangsa dan negara yang tidak 
dilandasi jiwa ksatria akan cenderung pengecut, bersembunyi dibalik kebohongan, 
dan semena-mena serta tidak bertanggung jawab. Akibatnya adalah pagar makan 
tanaman, dimana perlindungan kepada rakyat Indonesia tidak terjadi, bahkan 
sebaliknya rakyat justru menjadi korban. Hal ini menuntut reformasi yang serius 
dalam rangka melahirkan ksatria-ksatria bangsa Indonesia yang dapat diandalkan. 
Apabila gagal juga, maka ini adalah tanda kepastian kehancuran Indonesia.

3. Kearifan lokal Indonesia yang luntur di jiwa para teknokrat dan ekonom. 
Kehebatan intelektual lulusan luar negeri baik itu Barat maupun Timur, 
seringkali mendominasi wacana pembangunan Indonesia. Sementara kearifan lokal 
dianggap sebagai onggokan sampah karena tidak dapat diterima teori-teori logika 
yang hebat. Pada zaman keemasan Kerajaan Nusantara, kearifan lokal tampak dalam 
monumen-monumen yang indah yang mencerminkan konsep masyarakat tentang apa yang 
ingin dipersepsikan kepada dunia. Saat ini kita melihat budaya bangsa Indonesia 
sebagai sesuatu yang kumuh dan jumud karena seniman dan seniwati kehilangan 
daya kreatifitasnya karena masyarakat juga mulai kurang menghargainya. Harga 
yang harus kita bayar adalah fakta, bahwa sedikit demi sedikit kita kehilangan 
jati diri ke-Indonesia-an. Itulah sebabnya pertikaian faham neoliberal versus 
sosialisme (kerakyatan) akan terus bergema apabila para teknokrat dan ekonom 
Indonesia yang cerdas tidak mampu
 mentransformasi filsafat ekonomi modern ke dalam kearifan lokal Indonesia. 
Apabila hal ini tetap diabaikan, maka tidak ada yang khas yang menjiwai 
pembangunan bangsa, negara Indonesia...yang akan terjadi adalah pembangunan 
kapital, fisik, dan mentalitas kebendaan yang menjadi citra kesuksesan manusia 
di abad 21.

4. Kejujuran, keadilan dan penegakkan kebenaran. Sejarah Indonesia ditulis 
dalam kemasan yang baik namun diwarnai ketidakjujuran, ketidakadilan dan 
ketidakbenaran dalam penataan kehidupan berbangsa dan bernegara. Setelah 
reformasi, ternyata situasi tersebut belum benar-benar hilang, bahkan muncul 
kembali dalam model dan bentuk yang berbeda. Pertarungan nilai-nilai yang 
selama ini membuat bangsa Indonesia menjadi kuat tampaknya akan semakin berat 
karena kuatnya pengaruh syataniah yang menjerumuskan Indonesia ke dalam 
pengabaian nilai-nilai kejujuran, keadilan dan kebenaran. Apabila hal ini juga 
tidak segera kita kobarkan kembali di setiap jiwa manusia Indonesia, tentunya 
kehancuran Indonesia juga sudah di depan mata.

5. Kemampuan membaca zaman. Bacalah dengan sungguh-sungguh tanda zaman dan 
perubahannya. Indonesia tidak dapat hidup dalam keajegan cara pandang di 
berbagai bidang. Perlu dinamika yang tertata dalam koridor cita-cita bangsa 
menjadi Indonesia yang sesungguhnya, yaitu bangsa yang baik. Mengapa 
mengutamakan kebaikan, karena nilai kebaikan yang kuat di bumi nusantara akan 
mempererat hubungan antar anggota masyarakat yang pada gilirannya akan 
memperkuat kerjasama internal untuk mendorong peningkatan ekonomi dan sosial 
secara nyata. Menjadi baik tidak berarti mudah dibodohi oleh orang-orang jahat 
yang tidak ingin Indonesia menjadi besar. Kesadaran massal bangsa Indonesia 
memerlukan dukungan dari manusia-manusia Indonesia unggulan. Siapakah manusia 
unggulan di Indonesia? mereka tersembunyi namun kita dapat merasakan 
kehadirannya. Ada yang dikenal publik dan ada juga yang tidak, ciri-cirinya 
adalah bahwa mereka tidak menyadari bahwa pengaruh mereka sangat besar
 untuk Indonesia Raya. Kelemahan kita dalam membaca zaman menjanjikan 
kehancuran Indonesia, atau minimal kegagalan pembangunan ekonomi.

6. Perkara yang keenam adalah peranan kepemimpinan nusantara secara nyata dan 
secara spiritual. Presiden, para Menteri, para pimpinan Partai, para anggota 
Dewan, para gubernur, bupati, camat, lurah, kepala desa, dll adalah penguasa 
kepemimpinan dunia nyata. Namun mereka belum tentu juga berperan sebagai 
pemimpin dunia spiritual. Semua golongan agama dan kepercayaan di Indonesia 
niscaya memahami pentingnya memelihara bumi yang akan melahirkan pemahaman yang 
lebih dalam tentang dunia sebab-akibat, dunia tanpa batas, dan dunia elementer 
yang sering digunakan sebagai rujukan melihat masa depan. Karena di Indonesia 
terlalu kuat pengaruh alam khayali (imajinasi), maka seringkali kepercayaan 
kita kepada para pemimpin spiritual menjadi sangat rendah, bahkan cenderung 
tidak percaya. Lagi pula sangat sulit untuk mengetahui atau menemui 
pemimpin/penempuh jalan spiritual yang murni, asli, dan iklhas. Kegagalan 
memadukan hal ini akan mendorong Indonesia ke satu sisi
 yang membahayakan, namun akan dapat kembali pada keseimbangan, sayangnya 
proses tsb akan menyerap tenaga, dana, dan pikiran, dan apabila hal itu tidak 
tersedia, maka kehancuran juga telah menanti.

7. Perkara terakhir adalah perkara kampanye massal kepada seluruh elemen bangsa 
Indonesia untuk tidak bosan-bosannya menyerukan semangat kebangkitan bangsa 
Indonesia. Peranan media massa, baik dalam bentuk cetakan, online, media radio, 
TV, dll sangatlah penting. Namun sayangnya belum tampak suatu kesadaran yang 
luas di kalangan media massa untuk turut serta memajukan bangsa dan negara 
Indonesia melalui program-program yang akan mampu mendorong bangsa Indonesia 
memiliki jati diri ke-Indonesia-an yang kuat.


Sekian.

Penyelidikan terhadap Blog I-I bukan hanya secara nyata, namun juga melibatkan 
yang tidak nyata. Niscaya rekan-rekan yang menyelidiki akan melihat kekosongan 
tanpa warna, tanpa emosi dan kehendak. Hampir-hampir putus asa, hanya karena 
Yang Maha Pencipta membangunkan kembali dari himpitan bayangan fenomena 
kehancuran Indonesia Raya, maka Blog I-I masih dapat berada di tengah-tengah 
kita.

Bagaimana dengan rekan-rekan...? 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke