Kebahagiaan Yang Terindah

By: agussyafii

Malam itu seorang Ibu paruh baya bersama dua putranya hadir di Rumah Amalia. 
Selain ingin berbagi rizki dan berdoa bersama anak-anak Amalia, 'doa yang indah 
pada anak-anak Amalia membawa keberkahan dan ketentraman hati untuk kami 
sekeluarga..' tutur beliau.

Tiap malam Jumat di Rumah Amalia biasanya membaca Yaasin bersama. Beliau dan 
kedua putranya ikut membaca Yasin. AIr matanya berlinang. memanjatkan untuk 
suaminya yang tercinta. Hampir seumur hidupnya dihabiskan untuk mengabdi kepada 
suaminya.

Kesuksesan yang diraih suaminya membuat hidup keluarga menjadi lebih baik. 
Anak-anak yang ke sekolah jalan kaki menjadi diantar pakai mobil. Rumah yang 
dulu panas kemudian ada pendingin. Kebutuhan hidup yang serba sulit menjadi 
tercukupi bahkan melimpah. 'Hidup kami bahagia Mas..'tutur beliau.

Dipuncak kariernya sang suami terlihat lebih sayang kepada keluarga. Sampai 
kemudian dikejutkan oleh kenyataan yang berbeda. Suaminya meninggalkan rumah 
bersama perempuan lain yang justru dikenalnya. Hatinya hancur karena harus 
banting tulang untuk menghidupi anak-anaknya. 'Hanya pada Allahlah saya memohon 
dan berserah diri..' ungkap beliau. Sampai batas titik nadir Allah Subhanahu wa 
Ta'ala menguji dirinya.

Bertahun-tahun suami pergi meninggalkan dirinya dan anak2nya. Tiba-tiba 
suaminya datang kembali ke rumah dengan membawa dua anak dari istri mudanya. 
Suaminya bercerita bahwa istri mudanya telah meninggal dunia, usahanya 
mengalami kebangkrutan dan menjadi pengangguran. Dipeluk suaminya dengan 
tertumpah semua air mata. Didekap erat tubuh suaminya, dia bersedih sekaligus 
gembira karena suaminya telah kembali. Air matanya tak terbendung. Seolah 
penderitaan yang dialami selama ini tak sebanding dengan penderitaan yang 
dialami oleh sang suami.

'Rumah menjadi ramai karena anggota keluarga bertambah, biasa kami bertiga 
sekarang menjadi berenam,' kata beliau. 'Saya mengajarkan kepada anak-anak 
bagaimana mengubah benci menjadi cinta karena begitulah Nabi Muhammad 
mengajarkan kepada kita sampai akhirnya anak-anak saya menerima dengan baik, 
saudara-saudaranya dari istri muda ayahnya. Mereka berkumpul dan bermain bagai 
saudara sekandung.' tutur sang Ibu terlihat wajahnya yang telah termakan usia.

Setiap hari suaminya pergi mencari nafkah, berangkat pagi sampai pulang malam. 
Pada suatu hari suaminya sakit terkena Bronchitis dan muntah darah. Dua bulan 
kemudian sang suami meninggal dunia dipangkuannya. Dielus dan dibelai rambut 
sang suami yang telah memutih. Meninggal dengan senyuman dengan kasih sayang 
seorang istri. Semua anak-anaknya menangisi kepergian ayahnya. Ayah yang 
dicintai oleh anak-anak dan istrinya.

Malam itu beliau berpesan kepada saya, 'Mas Agus, silahkan tulis kisah saya 
agar bisa membantu mereka yang mengalami peristiwa seperti saya menjadi tegar 
dan kuat. Puluhan tahun saya benci, marah dan kesal namun saya bisa merubah 
menjadi cinta dan kasih sayang kepada orang yang telah menyakiti hati saya 
karena tiada kenal lelah saya berdoa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala 
agar keluarga kami diberkahi dan Allah membuktikan janjiNya kepada kami, 
memberikan kami dan keluarga sebuah kebahagiaan yang terindah.' Ucap beliau 
dengan air mata yang bercucuran. Subhnallah...

---
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan 
dalam urusannya. (QS Ath-Thalaq 4).

Wassalam,
agussyafii
---
Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan 'Muhasabah Amalia 
(MUSA)' Hari Ahad, Tanggal 18 April 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan 
partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii2, atau 
http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii  atau sms di 
087 8777 12 431




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke