oleh es ito
Tuan Goen, masih hidup dia rupanya. Walaupun uban tidak lagi sanggup 
diperam perawan, dia masih kuasa berjalan. Tuan Goen hidup dari kata dan
 mantera. Dia menyisipkan pesan mingguan, bagai khutbah manusia 
prasejarah pada zaman yang tidak lagi menghendakinya. Lihatlah Tuan Goen
 menapaki jalan, dari belukar Utan Kayu hingga rindangnya Salihara. Dia 
renta, tertatih dengan langkah terseok tetapi Tuan Goen percaya dia lah 
pengemban wahyu untuk menyelamatkan peradaban. Tetapi pada zaman ini, 
siapakah lagi yang mengerti dengan mantera Tuan Goen. Generasi kami, 
Tuan Goen, bukanlah pemamah biak mantera berbalut estetika. Dan kami 
tidak punya waktu melayani orang tua cengeng yang sepanjang hidupnya 
bermimpi menjadi Albert Camus. Kami bukanlah pelayan mimpi-mimpimu Tuan 
Goen. Tiap minggu kau bisa menggoda kami dengan rayuan gombal catatan 
pinggirmu, tetapi kau tahu Tuan Goen, karena kami terlahir durhaka maka 
mudah bagi kami memisahkan dusta dari kata. Lagipula, bukankah tulisanmu
 lebih banyak kutipan mantra asingnya daripada mantra mu sendiri. Tuan 
Goen tidak mendapat tempat di generasi kita, lalu dia beralih pada 
penguasa. Tertatih mendaki tangga istana, Tuan Goen mendapati dirinya 
dilarikan kereta. Di Bandung sana, Tuan Goen berikrar akan melanggengkan
 kekuasaaan dengan warna-warni Amerika. Ohh Tuan Goen, sudah pikun dia 
rupanya, ini Indonesia bukan negara bagian Amerika. Mari ucapkan mantera
 generasi kita; sudahlah Bro, secara lo udah tuwir gitu loch…

Di Bandung sana, Tuan Goen gagah menyampaikan orasi budaya. Dia 
memulai orasi dengan pekik merdeka tetapi panggungnya dihiasi triwarna 
merah putih biru. Dia mengungkit Soekarno untuk menyanjung Boediono. 
Tuan Goen memberi garansi kepada kita, bahwa Boediono dan tentu saja SBY
 layak untuk dipilih sebab dia bukan politisi juga bukan pemain 
sinetron. Dan yang lebih penting sepanjang hidupnya, Boediono dihidupi 
oleh negara bukan lewat bisnis yang menjadi haram dalam panggung itu. 
Bagi Tuan Goen yang katanya sering berjuang untuk menghilangkan 
Islamophobia bangsa barat, mengumpulkan kekayaan dari pajak atas jasa 
pada negara jauh lebih mulia daripada berniaga. Tuan Goen dan anak-anak 
salah asuhannya tentu, sebagaimana Boediono, sangat percaya pada tangan 
tidak terlihat yang bisa melakukan intervensi terhadap pasar. Masyarakat
 sipil perlu diperkuat dengan melemahkan fungsi negara. Wajar bila 
pengidap sipilis semakin meningkat. Tetapi pernahkah Tuan Goen berpikir,
 dalam konsep kami masyarakat awam, di pasar-pasar rakyat tangan tidak 
terlihat itu wujudnya sangat jelas yaitu copet. Itulah jenis manusia 
yang selalu menerima curiga, sebab senantiasa mengambil sesuatu yang 
bukan hak nya. Tuan Goen, apakah tangan tidak terlihat yang Tuan suka 
itu tiada beda dengan tangan tidak terlihat yang kami mengerti? 
Bukankah, tangan tidak terlihat itu yang membuat jurang antara yang 
miskin dan kaya semakin besar. Bukankah, tangan tidak terlihat itu yang 
membuat generasi kami mulai bosan dengan ketidakadilan. Bah, lupa aku, 
Tuan Goen tentu tidak akan sanggup menjawabnya, sebab dalam referensi 
Albert Camus, pertanyaan ini belum pernah muncul. Begitulah di Bandung 
sana, Pak Tua Goen tidak ingin menerima takdir usia senja.

Politik adalah sebuah tugas. Tanpa diminta, Tuan Goen menuliskan 
pembelaannya, kenapa dia memihak. Sang Albert Camus wanna be 
ini seperti biasa merangkai kata dari beragam kutipan yang panjangnya 
melebihi gagasannya sendiri. Sederhana bukan, sama sederhananya dengan 
merangkai meja belajar olympic, bahan dan sekrup sudah tersedia
 kau tinggal menyatukannya. Lantas kau memuji kerja kau yang tidak 
seberapa itu sebagai sebuah prakarya pribadi. Tuan Goen tidak usah 
berkecil hati, kau punya tulisan masih ciamik punya. Bagai rokok, 
nikmatnya masih melebihi kadar Tar dan Nikotin. Tetapi inilah hukum 
rokok Tuan Goen, kita menikmatinya tetapi kemudian kita lupa gunanya 
untuk apa. Kau menulis, Politik adalah tugas merambah jalan di 
belukar membuka celah agar keadilan itu datang. Terkadang tangan jadi 
kotor, hati jadi keras – dan itu menyebabkan rasa sedih tersendiri.
 Aku menghisap mantera mu dalam-dalam Tuan Goen, tetapi nafasku sesak. 
Paru-paru ku memberontak sementara jantung menginginkan revolusi. Di 
usia senjamu, kau masih jumawa berkehendak membuka jalan yang tidak kami
 butuhkan. Kau tahu politik itu kotor Tuan Goen, kau memasukinya lewat 
rusuk penguasa, ah betapa tambah kotornya kau ini. Kau menyebut nama 
Munir, berharap keadilan pada penguasa yang tidak kunjung mampu 
menyelesaikannya. Kau, yang menganggap dirimu intelektual publik, 
menolak untuk ongkang-ongkang kaki bermatabatkan mahligai. Tetapi Pak 
Tua, kenapa baru sekarang kau berani berkata, justru pada saat kau 
menyokong penguasa. Kenapa dulunya mahligai mu itu susah sekali digapai 
pada saat banyak sekali hal yang tidak sesuai. Tuan Goen yang 
bercita-cita menjadi martir kebebasan di Indonesia justru di usia senja 
terpenjara oleh kepikunannya sendiri.

Tuan Goen, sudahlah, aku lihat kau sudah lelah. Tiada guna lagi kau 
berulah. Mantera-mantera mu tidak lagi bisa mengobati sakitnya generasi 
kami. Tidak usah pula tubuh rentamu itu kau paksakan untuk memikirkan 
masa depan kami. Masa-masa dimana kau sudah tidak ada lagi dan kami 
tidak tahu, akankah kami mengenangmu sebagai seseorang, atau hanya 
sebuah bidak biasa dalam panggung kampanye presiden Amerika di Bandung 
sana. Pak Tua Goen, saatnya undur diri, bagi kami kau tiada guna lagi. 
Perawan-perawan generasi kami tidak lagi tersihir oleh mantera mu. 
Mereka suka yang praktis Pak Tua, bukan yang rethoris. Kau sudah 
berbuat, kami tidak akan menghapus jejakmu. Masalah penilaian serahkan 
kepada masa depan.

Pak Tua Goen sudahlah, kau tidak akan pernah lagi bisa mencatat dari 
pinggiran.
http://esito.web.id/2009/06/tuan-goen-yang-tidak-lagi-mencatat-di-pinggiran/


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke