Notes: Yang dimaksud "Trik media tertentu membuat setting laporan memancing
kekesalan di kalangan jurnalis (lokal)" dalam tulisan di bawah ini tampaknya
adalah laporan TVOne...
Rio
----------------------------------------------------------------------------------------------
Media dan Terorisme Aceh
Mukhtaruddin Yakob
JURNALIS TELEVISI DAN KETUA ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN
(AJI) BANDA ACEH
Lebih dari dua pekan, aparat kepolisian Aceh mengepung kelompok
radikal bersenjata di pedalaman Aceh Besar. Hasilnya, puluhan orang yang
diklaim sebagai teroris digulung polisi. Sisanya ditembak mati, kendati ada
korban di kalangan warga sipil, itulah ekses dari sebuah operasi
bersenjata.
Operasi kepolisian di Aceh mendapat sorotan media, baik lokal
maupun nasional, bahkan luar negeri. Malah beberapa media menyiarkan
secara khusus detik-detik gempuran aparat Brimob dan Densus 88. Berbagai angle
dijabarkan para peliput di lapangan dan penentu kebijakan
di redaksi. Aktualitas dan ketajaman adalah strategi media menyuguhkan
perkembangan operasi di "pedalaman" Aceh Besar ini. Sayangnya, masih ada
beberapa tayangan yang agak berlebihan jika dibanding kejadian
sebenarnya. Bahkan ada yang membalikkan fakta sebenarnya.
Warga yang sebelumnya enjoy dengan rutinitasnya tersentak
setelah media melansir peristiwa itu. Heran dan bingung bercampur
menjadi satu. Saat kejadian itu dilansir pertama kali, opini masyarakat
tertuju pada kelompok bersenjata yang identik dengan masa lalu. Namun
dugaan itu ramai-ramai dibantah. Bantahan tidak hanya datang dari Mabes
Polri, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan hingga Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono pun langsung menegaskan bahwa kelompok teroris
di Aceh tak berkait dengan Gerakan Aceh Merdeka, kendati, dari beberapa
orang yang ditangkap, terdapat warga Aceh.
Peristiwa yang terjadi pada 22 Februari lalu seakan menaikkan
suhu politik dan keamanan di Aceh. Masyarakat Serambi Mekkah, yang
selama ini telah damai, sangat terganggu oleh peristiwa yang pecah di
kawasan Jalin, Jantho, Aceh Besar, ini. Apalagi insiden yang melibatkan
aparat keamanan dan gerakan radikal terjadi dekat permukiman penduduk.
Namun, pada peristiwa yang terus berlanjut itu, teridentifikasi bahwa
mereka adalah kelompok teroris di bawah kendali Dulmatin cs.
Aparat kepolisian terus mendesak hingga merangsek ke beberapa
lokasi. Titik gempuran bergeser ke kawasan lain. Para petinggi di Aceh
pun turut memantau situasi dengan terjun langsung ke lapangan. Peristiwa
terakhir pecah pada Jumat (12 Maret) di kawasan Leupung, Aceh Besar,
yang menyebabkan dua orang yang diklaim teroris tewas dalam baku tembak, dan
delapan lainnya ditahan. Jatuhnya korban sipil menjadi alasan
Gubernur Aceh bersama Kepala Polda untuk merasa "bersalah", sehingga
harus memberikan perhatian khusus.
Peran media
Trik media tertentu membuat setting laporan memancing
kekesalan di kalangan jurnalis. Perang urat saraf tak bisa dielakkan.
Media lokal masih melaporkan operasi ini secara malu-malu, sedangkan
sebagian media nasional sangat bersemangat memberitakan operasi
kepolisian sebagai sebuah operasi besar. Kesan Aceh angker kembali
mencuat saat media elektronik menayangkan sebuah "operasi" yang
sebenarnya belum berlangsung.
Kesungguhan petinggi di Aceh menandakan kasus ini serius. Namun
pernyataan resmi pemerintah bisa mendinginkan suasana Aceh. Sebaliknya,
peran media tertentu meng-cover peristiwa ini malah meninggalkan
kesan seram. Pengerahan kru ke lapangan yang berlebihan memicu
perdebatan sesama jurnalis di Aceh. Sebuah media elektronik nasional
masih keliru melaporkan peristiwa Leupung. Razia polisi yang berakhir
kontak senjata diberitakan sebagai serangan teroris terhadap Markas
Polsek Leupung.
Format tayangan yang terkesan spesial dianggap berlebihan.
Apalagi tayangan langsung ini dilakukan di kawasan yang sebenarnya bukan tempat
kejadian perkara pertama. Live report ini jugalah yang
menghipnosis beberapa media nasional mengirimkan krunya ke Aceh khusus
meliput peristiwa ini. Para jurnalis Aceh berdalih, tayangan tersebut
bisa menakutkan sehingga investasi di Aceh tak akan terjadi.
Tidak yakin
Meskipun sudah habis-habisan, media kesulitan mendapatkan konfirmasi soal hasil
operasi. Hanya pada hari pertama Kepala Polda Aceh Irjen
Adityawarman memberikan keterangan pers, selanjutnya Mabes Polri
memegang kendali kembali. Kepala Polda Aceh kembali memberikan
pernyataan pers pasca-insiden Markas Polsek Leupung. Media juga
kesulitan mendapatkan gambar para tersangka yang ditangkap atau yang
tertembak.
Di tengah susahnya akses, sebuah media mendapat perlakuan khusus. Media
bersangkutan bisa mendapatkan gambar kendati tidak terlalu
istimewa juga. Namun perilaku media tertentu telah memunculkan dugaan
terhadap rekayasa ini. Penggerebekan rumah Dokter Fauzi di Pamulang,
Banten, pada 9 Maret lalu makin mempertegas keberadaan teroris di
Indonesia dan Aceh. Begitu pula setelah terjadi kontak tembak dengan
pelarian sejumlah orang yang diklaim teroris ke pantai barat Aceh.
Dugaan ini diperkuat analisis Al Chaidar terhadap keberadaan Noor Din M. Top
dan pernah menggelar latihan di Aceh. Berbagai kemungkinan
bisa terjadi. Namun teka-teki masih terus menggantung hingga kasus ini
hilang sendiri. Pengambilalihan kasus juga menimbulkan anggapan bahwa
kasus ini menjadi masalah besar di Aceh, bahkan di Indonesia, menjelang
kedatangan Presiden Obama ke Indonesia. Pergeseran waktu kunjungan tak
terlepas dari kekhawatiran pengamanan Presiden Amerika Serikat ini
terhadap keselamatan kepala negaranya. Media juga mempengaruhi jadwal
Obama, akibat penembakan tersangka teroris dalam sebulan terakhir.
Media seharusnya bisa berperan menembus sumber utama untuk bisa
memperjelas kasus ini. Bukan malah membesar-besarkan peristiwa ini,
sehingga Aceh terkesan tidak aman. Media dan jurnalis lokal pun harus
jeli dalam menyiarkan setiap perkembangan sehingga media tidak malah
menjadi penyulut konflik.
Mungkin sekarang saat yang tepat untuk menerapkan jurnalisme
empati. Ekses dari operasi inilah yang seharusnya lebih dieksplorasi,
bukan malah mengeksploitasi operasi bersenjata yang diramu menurut
selera media, sehingga tak ada lagi korban yang sia-sia.
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]