Posted by: "Chris Komari" [email protected]
Sat Apr 3, 2010 4:12 pm (PDT)
(dikutip dari milis pembaca Kompas)
Prestasi Menkeu Sri Mulyani Dari Pandangan Rakyat Kecil Indonesia.
<><><><><><> <><><><<> <><<><><> <><><><>< ><><><><> <><><><>< ><><>
Friday, April 2, 2010 8:44
AM
From:"Chris Komari"
<futureindonesia@ yahoo.com>
Saya tidak
membenci Sri Mulyani sebagai Sri Mulyani dan saya juga tidak suka mengunakan
kata benci, karena kata itu terlalu kuat untuk mengambarkan keadaan yang
sebenarnya.
Kalau pejabat negara itu di kritik oleh rakyat, bukan
berarti (not always) si pengkritik itu sekaligus membenci orangnya. Saya bisa
membedakan antar orangnya dan fungsi jabatan serta public policy yang
diambilnya.
Lihat saja prestasi Sri Mulyani (termasuk waktu dia kerja di
IMF) dan apa yang dia klaim di publik lewat wawancara di TV's maupun di surat
kabar. Let's compare notes. I believe what I have is not the same with what you
have!
Saya tidak mengecilkan prestasi Sri Mulyani, dia adalah seorang
MENKEU yang lebih baik dari MENKEU-MENKEU sebelumnya. Ada beberapa terobosan
yang di lakukan Sri Mulyani yang patut dibanggakan, seperti mengejar para
pengemplang pajak.
Tapi sepak terjang yang telah dilakukahn oleh Sri
Mulyani sebagai MENKEU itu sebenarnya untuk kepentingan siapa, perusahaan ASING
atau untuk RAKYAT Indonesia? Lihat saja her records!
Dari pernyataan Sri
Mulyani di media masa baik koran dan eletronik, mengatakan bahwasanya economic
growth 4% dan neraca keuangan Indonesia saat ini adalah yang paling sehat nomer
# 3 didunia setelah China dan India.
Kalau dilihat dari balance sheet
(hitam diatas putih), memang benar. Tapi bagaimana economic growth itu dicapai
dan bagaimana balance sheet itu dibuat? Benarkah balance sheet Indonesia itu
sesehat seperti apa yang Sri Mulyani klaim?
Indonesia hingga
saat ini memang masih memerlukan investasi asing, tanpa investasi asing roda
perekonomian dan pembangunan di Indonesia bisa tidak berjalan.
Kebijaksanaan Sri
Mulyani sebagai MENKEU sangat difokuskan ke arah ini dan Indonesia bisa keluar
dari krisis ekonomi di ASIA tahun 1998 karena Sri Mulyani berhasil meyakinkan
perusahaan asing untuk menginvestasi ke Indonesia.
Hal itu bisa dilihat
dari keberhasilan Sri Mulyani menjual semacam surat utang negara yang disebut
Global Bond and Global Sukuk dan berhasil mendapatkan investasi asing sebesar
$4
billion. Uang $4 billion itu jumlah yang sangat significant untuk Indonesia.
Para economist tahu
bahwasanya bila investasi asing yang jumlahnya billion dollar disuntikan ke
dalam negeri, sudah barang tentu akan menciptakan economic growth. Is it good
or
bad?
It is not bad but it is good up to a point karena dengan
mengandalkan investasi asing, pertumbuhan ekonomi itu juga dibarengi dengan
hutang negara Indonesia yang semakin besar.
Lebih dari itu, Sri
Mulyani terlalu fokus pada investasi asing untuk memperbaiki balance sheet
negara dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri; tidak heran kalau Sri Mulyani
dipuja-puja orang ASING dan mengabaikan atau
lupa memperhatikan sektor riil dalam negeri yang sampai sekarng masih
juga belum berjalan.
Karena itu, apapun
sepak terjang Sri Mulyani dan yang dia klaim dipublik atas prestasinya sebagai
MENKEU yang mengatakan bahwa:
"Balance sheet atau
neraka keuangan Indonesia sangat sehat karena pembayaran hutang Indonesia masih
pada safety ratio dibawah 30% dari GDP, pembayaran interestnya hanya 2% dari
GDP, deficit Indonesia dibawah 3% ditambah pertumbuhan economi 4% yang
menempatkan Indonesia nomer # 3 didunia setelah China dan India" hanyalah
pernyataan dan kenyataan
angka hitam diatas putih.
Balance sheet itu tampak sehat karena hutang Indonesia sama anggota PARIS CLUB
(18 negara asing) sudah di re-schedule pembayaranya dari 20 tahun menjadi 40
tahun.
40 tahun bukanlah 40 bulan? Coba kalau pembayaran hutang-hutang Indonesia pada
anggota PARIS CLUB itu dikembalikan ke jangka 20 tahun? Bagaimana wajah balance
sheet Indonesia ditangan Sri Mulyani?
Kenyataanya, balance sheet yang
sehat serta economic growth 4 % tersebut masih juga tidk bisa merubah kenyataan
dilapangan, khusunya terhadap nasib rakyat kecil.
1). Massive unemployment
(penganguran) dan poverty (kemiskinan) masih juga tak
disentuh atau dikurangi. Yang kaya tambah kaya yang miskin tambah mlarat!
2). Hutang
Indonesia bukan semakin kecil malah semakin tinggi, bahkan hutang
dalam negeri semasa Boediono dan Sri Mulyani saat ini, lebih besar dari hutang
luar negeri. padahal sebelum tahun 1997/1998, hutang dalam negeri Indonesia itu
bisa dibilang NOL atau kecil sekali.
3). Korupsi bukan
tambah hilang atau berkurang, malah meraja-lela, meski KPK, President SBY dan
Sri Mulyani konon telah bekerja mati-matian mengejar dan menghukum para
koruptor.
4). Sektor riil yang mestinya
menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia masih juga tidak berjalan karena
bukan menjadi fokus Sri Mulyani. Sri Mulyani lebih suka disanjung oleh orang
asing dan perushaan asing daripada rakyatnya sendiri.
Sri Mulyani lebih suka
nampang dan meladeni wartawan dari Wall Street Journal daripada wartawan koran
lokal. Tidak mengherankan
bukan karena Sri Mulyani dulunya juga kerja sama IMF. Tidak mengheran bukan
kalau
kebijakan Sri Mulyani difokuskan pada kepentingan orang asing dan perusahaan
asing. You can argue all day long, but that is the reality dari kebijakan dan
kebijaksanaan MENKEU Sri Mulyani.
5). Saat ini Sri Mulyani ingin berlagak menjadi
pahlawan ekonomi Indonesia tapi orang lupa
apa yang Sri Mulyani lakukan waktu menjadi Executive Director di IMF yang tega
melihat Indonesia harus menelan kerugian sebesar $80 billion karena harus
menutup 16 banks ditambah hutang sama IMF sebesar $43 billion. Total kerugian
Indonesia tahun 1998 onward sebsar $123 billion. That is a lot of
money....dibandingk an dengan dana bail out Bank Century yang hanya Rp 6.7
trilliun.
Bandingkan uang
$123 billion dengan Rp. 7.6 trilliun rupiah. Karena itu Sri Mulyani tidak
pusing
kepala, tidak menuntut dan bersikears untuk mendapatkan data yang up todate
dari
orang-orang BI sebelum mengambil kebijakan bail-out Bank Century, karena apa?
karena dananya kecil sekali..., cuma Rp 7.6 trilliun rupiah dibanding IMF
debacle yang
besarnya $123 billion.
Setelah ketahuan baru deh dia mengaku: "saya di TIPU
Pak". Alasan lain yang Sri Mulyani dan Boediono katanka apa? Suasana krisis,
saya harus mengambil keputus cepat dan tepat, hari itu dan jam itu? Benarkah
demikian atau itu hanya alasan belaka?
6). Sri Mulyani dan
Presiden SBY berkora-koar telah mampu melunasi
huatng IMF sebesar $7.6
billion. tapi Sri Mulyani dan Presiden SBY tidak menerangka kepada rakyat
Indonesia dari mana dan bagaimana hutang itu dilunasi. Presiden SBy dan Sri
Mulyani harus menjual bond atau SUN (Surat Utang Negara) yang jumlahnya
mencapai
$17 billion ditahun 2006. Jadi hutang luar negari sama IMF sebsar $7.6 billion
bisa dilunasi, tapi Sri Mulyani sama Presiden SBY bikin hutang baru dalam
negeri
sebesar $17 billion. Apa bedanya?
Dulu zamanya
Presiden Soeharto dalam mengelola hutang negara seperti pinjam Peter untuk
bayar
Paul. Sekarang zamanya Sri Mulyani dan SBY, pinjam Achong-Achong untuk bayar
Peter. Apa bedanya?
7). Sampai saat ini masih tidak ada kebijakan
Sri Mulyani dan PERBANKAN Indonesia yang difokuskan dan ditargetkan untuk
mengurangi massive pengangguran dan kemiskinan di Indonesia dengan memberi
kridit lunak dan bunga yang rendah untuk orang miskin dan para penggagur untuk
bisa dipakai untuk membuka usaha dan memberi kredit pada pedagang kecil untuk
memperbesar usaha mereka.
Orang miskin masih menjadi musuh perbankan Indonesia
dan orang kaya yang sudah punya banyak duit malah menjadi sahabat para Bank di
Indonesia dan begitu mudah mendapatkan kredit. Kondidi itu masih terjadi sampai
detik ini.
8). kebijakan Sri Mulyani yang hanya menfokuskan
investasi asing dan mengabaikan sektor riil dalam negeri sangat berbahaya,
sebab bila investasi asing
itu berkurang dan menghilang, perekonomian Indonesia akan macet dan hancur.
9). Apapun
kehebatan dan keberhasilan Sri Mulyani sebagi MENKEU, hal itu juga masih belum
bisa merubah wajah rupiah
terhadap US dollar dibanding tahun 70'an dimana USD $1 sama nilainya
dengan Rp.400. Tahun 1980'an masih USd $1 sama dengan Rp. 650. Sekarng zamanya
Sri Mulyani berapa? USD $1 sama dengan Rp. 10.000?
10). Sri Mulyani dan Presiden SBY telah menguras dana APBN
untuk kepentingan pemerintah PUSAT dan mengabaikan kepentingan pemerintah
daerah dimana jutaan rakyat kecil yang masih miskin dan menganggur tinggal.
Lihat saja tuh APBN Presiden SBY dan Sri Mulyani 5 tahun terkahir. Thaun 2008,
pemerintah pusat menghabiskan 77.88%
total pemasukan APBN.
Sementara itu sisanya hang hanya 22.12% harus dibagi-bagi kepemerintah daerah,
tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa-desa yang jumlahnya ribuan.
Terus berapa dana yang diterima di tingkat desa kalau dana sekecil 22.12%
itu harus dibagi-bagi dan disunat di tingkat propinsi, kabupaten dan kecamatan?
Bagaimana dengan Budget President SBY dan Menkeu Sri Mulyani tahun 2010?
Akan lebih parah lagi. Kenapa?
Lihat saja beberapa jumlah Menteri Kabinet President SBY ke II? Bukanya
diperkecil malah diperbesar. Sudah begitu, ditambah Wakil-Wakil Menteri lagi,
belum lagi tenaga-tenaga ahli dan pembentukan komisi ini dan komisis itu, tim
khusus ini dan tim khusus itu.
Duh.. terlalu banyak nih kalau harus dikupas satu persatu.
Terus yang diklaim
oleh Sri Mulyani sebagai kerberhasilan ekonomi itu yang mana, khususnya buat
rakyat kecil Indonesia?
Cuma angka-angka
hitam diatas putih (di balance sheet), tapi rakyat Indonesia masih juga banyak
yang miskin dan menggangur?
Chris
Komari
Chairman
Partai Masa Depan
Indonesia Mandiri (PARMADIM)
www.futureindonesia .com,
[Non-text portions of this message have been removed]