http://priokberdarah.blogspot.com/2010/04/tragedi-mbah-priok.html
TRAGEDI BERDARAH MBAH PRIOK, BUNTUT DARI PRIVATISASI KORUP Tanjung Priok kembali membara. Dan seperti Tragedi Priok 1984, lokasi kejadian 14 April 2010 juga terjadi kawasan Koja. Sebab musabab atau pemicunya memang berbeda, tapi yang menjadi sasaran tetap sama, yaitu umat Islam. Kalau Tragedi 1984 bermotif politik represif rezim orde baru terhadap Islam, maka Tragedi Priok Berdarah kali ini bermotif ekonomi bisnis, tepatnya ketamakan bisnis kapitalis besar dunia atas wilayah Koja, bekerjasama dan dibantu penuh oleh para pejabat pemerintah pusat dan daerah RI serta BUMN Pelindo II. Kapitalis besar dunia itu adalah Hutchison Whampoa Group, milik Taipan Hongkong Li Ka-shing, orang terkaya di Asia Timur. Salah satu anak perusahaan grup ini, Hutchison Port Holdings (Grossbeak Pte.Ltd), adalah pemilik 51% saham di Jakarta International Container Terminal (JICT), dan 48% saham di Terminal Peti Kemas Koja (TPK Koja). Saham sisa di dua terminal peti kemas itu dimiliki oleh BUMN Pelindo II. Hutchison mengambil alih saham TPK Koja dari Humpuss Intermuda, yang saat itu berada di tangan BPPN akibat krisis 1998. Selengkapnya, baca: http://priokberdarah.blogspot.com/2010/04/tragedi-mbah-priok.html [Non-text portions of this message have been removed]

