PTDI butuh orderan 30 pesawat utk produksi N219 
Posted by: "Maliki-Duta Maulana" [email protected]   
asymmetric_forces 
Mon Apr 26, 2010 2:11 am (PDT) Senin, 26 April 2010 | 11:27 WIB 

TERKAIT:
* PT Dirgantara Indonesia dan GMF Perbarui Kerja Sama
* Uang Muka CN 235 Diharapkan dalam Tiga Bulan 
* PT DI Raih Kontrak 80 Juta Dollar AS
* PT DI Terus Bentangkan Sayap CN-235 di Korea Selatan

MANADO, KOMPAS.com - PT Dirgantara Indonesia (PT.DI) menawarkan pesawat terbang 
nasional jenis N219 kepada pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk 
memperlancar perhubungan ke daerah terpencil.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT.DI Andi Alisjabana di Manado, Senin 
(26/4/2010), mengatakan, pesawat jenis ini cocok untuk Sulut karena dirancang 
khusus untuk penerbangan jarak pendek dan  bisa mendarat pada landasan tak 
beraspal di wilayah pegunungan.

"N219 dapat menggantikan pesawat Twin Otter yang sudah tua dan tidak diproduksi 
lagi," kata Andi pada sosialisasi fasilitasi pengembangan dan promosi investasi 
Far 23 (Program N219).

Harga pesawat ini hanya 3,8 juta dollar AS (sekitar Rp 35 miliar), dapat 
mengangkut penumpang 19 orang dan masih memungkinkan dibiayai dari dana 
pemerintah daerah.

Analisis operasi pesawat N219 di Sulut untuk rute Manado-Naha berjarak 256 
kilometer (km) jarak tempuh satu jam, dengan perkiraan penumpang 80 persen (15 
orang), maka dapat dioperasikan dengan harga tiket Rp 650.000 per penumpang.

"Tiket seharga Rp 650.000 per penumpang dan LF 80 persen dapat diperoleh 
keuntungan sekitar 1.086 dollar AS per trip (sekali terbang)," kata Andi.

Sedangkan untuk Manado-Melonguane (360 km), jarak tempuh 1,25 jam,  harga tiket 
Rp 750.000 per penumpang, jumlah penumpang 15 dapat diperoleh keuntungan 1.253 
dollar AS per sekali jalan.

"Total pendapatan 4.677 dollar AS dikurangi biaya operai 4.514 dollar AS, maka 
diperoleh keuntungan 163 dollar AS per tahun atau 16.316 dollar AS per bulan. 
Jumlah tersebut cukup menguntungkan bagi Sulut," kata Andi.

Karakteristik pesawat N219 diantaranya, bermesin ganda masing-masing 850 SHP, 
disertifikasi pada ketegori CASR 23 (commuter category), biaya operasi dan 
pemeliharaan yang rendah, berkemampuan high and hot airfield capability, 
sederhana dan mudah pemeliharaannya.
    
"Pesawat ini belum diproduksi, harus ada permintaan sekitar 30 pesawat baru 
bisa dibuat, dan merupakan peluang bagi pemerintah daerah," kata Andi dan 
menambahkan, kepemilikan pesawat oleh pemerintah daerah dimungkinkan karena ada 
aturan untuk itu.




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke