Masih ingat saat gegeran adu argumen soal UU (Undang-Undang) Anti Pornografi ?.

Saat itu, ditengah geger lantaran polemik tentang urgensinya UU itu, wilayah 
propinsi Bali pun ikut geger dan gonjang-ganjing.

Bahkan saat itu ada sekelompok masyarakat Bali yang mengatasnamakan seluruh 
rakyat propinsi Bali yang sampai melontarkan ancaman bahwa propinsi Bali akan 
memisahkan diri dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) jika UU tersebut 
disahkan dan diberlakukan.


Saat ini, ditengah serunya polemik tentang keputusan MK (Mahkamah Konstitusi) 
yang menolak gugatan uji materi atas UU tersebut, wilayah Bali kembali geger 
dan gonjang-ganjing lagi.

Namun, kembali geger dan gonjang-ganjingnya Bali kali ini bukan lagi lantaran 
UU Nomor 44 Tahun 2008 tersebut.

Geger dan gonjang-ganjingnya Bali kali ini lantaran sebuah film dokumenter  
berdurasi lebih dari 10 menit hasil garapannya Amit Virmani, seorang sutradara 
kelahiran India yang saat ini berdomisili di Singapura.


Film dokumenter yang berjudul ‘Cowboys in Paradise’ ini mengisahkan sepak 
terjang dan kehidupannya para gigolo yang beroperasi di Pantai Kuta Bali. 
Mereka para gigolo itu memberikan jasa kepada para turis perempuan untuk 
menjadi teman ngobrolnya hingga menjadi teman pemberi kepuasan seks.

Film Cowboys in Paradise walau belum dirilis, namun sudah sukses meraih 
sejumlah penghargaan dalam Korean International Documentary Festival.

Trailer atau cuplikan film ini sudah beredar meluas di internet, baik di situs 
resminya Cowboysinparadise.comatau di facebook Cowboys in Paradise atau di 
situs-situs lainnya termasuk di situs Youtube Cowboys in Paradise Trailer.


Tentu saja, banyak pihak yang kemudian membantah dengan keras akan kebenaran 
fenomena yang diangkat dalam film dokumenter itu.

Film dokumenter ‘Cowboys in Paradise’ yang mengangkat fenomena para gigolo Kuta 
Bali yang menjadi salah satu daya tarik pariwisata Bali ini oleh beberapa pihak 
telah dianggap merusak citra pariwisata pulau dewata itu.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika merasa prihatin terhadap munculnya film 
dokumenter yang mengisahkan sisi negatif dari pulau dewata.

“Kita akan mengambil tindakan agar citra Bali sebagai pulau spiritual tidak 
ternoda”, kata Made Mangku Pastika.

Gubernur juga mempermasalahkan perihal izin shooting film ini. “Gak ada izin, 
itu jelas melanggar. Kita akan telusuri apakah film itu resmi atau 
nyuri-nyuri”, kata Made Mangku Pastika.

Polda Bali pun tak tinggal diam, jajaran mereka juga mulai bergerak. “Berkaitan 
dengan video yang beredar saat ini, kami sedang mengumpulkan materi isi video 
tersebut. Kami akan mengumpulkan barang bukti, saksi-saksi, termasuk pembuat 
film. Kami sedang mempelajari proses pembuatan video tersebut. Hasil sementara 
(pembuatan film itu) tidak ada izinnya”, kata Kepala Bidang Humas Polda Bali, 
Kombes Gede Sugianyar Dwi Putra.

Disamping itu, pihak Polri juga menggandeng pihak-pihak lain. “Untuk 
mengantisipasi adanya sinyalemen seperti apa yang digambarkan film itu, pihak 
kepolisian akan melakukan kegiatan yang sifatnya preventif dengan melibatkan 
Satpol PP dan satgas pantai yang diberi kewenangan untuk mengelola pantai 
tersebut”, kata Gede Sugianyar Dwi Putra

Dan menurut berita di Kompas.Com, bahkan Satgas Kuta juga telah melakukan razia 
di sepanjang Pantai Kuta, dengan hasil 28 orang yang dicurigai sebagai gigolo 
dan WTS (Wanita Tuna Susila) berhasil dijaring.

“Razia ini terkait pemutaran film Cowboys in Paradise yang diprotes masyarakat 
Kuta karena dianggap melecehkan” , kata Kepala Satgas Pantai Kuta, I Gusti 
Ngurah Tresna.


Di sisi lain, film ini menurut Amit Wirmani sebagai sutradaranya, ilhamnya 
bermula dari keterkejutan dirinya saat bertemu dengan bocah lelaki Bali berusia 
12 tahun yang sedang belajar bahasa Jepang lantaran cita-citanya ingin menjadi 
gigolo.

“Kalau saya sudah besar nanti, saya mau memberi layanan seks untuk gadis 
Jepang”, kata bocah usia 12 tahun itu.

Berdasarkan itu, maka Amit pun kemudian di tahun 2007 melakukan riset di Bali 
dengan melakukan sejumlah wawancara kepada kepada para turis asing sebagai 
pengguna jasa para gigolo itu, maupun juga kepada para gigolonya yang ia sebut 
dengan sebutan ‘Kuta Cowboys’.

Setahun setelah itu, ia kembali melakukan proses yang sama. Kali ini ia 
melakukannya secara lebih serius dan lebih mendetail lagi.

Akhirnya film ini yang secara keseluruhan membutuhkan waktu penggarapan selama 
dua tahun itu berhasil dselesaikannya.

Amit juga mengaku terkejut dengan kenyataan fenomena Kuta Cowboys di Bali itu. 
Menurutnya itu prostitusi semata, yang dipicu kemiskinan.

“Wisata seks untuk perempuan sangat umum di negara miskin dan pantai-pantai 
populer terutama di Asia Tenggara”, kata Amit.


Terlepas dari bantahan beserta polemik yang menjadi ekor dari kemunculan film 
dokumenter berjudul ‘Cowboys in Paradise’  yang mengangkat fenomena ‘Kuta 
Cowboys’ ini.

Perlulah kita bersama merenungkan sejenak bahwa dalam beberapa hal apa yang 
disampaikan oleh Amit Wirmani itu ada sisi kebenarannya. Paling tidak di soal 
seputar prostitusi yang ada korelasinya dengan kemiskinan.

Saat kemiskinan melilit kehidupan dan prostitusi dianggap bukan sebagai sebuah 
kejahatan dan juga bukan sesuatu hal yang melanggar etika dan norma moral 
maupun hukum agama, maka jangan salahkan jika mereka pun kemudian menjadikan 
prostitusi sebagai jalan keluar dari kemiskinan yang melilitnya.

Jangan salahkan pula si bocah umur 12 yang ditemui Amit itu jika ia kemudian 
menjadi bercita-cita ingin menjadi seperti para pendahulunya. Dimana menurut 
persepsinya, para pendaulunya itu telah berhasil melakukan transformasi 
vertikal dalam kehidupan sosial ekonominya berkat prostitusi.


Akhirulkalam, tak ada salahnya memang jika kita kemudian berusaha melakukan 
berbagai upaya untuk meminimalisasikan efek dan dampak negatif dari kemunculan 
film dikumenter ini terhadap citra pariwisata Bali khususnya dan Indonesia pada 
umumnya.

Namun, disamping itu perlulah juga kita mulai menelisik. Jangan-jangan dunia 
pariswisata di Indonesia memang sudah mulai berubah corak menjadi sangat 
kapitalistik, sehingga berkahnya tak lagi menetes kepada mereka-mereka yang 
jelata dan termarjinalkan.

Suatu keadaan dimana kapital sudah mendominasi industri pariwasata, maka berkah 
dari industri pariwisata hanya tinggal menyisakan remah-remah peluang di bidang 
prostitusi saja bagi mereka.

Semoga tidak begitu kenyataan yang terjadi di dunia pariwisata Indonesia.


Wallahulambishshawab.

*
Catatan Kaki :
        * Artikel menarik lainnya yang berjudul “Sepakbola Terlarang” dapat 
dibaca dengan klik di sini , dan yang berjudul “Konspirasi PSK” dapat dibaca 
dengan klik di sini , serta yang berjudul “Anjing Peliharaan” dapat dibaca 
dengan klik di sini , dan yang berjudul “Ziarah Makam Nabi SAW” dapat dibaca 
dengan klik di sini .
*
Industri Wisata Gigolo Kuta Bali
http://ekonomi.kompasiana.com/2010/04/28/industri-pariwisata-gigolo-kuta-bali/
*


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke