http://health.detik.com/read/2010/05/03/133041/1350060/766/merasa-jijik-itu-baik-buat-kesehatan?l993306763
Senin, 03/05/2010 13:30 WIB
Merasa Jijik Itu Baik Buat Kesehatan
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Melihat kotoran, bangkai atau makanan basi memicu rasa jijik dan ingin
muntah. Sering merasa jijik seperti itu justru bagus buat kesehatan karena
memotivasi perilaku untuk menghindari infeksi.
Jijik adalah perilaku reaktif dari tubuh yang sifatnya untuk mencegah. Perasaan
jijik baik bagi tubuh karena bisa mencegah timbulnya masalah kesehatan yang
lebih parah, seperti terjangkit kuman.
"Jijik adalah suatu bentuk tindakan pencegahan untuk melindungi kita dari
tanda-tanda ancaman, seperti penyakit," kata Val Curtis, dari UK's London
School of Hygiene and Tropical Medicine, seperti dilansir dari Newscientist,
Senin (3/5/2010).
Ketika melihat hal-hal yang jorok maka tubuh akan merasa jijik sebagai respons
gugup dari otak bahwa ada ancaman bakteri yang potensial jika tidak dihindari.
"Perasaan jijik muncul sebelum terjadi kontak dengan bakteri sehingga mencegah
tubuh terkena infeksi, dan tubuh biasanya akan meresponsnya dengan muntah atau
mual," kata Val Curtis seperti dilansir dari Medicalhypotheses.
Ketika perasaan jijik muncul, hormon yang paling terlibat menurut peneliti
adalah serotonin (5-hydroxytryptamine, 5-HT) yang mengaitkan perasaan jijik
untuk sistem kekebalan tubuh. Hormon ini juga menyebabkan seseorang yang merasa
jijik akan muntah.
Seperti dilansir dari wellbeingandhealth.net, berikut empat alasan mengapa
jijik itu baik, yaitu:
1. Jijik memperingatkan bahwa kita menelan sesuatu yang tidak sesuai dengan
tubuh kita
Pada saat kita menelan sesuatu yang tidak sesuai dengan tubuh kita, biasanya
tubuh akan memberikan reaksi mual. Sebagai contoh, ketika kita tidak suka
dengan suatu makanan yang menjijikkan walaupun dengan mata tertutup, maka tubuh
tetap akan memberi reaksi mual.
2. Jijik mengingatkan kita pada sesuatu yang berbahaya
Sesuatu yang berbahaya dan membawa penyakit juga dapat menimbulkan rasa jijik,
seperti darah, feses atau bekas muntahan. "Jijik adalah respon evolusioner
untuk barang berbahaya," kata Lance Workman, seorang psikolog di Cardiff
University.
3. Jijik mengajarkan untuk bijaksana terhadap tubuh
Hal ini sering berupa reaksi fisik yang mengingatkan kita apa yang sedang
terjadi dengan lingkungan sekitar. Biasanya sebagai refleksi bahwa kita harus
menyadari alasan jijik dan akhirnya menghindari hal-hal tersebut. Itulah yang
membuat kita lebih bijaksana terhadap tubuh.
4. Jijik merupakan motivator kuat untuk perubahan positif
Ketika kita menemukan sesuatu yang menjijikkan dan membuat mual, reaksi kita
biasanya akan melakukan tindakan sederhana yaitu muntah, setelah itu
menyingkirkan hal yang menjijikkan tersebut. Biasanya rasa jijik akan
memotivasi kita untuk melakukan suatu perubahan yang cukup jelas.
Kita biasanya tahu apa yang kita tidak ingin lakukan lagi agar tidak mengalami
kesulitan terlalu banyak. Jijik merupakan motivator kuat untuk perubahan
positif.
(mer/ir)
[Non-text portions of this message have been removed]