http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=17603
2010-04-30 Keadilan untuk Warga Cina Benteng SP/Dewi Gustiana Chot Nio (kiri), perempuan berusia 78 tahun, salah satu warga Tangerang keturunan Cina Benteng atau dikenal dengan "Ciben". Hidupnya susah, selain sudah tidak mampu bekerja lagi, suaminya juga sudah meninggal dan anak-anaknya juga hidup kesulitan sehingga tidak bisa membantu orangtuanya. Dia tinggal sendiri di rumah gubuknya di Jalan Imam Bonjol Gang Basin Petak Sawah Kota Tangerang. Untuk hidup sehari-hari, Chot Nio dibantu para tetangganya. Nama komunitas Cina Benteng semakin menyeruak ke permukaan setelah Pemerintah Kota Tangerang, 13 April 2010 lalu berencana menggusur wilayah yang dihuni puluhan tahun oleh komunitas ini. Alih-alih, rencana tersebut dimaksudkan adanya penataan lokasi itu menjadi ruang terbuka hijau. Lantas siapa sesungguhnya warga komunitas Cina Benteng itu? Cina Benteng adalah panggilan yang mengacu kepada masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Tangerang, Provinsi Banten. Nama Cina Benteng berasal dari kata Benteng, nama lama Kota Tangerang. Saat itu terdapat sebuah benteng Belanda di Kota Tangerang, tepatnya di pinggir Sungai Cisadane. Benteng tersebut difungsikan sebagai pos pengamanan Belanda mencegah serangan Kesultanan Banten. Benteng itu pun menjadi benteng terdepan Belanda dalam pertahanannya di Pulau Jawa. Komunitas Cina Benteng dikenal unik, mereka berkulit sedikit lebih gelap. Berbeda dengan warga keturunan Tionghoa pada umumnya. Mereka lebih mirip dengan orang-orang Vietnam Utara. Akulturasi Kesenian mereka hasil akulturasi Betawi-Tionghoa. Cokek di antaranya, yaitu tarian berpasangan lelaki dan perempuan dengan iringan musik gambang kromong. Agama yang dianut, antara lain Konghucu, Buddha, Katolik, Islam, dan Protestan. Peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Thung Ju Lan mengatakan, kelompok ini dikenal dengan Cina Peranakan. Mereka sudah tidak bisa lagi berbahasa Mandarin, sebab logat mereka terakulturasi bahasa Betawi dan Sunda."Saat ini, kondisi sosial dan perekonomian mereka bisa dibilang marginal 'miskin' jika dibanding Cina totok pada umumnya," katanya kepada SP, di Depok, Jawa Barat, Kamis (29/4). Tradisi dalam doa atau sembahyang mereka pun punya keunikan dan tradisi yang belum tentu sama dengan komunitas Tionghoa pada umumnya. Apakah lantas penggusuran akan menghilangkan identitas mereka? Thung berharap sebagai warga negara, hak asasi mereka atas tanah, kehidupan sosial, dan ekonomi patut menjadi tanggung jawab pemerintah. Terlepas dari ada atau tidaknya agenda tersembunyi dari penggusuran itu, pemberdayaan bagi mereka harus diupayakan oleh para penggiat sosial. [berbagai sumber/R-15] [Non-text portions of this message have been removed]

