Refleksi : Jauh di horizont?

http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=137315


Kejayaan Itu Masih Jauh


Setiap bangsa pasti bercita-cita menjadi bangsa yang maju dan berjaya, bahkan 
kalau perlu memegang supremasi politik, militer, ekonomi, dan peradaban. 
Keinginan seperti ini dibenarkan bukan hanya secara politis dan kultural, 
melainkan juga teologis. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa "setiap puak berbangga 
atas arah perjuangan masing-masing (kullu hizbin bi ma ladaihim farichun, QS 
Rum: 32). Dan, "masa-masa kejayaan itu Aku pergilirkan di antara bangsa-bangsa" 
(wa tilka al-ayyamu nudawiluha baina l-nas, QS Ali Imran: 140).

Maka sangatlah beralasan jika setiap anak bangsa senantiasa risau dan 
bertanya-tanya: kapan giliran bangsa Indonesia maju dan berjaya? Berjaya di 
antara bangsa-bangsa Asia Tenggara, kemudian di antara bangsa-bangsa Asia, dan 
akhirnya di antara bangsa-bangsa dunia. Kapan bangsa Indonesia dihargai, 
dihormati, dan disegani oleh bangsa-bangsa lain karena kemajuannya di bidang 
ekonomi, politik, militer, dan peradaban?

Apakah itu yang disebut nasionalisme dan patriotisme seperti yang sering 
dikutip para pejabat negara dan tokoh politik itu? Lihat saja infrastruktur 
fisik dan budaya yang akan menopang kemajuan bangsa, yang masih serba kurang 
dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Angka korupsi masih menggila. 
Terbongkarnya mafia hukum, makelar kasus, dan sekarang makelar pajak, dan entah 
makelar apa lagi yang akan muncul ke permukaan. Semua yang selama ini 
ditampakkan sebagai mulus dan rapi ternyata kamuflase belaka.

Kenyataan ini tidak jarang membikin kita frustrasi. Apalagi jika kita melihat 
indikator-indikator di berbagai bidang kehidupan, baik politik, hukum, ekonomi, 
maupun sosial dan budaya seperti yang tercermin pada indeks-indeks pembangunan 
manusia. Betapa tidak, di kawasan Asia Tenggara saja kita belum berjaya. Untuk 
meraih prestasi kejayaan di antara bangsa-bangsa Asia dan dunia tampaknya masih 
memerlukan beberapa generasi lagi. Kita masih termasuk dalam kategori bangsa 
yang tertinggal.

Ketertinggalan ini telah menjadikan kita kadang dihinggapi psikologi kekalahan 
dan rendah diri. Ada gejala kita mengalami krisis percaya diri (self 
confidence) yang mengakibatkan kita menjadi kurang semangat, lemah etos untuk 
berjuang, dan kehilangan elan vital. Kalau bukan karena ajaran agama yang 
mengharamkan berputus asa, kita tidak lagi optimistis. Kita putus asa. Hanya 
karena ayat Al-Quran di atas kita tidak putus asa. Tetapi, tetap yakin bahwa 
prestasi dan prestise itu --meski masih panjang dan lama-- pasti akan datang 
juga.

Kita yakin dapat menyusul ketertinggalan tersebut. Pasalnya, sejatinya syarat 
untuk mencapai kemajuan ada di bangsa ini. Menurut Profesor Kishore Mahbubani 
(Dekan School of Lee Kwan Yew Public Policy, NUS, 2008), berdasarkan pengalaman 
Cina, India, dan beberapa negara macan Asia lainnya, faktor-faktor yang menjadi 
syarat kemajuan suatu bangsa pada sejatinya ada pada diri bangsa Indonesia. 
Negara ini bukan hanya indah bagaikan zamrud katulistiwa, melainkan juga 
alamnya menyediakan hampir semua potensi yang memungkinkannya maju dan berjaya. 
Walhasil, negara ini hanya tinggal membenahi nation and character building-nya.

Profesor Mahbubani, misalnya, bukan yang pertama menegaskan bahwa bangsa 
Indonesia akan maju jika berhasil menghapuskan mental feodalisme dalam 
pemerintahan dan dalam masyarakat. Banyak tokoh dan pakar yang menuding mental 
feodalisme sebagai biang kerok stagnasi bangsa ini menuju kemajuan. Feodalisme 
dalam pemerintahan itu sangat negatif dan destruktif. Karena feodalisme, 
kritisisme hilang, dan berkembang budaya "asal bapak senang", alias menjilat. 
Pejabat birokrasi yang feodal cenderung suka bagi-bagi kekuasaan secara nepotis 
yang anti-meritokrasi, dan uang seperti layaknya Robin Hood. Mereka minta 
dilayani, bukan melayani.

Masyarakat memandang pejabat negara dan pemerintahan dalam konstruksi 
feodalisme: menuntut kolega dan kerabatnya yang menjadi pejabat negara harus 
memberikan "sesuatu" kepada mereka dalam bentuk jabatan dan materi. Masyarakat, 
apalagi sanak famili, bagaikan semut merubung gula, berduyun-duyun mengepungnya 
dengan sejumlah proposal dana, memo, dan koneksi sebagai bukti dapat ikut 
merasakan kekuasaan.

Jika tidak mau memberikan itu semua, sang pejabat dianggap egois, pelit, dan 
tidak bermanfaat bagi keluarga. Maka, untuk memenuhi tuntutan tersebut, sang 
pejabat harus mempraktekkan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ini benar-benar 
merupakan dampak dari budaya feodalisme dalam pemerintahan dan dalam masyarakat 
yang sangat destruktif.

Maka kita harus memulai dari diri kita masing-masing. Hilangkan feodalisme dari 
diri masing-masing. Gerakan memperbaiki diri masing-masing sebagai gerakan 
sentripetal ini niscaya akan memiliki dampak sentrifugal, yang pada akhirnya 
negara kita menjadi benar-benar semakin baik. Ayo, kita mulai dari diri 
sendiri. Ibda' bi nafsik!

Hajriyanto Y. Thohari
Wakil Ketua MPR-RI
[Perspektif, Gatra Nomor 24 Beredar Kamis, 22 April 2010]

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke