http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/08/141366/70/13/Akal-akalan-Golkar


Akal-akalan Golkar 
Sabtu, 08 Mei 2010 00:01 WIB      

SEPANDAI-PANDAINYA membungkus niat busuk, baunya akan tercium juga. Aroma bau 
busuk itulah yang kini berhembus kencang dari Senayan. Bau busuk itu terkait 
dengan niat Golkar memetieskan keputusan politik skandal Century. Keputusan 
politik itu sudah final dan telah menjadi dokumen negara. Dalam dokumen itu 
jelas tertera sejumlah nama yang dianggap bersalah dan karena itu harus 
bertanggung jawab. 

Nama Boediono yang kini wakil presiden dan Sri Mulyani yang sudah mengundurkan 
diri sebagai menteri keuangan menjadi dua dari banyak nama yang harus 
bertanggung jawab atas indikasi pelanggaran. Dua orang itu sudah diperiksa 
Komisi Pemberantasan Korupsi. Seharusnya merupakan tugas DPR untuk mengawal 
proses hukum atas putusan politik Pansus Angket Century itu. Akan tetapi, apa 
lacur, Golkar sebagai salah satu partai yang memelopori penolakan kebijakan 
bailout Century itu justru mulai melunakkan sikap. 

Partai berlambang pohon beringin tersebut mengisyaratkan menutup buku atas 
skandal yang merugikan negara Rp6,7 triliun itu. Inilah isyarat yang 
menyemburkan aroma bau busuk itu, bahwa Golkar berada di barisan yang menolak 
bailout Century hanya karena faktor Sri Mulyani. 
Bukan rahasia lagi Sri Mulyani berseteru terbuka dengan Aburizal Bakrie, bos 
Partai Golkar. Secara terbuka Sri Mulyani mengungkapkan bahwa Pansus Angket 
Century yang membidik dirinya bermuatan dendam Aburizal terhadapnya. 

Aburizal, mantan menko kesra, menurut Sri Mulyani jengkel ketika dirinya 
sebagai menteri keuangan pada akhir 2008 tidak menghentikan perdagangan saham 
di bursa sewaktu saham-saham, terutama saham Bumi milik Aburizal, merosot 
tajam. Masih menurut Sri Mulyani, Aburizal dendam karena Sri Mulyani waktu itu 
meminta sejumlah eksekutif kelompok Bakrie dicekal karena menunggak royalti 
batu bara triliunan rupiah. Kini, semua menjadi terang benderang bahwa Golkar 
ikut-ikutan menolak bailout Century hanya karena kepentingan balas dendam. 
Alasan yang mencerminkan sikap yang buruk, sangat buruk. 

Harus tegas dikatakan bahwa Golkar tidak bisa seenak udelnya mengubah sikap 
hanya karena Sri Mulyani sudah mengundurkan diri sebagai menteri. Jarum jam 
penyelesaian Century tidak bisa diputar balik. Penyelesaian hukum atas kasus 
Century adalah pilihan terbaik untuk kepentingan semua pihak termasuk Boediono 
dan Sri Mulyani. Bukankah mereka sudah divonis bersalah lewat sebuah proses 
politik? 

Pemulihan nama baik mereka hanya bisa dilakukan lewat proses hukum. Karena itu, 
kita yakin, Boediono dan Sri Mulyani pun berkepentingan dengan proses hukum 
yang sedang berjalan dalam rangka memulihkan nama baik mereka. Mereka mestinya 
juga tidak mau kasus Century dipetieskan. 

Perubahan sikap Golkar itu patut dicurigai sebagai alat tawar-menawar untuk 
mendapatkan kursi menteri keuangan yang akan ditinggalkan Sri Mulyani. Jika itu 
yang terjadi, Golkar pantas disebut musang berbulu domba

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke