Lebih baik berjalan lambat terkontrol dan stabil daripada melonjat-lonjat 
kehilangan komando seperti yang sudah dialami IPTN sebelumnya, marilah belajar 
dari pengalaman, lambat tapi pasti dan meyakinkan. Biarkan yang lain menari 
berdansa tetapi kita terus melangkah tegap dan stabil walau itu lambat menuju 
sasaran mengharumkan nama Indonesia di dunia industri pernerbangan 
internasional. Kesabaran, ketekunan dan pendalaman sangat menjanjikan kemajuan 
tidak teriak mana yang sudah saya bangun dulu. Yang dibutuhkan Indonesia adalah 
pemimpin sabar, tekun, rajin, ulet, bersahaya serta mencintai rakyatnya dan 
bukan meninggalkannya dengan bermewah-mewah di negeri asing sana.
k.siregar 


--- On Tue, 11/5/10, Satrio Arismunandar <[email protected]> wrote:

From: Satrio Arismunandar <[email protected]>
Subject: [ppiindia] Indonesia-Korsel mau bikin pesawat tempur sekelas F-16 ?
To: "news Trans TV" <[email protected]>, "kampus tiga" 
<[email protected]>, [email protected], "ppiindia" 
<[email protected]>, "nasional list" <[email protected]>, 
"Pers Indonesia" <[email protected]>, "sastra pembebasan" 
<[email protected]>, "technomedia" 
<[email protected]>, "jurnalisme" <[email protected]>, 
"netsains sains" <[email protected]>, "HMI Kahmi Pro Network" 
<[email protected]>, "ex menwa UI 2" 
<[email protected]>, "Forum Kompas" 
<[email protected]>
Date: Tuesday, 11 May, 2010, 6:43 PM







 



  


    
      
      
      Upaya PT Dirgantara Indonesia 

Bertahan di Industri Pesawat Terbang



Bangkit Lewat Ketiak Sayap 

Airbus



Dalam beberapa kesempatan, Prof Dr Ing 

Bacharuddin Jusuf Habibie mengaku sangat kecewa melihat nasib PT Dirgantara 

Indonesia. Sebab, industri pesawat terbang yang dirintisnya itu kini jalan di 

tempat. Bagaimana kondisinya sekarang?

---

" KITA 

pernah mengembangkan sendiri pesawat terbang CN-235 dan N-250 untuk membuktikan 

bahwa SDM Indonesia mampu menguasai dan mengembangkan teknologi secanggih apa 

pun. Di mana itu semua sekarang?" tegas B.J. Habibie, mantan presiden RI, di 

depan peserta kuliah umum bertema Filsafat dan Teknologi untuk Pembangunan di 

Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat lalu 

(12/3).



Ya, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) 

memang tidak bisa dibandingkan dengan ketika perusahaan itu masih bernama 

Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) dan Habibie masih menjabat presiden 

direktur. Saat itu IPTN memiliki 16 ribu karyawan. Kompleks gedung IPTN di 

kawasan Jalan Pajajaran, Bandung, berdiri megah, menempati lahan seluas 83 

hektare.



Yang paling laris adalah pesawat 

CN-235. Pesawat berkapasitas 35 sampai 40 orang itu paling banyak diorder dari 

dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, ada pesawat C-212 (kapasitas 19-24 

orang). Produk chopper alias helikopter juga tak mau kalah. Ada NBO-105, 
NAS-332 

Super Puma, NBell-412, dan sebagainya. Semua produk burung besi tersebut begitu 

membanggakan bangsa saat itu.



Namun, persoalan muncul saat krisis 

ekonomi menggebuk Indonesia pada 1998. Ketika itu, PT DI yang bernama Industri 

Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) mendapat order membuat pesawat N-250 dari luar 

negeri. Pesawat terbang ini berkapasitas 50 hingga 64 orang. Sebuah kapasitas 

ideal untuk penerbangan komersial domestik. Umumnya pesawat domestik di tanah 

air saat ini menggunakan pesawat dari kelas yang tak jauh berbeda dari 

N-250.



PT DI menerima pesanan 120 pesawat. 

Ongkos proyek yang disepakati USD 1,2 milliar. PT DI langsung tancap gas. 
Ribuan 

karyawan direkrut. Mesin-mesin pembuat komponen didatangkan. ''Kami berupaya 

keras menyelesaikan proyek itu sesuai target,'' tutur Direktur Integrasi 
Pesawat 

PT DI Budiwuraskito saat ditemui Jawa Pos di Bandung pekan 

lalu.



Namun, PT DI harus menelan pil pahit. 

Pemulihan krisis ekonomi bersama International Monetary Fund alias IMF 

mengharuskan Indonesia menerima sejumlah kesepakatan. Salah satunya, Indonesia 

tak boleh lagi berdagang pesawat. ''Itu benar-benar memukul kami,'' kata 

Budiwuraskito, pria Semarang ini.



Padahal, kata Budi, PT DI telanjur 

merekrut banyak karyawan. Sejumlah teknologi dan peralatan sudah didatangkan. 

Semua siap produksi. Pesawat contoh bahkan sudah jadi, sudah bisa terbang, dan 

siap dijual. Tinggal menunggu proses sertifikasi penerbangan. ''Nggak tahu, 

mungkin ada negara yang takut tersaingi kalau Indonesia bikin pesawat,'' 
ujarnya 

mengingat sejarah kelam PT DI itu.



Bayangan menerima duit gede USD 1,2 

milliar menguap. Malah, PT DI harus memikirkan cara menghidupi karyawan yang 

telanjur direkrut. Proyek memang batal, tapi orang-orang yang hidup dari PT DI 

juga tetap harus dikasih makan. ''Akhirnya, mau tidak mau, kami mem-PHK 
karyawan 

secara baik-baik,'' katanya.



Pada 2003, PT DI memutus kerja 

sembilan ribu lebih karyawan. Jumlah itu terus bertambah. Dari 16 ribu pekerja, 

PT DI hanya menyisakan tiga ribu pekerja. Baik di bagian produksi maupun 

manajemen. Kondisi itu semakin membuat PT DI terpuruk. Apalagi, tak ada lagi 

order pesawat yang datang. Roda perusahaan pun tak berjalan.



Namun, PT DI berupaya mempertahankan 

diri. Semua pasar yang bisa menghasilkan duit disasar. Mulai pembuatan komponen 

pesawat hingga industri rumah tangga seperti pembuatan sendok, garpu, dan 

sejenisnya. Salah satunya membuat alat pencetak panci.



''Pabrik-pabrik pembuat panci itu kan perlu alat 

pencetak. Biasanya mereka impor dari luar negeri. Mengapa harus impor kalau 
bisa 

kita bikinin. Dan, itu lumayan untuk membuat roda perusahaan berjalan,'' kata 

Budi. Tapi, urusan panci itu tak banyak membantu. Pada 2007, BUMN yang 
didirikan 

pada 26 April 1976 itu dinyatakan pailit alias bangkrut.

*** 

PT DI 

tak lantas almarhum. Pemerintah masih punya keinginan mengembangkannya meski 

modal yang diberikan tak terlalu deras. Dan, kendati sudah dinyatakan pailit, 

masih ada rekanan dari mancanegara yang percaya akan kualitas produk PT 

DI.



Salah satunya British Aerospace (BAE). 

PT DI mendapat order sebagai subkontrak sayap pesawat Airbus A380 dari pabrik 

burung besi asal Inggris itu. Juga ada order dari dua negara Timur Tengah enam 

pesawat jenis N-2130. Apalagi, Indonesia sudah menceraikan IMF. Artinya, PT DI 

sudah leluasa berdagang pesawat.



Budi menuturkan, order enam pesawat 

itulah yang bisa dibilang ''menyelamatkan' ' PT DI saat itu. Laba dari pesanan 

itu digunakan sebagai modal pengembangan. Selain itu, PT DI semakin fokus 

menggarap pasar komponen dan bagian-bagian pesawat dengan menjadi subkontrak 

atau offset program. Antara lain bagian inboard outer fixed leading edge 
(IOFLE) 

dan drive rib alias ''ketiak'' sayap milik Airbus A380.



Airbus A380 adalah pesawat bikinan 

Airbus SAS (Prancis) yang sudah kondang di jagat dirgantara. Pesawat ini 

biasanya digunakan untuk penerbangan internasional lintas benua dengan muatan 

500 hingga 800 penumpang. ''Kita mencoba meraih untung dengan menjadi 
subkontrak 

dari pemain besar,'' kata Budi.



Kondisi PT DI terus membaik. Dalam 

waktu dekat mereka akan memproduksi pesawat tempur dengan dana urunan bersama 

pemerintah Korea Selatan (Korsel) sebesar USD 8 milliar. Indonesia menyumbang 

USD 2 milliar, sedangkan pemerintah Korsel USD 6 milliar. ''Tapi, untuk 

Indonesia itu akan kita konversikan dalam bentuk tenaga, teknologi, dan 

pengembangan pesawat tersebut,'' katanya.



Kemampuannya tak jauh berbeda dengan 

F-16 Fightning Falcon, pesawat tempur kondang buatan Amerika Serikat yang 

digunakan 24 negara di dunia. Rinciannya, 200 unit untuk Korsel dan 50 untuk 

Indonesia. ''Proyek ini memakan waktu sampai tujuh tahun,'' kata 

Budi.



Selain itu, order dari Timur Tengah 

terus berdatangan. Sejumlah negara memesan CN-235 untuk pesawat pengawas 
pantai, 

pengangkut personel militer, dan pemantau perbatasan. Dari dalam negeri, 

Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga memesan enam unit helikopter dan Badan SAR 

Nasional (Basarnas) empat unit.



Budi mengakui, tren industri 

dirgantara di Indonesia terus naik kendati perlahan. Paling tidak, tujuh tahun 

ke depan, PT DI bisa meraup laba yang lumayan dari membuat pesawat. Sebenarnya, 

kata Budi, keuntungan itu bisa didongkrak bila ada keberanian mencari pinjaman. 

Tapi, itu bakal sulit. ''Tidak banyak bank yang mau. Sebab, risikonya terlalu 

tinggi. Padahal, semakin tinggi risiko, janji revenue juga besar,'' kata Budi 

yang lulusan Teknik Penerbangan, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan 

menyelesaikan gelar MBA di Belanda itu.



Strategi pengembangan PT DI saat ini, kata Budi, tak 

bisa terlalu ekspansif. PT DI memilih berjalan perlahan dengan memanfaatkan 

margin keuntungan sebagai modal pengembangan. ''Begini saja, lebih aman,'' kata 

Budi lantas tersenyum. (aga/c2/iro)



(JawaPos)



http://defense- studies.blogspot .com/2010/ 03/pt-di- akan-membuat- 50-pesawat- 
tempur.html



Satrio Arismunandar 

Executive ProducerNews Division, Trans TV, Lantai 3

Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 

Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 3542,  Fax: 79184558, 
79184627 http://satrioarismu nandar6.blogspot .comhttp: //satrioarismuna 
ndar.multiply. com   Verba volant scripta manent...(yang terucap akan lenyap, 
yang tertulis akan abadi...)

.



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke