http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010051210051616
Rabu, 12 Mei 2010
BURAS
Keseimbangan Hak-Hak Rakyat dan Penguasa!
"KESEIMBANGAN menurut Michael Polanyi, epistemolog, ada dua jenis--kiat
naik sepeda (tak terukur), dan secara fisika (terukur) seperti bobot pengukur
dan beban di dua penampang dacin!" ujar Umar. "Untuk mencapai kinerja terukur
ala fisika itu lahir balanced scorecard, manajemen berbasis auditor yang
menetapkan keseimbangan antara bobot setiap satuan kerja dan target (beban)
yang harus dicapai! (Praktek model ini di PT BA Tarahan jadi tesis ujian
terbuka program magister Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai bulan lalu). Pada
manajemen pemerintahan, balanced scorecard diterapkan lewat penetapan bobot
setiap satuan kerja dengan pemenuhan hak-hak rakyat sebagai target kinerja yang
harus dicapai!"
"Dengan balanced scorecard praktek anggaran pemerintah bisa lebih adil
karena pembobotan dilakukan dengan skala pelayanan satuan kerja!" sambut Amir.
"Seperti anggaran pendidikan dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, PT, dan luar sekolah,
jumlah yang dilayani lebih 30 persen dari populasi, relatif seimbang dengan
bobot 20 persen anggaran! Tapi sektor pertanian pangan yang melayani 40 persen
warga cuma dengan bobot anggaran dua persen, jelas tak seimbang! Akibatnya,
pertanian sebagai sektor produktif malah jadi sarang kemiskinan!"
"Pada anggaran lebih mudah dilihat antara anggaran rutin--untuk jajaran
pemerintah--dan anggaran pembangunan sebagai porsi rakyat!" timpal Umar.
"Secara umum APBN dan APBD dewasa ini memberi 70 persen (bahkan lebih) untuk
rutin, sedangkan porsi rakyat di bawah 30 persen! Dengan visi balanced
scorecard tampak pemerintah telah memboboti dirinya jauh lebih besar dari
target kinerja yang ditetapkannya sendiri!"
"Di era Orde Baru dua sisi dacin selalu seimbang, 50-50, meski cuma
balanced semu! Semu, karena anggaran pembangunan (hak-hak rakyat) agar seimbang
dengan bobot anggaran rutin ditutupi dengan pinjaman luar negeri!" tegas Amir.
"Tapi terlihat, pemerintah Orde Baru memberi bobot dirinya relatif seimbang
dengan target kinerjanya! Kini, sudah pun anggaran defisit, dacinnya jomplang
ke bobot kepentingan kekuasaan!"
"Dalam balanced scorecard, hal sedemikian tegas disebut bad
governance--tata kelola yang buruk!" timpal Umar. "Sedang dalam terminologi
politik, pemerintah yang memboboti dirinya lebih besar dari kinerja yang dia
tetapkan sendiri--meski hanya lebih berat sebiji sawi--sudah bisa disebut
penguasa! Penguasa selalu berkonotasi tak adil karena lebih mengutamakan
kepentingan dirinya ketimbang kepentingan rakyat!" ***
H. Bambang Eka Wijaya
[Non-text portions of this message have been removed]