Posted by: "Harnaz Harnaz"
[email protected]
harnaz_aja
Thu May 20, 2010 8:32 pm (PDT)
(DIKUTIP DARI MILIS JURNALISME)
Memetakan Pendukung Anas dan Andi
Beberapa fakta:
Ulil, Hamid Basyaib, Lutfi Assyakani, Saiful Mujani dibesarkan Rizal
Mallarengeng. Keempatnya bekerja di Freedom Institute. Kini mereka
membela Andi, kakak Rizal yang maju di Kongres Demokrat.
Iklan Andi, banyak sekali. Triliunan sudah dikeluarkan. Ada Ical di
balik kampanye Andi. Ical perlu mendukung Andi untuk mendapatkan tiket
di 2014.
Anas yang kelihatan kere juga banyak iklan. Dari mana mantan ketua KPU
ini dapat duit? Beberapa pengusaha berada di belakangnya. Anas
berkepentingan untuk menghilangkan pengaruh SBY di Demokrat. Bila Anas
menang, bisnis Andi melalui FOX akan terancam. Maka, banyaklah kalangan
pengamat yang mendukungnya. Mereka berharap akan dapat proyek segar dari Anas.
Para pengamat yang anti-SBY juga dukung Anas. Anas ini sangat cerdik
dan lihai. Gayanya santun, tapi ia punya ambisi di 2014. SBY sudah
membaca
gelagat ini, ia tidak dukung Anas.
Anas juga sudah komunikasi dengan Akbar. Jaringan HMI masih berjalan.
Anas maju sebagai Wapres dan Akbar sebagai capres di 2004. Anas juga
kongkalingkong dengan Ical, sebagian dana kampanye Anas juga dari Ical.
Ical tak penting mendukung siapa, yang penting dia bisa maju di 2014.
____________ _________ _________ __
Dari: ade_suerani <ade.suerani@ gmail.com>
Kepada: jurnali...@yahoogro ups.com
Terkirim: Kam, 20 Mei, 2010 08:41:22
Judul: [jurnalisme] Re: Gerakan Kembali ke Demokrasi Terpimpin!
Gelagat amandemen kelima UUD 1945 untuk revisi masa jabatan Presiden selama 2
periode juga mulai diwacanakan. hmmm!
--- In jurnali...@yahoogro ups.com, Satrio Arismunandar <satrioarismunandar
@...> wrote:
>
>
> http://www.lampungp ost.com/buras. php?id=201005161 0070715
>
> Minggu, 16 Mei 2010
>
> BURAS
>
>
>
>
> Gerakan Kembali ke Demokrasi Terpimpin!
>
> "GERAKAN bergelagat mengembalikan Indonesia ke sistem demokrasi
terpimpin mulai terbayang!" ujar Umar. "Bayangan itu terlihat seiring,
di satu sisi lewat pembentukan sekretariat gabungan (setgab)
partai-partai koalisi berkuasa yang mendominasi DPR secara
absolut--lebih 75 persen, melangkah awal dengan merevisi UU Pemilu!
Pada sisi lain, Badan Legislasi (Baleg) di DPR yang didominasi koalisi
tersebut, telah lebih dahulu membahas revisi UU No. 2/2008 tentang
Partai Politik untuk membatasi kesertaan partai baru!"
[Non-text portions of this message have been removed]
From: yusuf yazid <[email protected]>
Subject: [kahmi_pro_network] Munas PD II
To: [email protected]
Date: Friday, May 21, 2010, 11:50 AM
2010-05-20 12:05:38Andi Mallarangeng Untuk Menjawab Kebutuhan Partai
Politikindonesia - Mencermati
langkah Marzuki Alie, Andi Alifian Mallarangeng, dan Anas Urbaningrum,
untuk berkompetisi menduduki kursi Ketua Umum Partai Demokrat periode
2010 - 2015, tentunya peserta kongres akan sedikit menemui hambatan
dalam memilih.
Ketiganya merupakan kader terbaik partai yang patut menggantikan Hadi
Utomo. Namun, pasca kongres, siapapun yang dipilih peserta nantinya,
tiga sosok pentolan Demokrat ini berikut simpatisannya, tentu tak boleh
tercerai berai.
Meski perhelatan politik partai pemenang Pemilu 2009, itu baru akan
digelar 21-23 Mei 2010 di Bandung, dari tiga calon yang terungkap
kepublik, hanya ada dua kandidat yang kuat: Anas Urbaningrum dan Andi
Alifian Mallarangeng.
Andi dan Anas, sebenarnya tak terlalu jauh berbeda. Pentas karir
keorganisasian keduanya, juga sama. Keduanya sama-sama menjadi alumni
Himpunan Mahasiswa Islam. Kiprah keduanya secara tajam di pentas politik
nasional pun hampir selalu beriringan.
Andi dan Anas merupakan, dua tokoh muda, diantara Tim 7 yang dipimpin
Ryaas Rasyid ketika menggagas konsep reformasi politik di Indonesia,
yakni Tiga Paket Undang-Undang Politik (Pemilu, Parpol, dan Susduk
MPR/DPR) dan Undang-Undang Pemerintahan Daerah (kita kenal dengan
Otonomi Daerah).
Setelah itu, perjalanan karir keduanya, sama-sama pernah berlabuh di
Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kebetulan, Andi lebih dulu menjadi anggota
KPU, baru kemudian Anas menyusul.
Dipartai politik, Andi terjun terlebih dulu, ketimbang Anas. Andi
termasuk salah satu pendiri Partai Demokrasi dan Kebangsaan bersama
Ryaas Rasyid. Tak lama berselang, Anas Urbaningrum pun berlabuh di
Partai Demokrat. Sementara Andi, baru menjelang Pilpres menjadi
fungsionaris Partai Demokrat. Posisi keduanya, sama-sama menjadi Ketua.
Memang, perkenalan Andi dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bila
dibandingkan dengan Anas, lebih dulu Andi mengenal secara dekat sosok
SBY.
Jika Andi dan Anas ingin dibuatkan perbedaan yang tajam, tampaknya agak
sulit. Namun dalam ranah politik, keduanya bisa dibedakan. Andi memiliki
kecepatan mengambil sikap dan bertindak, ketimbang Anas. Bahkan Andi
berani mendudukkan dirinya secara hitam-putih, dalam penyikapan
politik. Andi hampir tak pernah bermain dalam wilayah abu-abu.
Hanya saja, Andi tidak pernah menjadi anggota DPR. Pada periode ini
(2009-2014), Anas baru duduk sebagai anggota parlemen, sekaligus sebagai
Ketua Fraksi Demokrat.
Persoalannya kemudian, bagi peserta kongres, bukan terletak pada suka
atau tidak suka kepada Andi dan Anas. Dekat atau tidak dekat dengan
keduanya. Tetapi tipologi kepemimpinan seperti apa
dibutuhkan oleh Partai Demokrat kedepan?
Kita menyadari, situasi dan dinamika politik kedepan, tidak sebatas pada
kajian-kajian atas konsep belaka. Atau lobi-lobi politik yang tak jelas
hasilnya. Kecepatan dalam bertindak sangat dibutuhkan. Naluri politik
sungguh diperlukan. Ketepatan dalam mensosialisasikan gagasan agar
secara cepat sampai kepada rakyat, menjadi salah satu kunci keberhasilan
Partai Demokrat dimasa mendatang.
Dalam bahasa politik, tentu peserta kongres tak menginginkan, begitu
banyak “senjata” yang dimiliki untuk memenangkan sebuah “pertempuran”,
tapi kalah dengan lawan yang memiliki sedikit “senjata”. Hanya karena
tak cerdas melihat moment untuk meletuskan senjata. Ironis
bukan ?
Kedepan, medan pertempuran kian beragam dan makin kompetitif.
Fungsionaris Partai Demokrat tentunya tak menginginkan sebuah
keironisan. Bila ini yang terjadi, maka vonis selamat tinggal akan
dijatuhkan rakyat. Dan itu, setiap sangat akan selalu diciptakan oleh
pesaing politik.
Menapaki pemikiran diatas, bila tak ada kandidat lain diluar ketiga
kandidat yang ada, maka sejumlah syarat penting untuk memimpin Partai
Demokrat kedepan, telah dimiliki Doctor of Philisophy ilmu politik dari
Northern Illinois University (NIU) Dekalb, Illinois, Amerika Serikat
itu: Andi Alifian Mallarangeng.
Sebelum era pemerintahan SBY, Andi sudah berkarir dibidang pemerintahan.
Pada 1999-2000, Andi menjadi Deputi Menteri di Kementerian Otonomi
Daerah.
Sebagai profesional, langkah Andi pernah menduduki jabatan sebagai Chair
of Policy Committee pada Partnership for Govermance Reform in
Indonesia (2000-2002).
Di lingkup sosial kemasyarakatan, Andi juga dikenal cukup memiliki
jaringan luas. Pergaulannya hampir mencakup seluruh golongan, yang
secara langsung atau tidak menunjukkan besarnya kepekaannya pada bidang
sosial, dan kemasyarakatan. Itu juga menunjukkan kalau dia bisa masuk
dalam lingkup, dan strata sosial yang ada.
Di bidang akademik, Doktor Ilmu Politik dari AS ini mengabdi sebagai
pengajar di Fisipol Universitas Hasanuddin dan di Institut Ilmu
Pemerintahan, Jakarta.
Pada era Pemerintahan SBY- JK, Andi menempati posisi yang cukup
strategis, juru bicara Presiden. Dan kini, di pemerintahan SBY-Boediono,
dipercaya menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga.
Dengan kedekatan seperti itu, Andi pasti sudah banyak belajar gaya
politik SBY, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Secara minimalis,
Andi tentu bisa memetakan alur, dan jalan pikiran SBY untuk membesarkan
Partai Demokrat.
Memang, Partai Demokrat di masa mendatang memerlukan pemimpin yang
dengan cepat bisa mencium konstalasi politik, dan mampu secara cepat
pula bertindak, mengantisipasi situasi dan kondisi politik yang ada.
Ke depan, Partai Demokrat juga membutuhkan pemimpin dengan pola
mobilitas yang tinggi serta memiliki fighting spirit yang tak
kalah tingginya. Dengan begitu, sosok ketua umum seperti itu, tidak akan
tertinggal dalam mengantisipasi perubahan politik kekinian, dan
kecenderungan politik masa mendatang.
Tanpa bermaksud menisbikan kemampuan Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng
memang memiliki banyak kelebihan disaat ini, untuk menjadi Ketua Umum
Partai Demokrat, menggantikan Hadi Utomo.
Jeli Melihat
Jika peserta kongres, mencermati secara intens dan jeli tentang dinamika
pra kongres Partai Demokrat --- meski bergerak terus untuk menjadi
partai modern, Demokrat belum bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayang
sang pendiri, yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, SBY.
Tentu saja terlalu naif kalau berharap SBY mengumumkan secara resmi
dukungannya kepada salah satu kandidat, yang cocok untuk menjadi Ketua
Umum. Apalagi iklim demokrasi memang dikembangkan dalam tubuh Partai
Demokrat. Jelas tak mungkin melihat SBY, ujug-ujug memberikan
restunya kepada salah satu kandidat secara terbuka.
Bisa jadi SBY menjalin komunikasi politik dengan orang per orang, atau
setiap calon, secara diam-diam, atau terang-terangan. Ini sekaligus
bukti sahih kalau sang ketua dewan Pembina, berdiri di atas semua calon.
Sikap seperti itu jelas menunjukkan kenetralan, dan sikap percaya pada
mekanisme partai yang muncul dalam kompetisi saat kongres berlangsung.
Sebagai pemimpin, dengan intuisi politik, yang telah terasah dengan
berbagai pengalaman, sudah pasti pensiunan jenderal berbintang empat itu
memiliki kalkulasi tersendiri. Dengan latar belakang militer, birokrat,
pendiri partai, ditambah posisi sebagai Presiden RI untuk periode
kedua, SBY pastilah sudah menetapkan langkah ke depan untuk kejayaan
Partai Demokrat, untuk kejayaan bangsa, dan negara.
Membaca Keinginan
Lalu, bagaimana peserta kongres membaca keinginan SBY dengan segala
kalkulasi politik itu?
Dalam situasi, dan kondisi seperti ini, lihat saja pergerakan keluarga,
dan sepak terjang orang-orang kepercayaannya.
Jadi, kalau anggota Fraksi Partai Demokrat DPR, Edhi Baskoro Yudhoyono,
sampai berjibaku berkampanye untuk Andi Mallarangeng menuju kursi Ketua
Umum Partai Demokrat. Percayalah itu bukan semata hanya keinginan, dan
pilihan politik personal Edhi.
Ada banyak penjelasan untuk menunjukkan kebenaran kesimpulan tersebut.
Di antaranya, Edhi Baskoro selama ini dikenal sebagai “anak manis” dalam
keluarga. Putra bungsu Yudhoyono dan Ani Yudhoyono itu, diyakini
sebagai anak penurut. Itu modal sosial politik yang tak dimiliki semua
orang.
Jadi, dengan segala kecerdasan dan sikap politik personal Ibaz,
panggilan akrab Edhie Baskoro, tentu kesadaran politiknya untuk memilih
Andi Mallarangeng, bukan soal sederhana. Secara politik, sukar
dipercaya, Ibaz berani bertindak jauh, untuk sebuah keputusan yang sangat
besar: Arah Partai Demokrat ke depan, dan Andi Mallarangeng
sebagai Ketua Umumnya.
Meski tidak terang-terangan menyebutkan dukungan SBY, yang mendasari
pilihannya, Edhi pernah mengungkapkan, kalau ia kerap berdiskusi dengan
ayahnya tentang Andi, dengan segala kelebihan, dan kekurangannya. Ayah,
dan anak itu membicarakan sosok yang pantas untuk memimpin Partai
Demokrat dimasa depan.
Naluri politik kita, tentu saja melalui langkah Ibaz – SBY telah
memberikan kepercayaan untuk masa depan partai yang susah payah
dibesarkannya kepada orang tepat. Dan itu terefleksi dari pilihan
politik Ibaz secara personal.
Selain Ibaz, tentu kita harus mencermati juga langkah para menteri asal
Partai Demokrat yang juga mendukung Andi Mallarangeng. Dan yang
terakhir, salah satu kandidat lainnya, Marzuki Alie sudah tidak terlalu
bersemangat untuk tancap gas menuju PD-1.
Dengan semikian, bagi peserta kongres dan juga kandidat lainnya. Apalagi
sebagai politisi, layaklah kiranya memberikan ucapan selamat bekerja,
selamat mengembangkan amanah untuk membawa kejayaan partai, kejayaan
bangsa dan negara, terhadap Andi “ Anto” Mallarangeng yang selalu khusuk
jika makan shahur di Kafe Tenda Semanggi, sebelas tahun yang
lalu.
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]