http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=55701:duh-enaknya-korupsi&catid=78:umum&Itemid=131
Duh, Enaknya Korupsi!
Oleh : Drs Safwan Khayat MHum
Seorang bocah berusia 9 tahun sedang asyik menonton televisi bersama
bapaknya.
Di balik layar kaca itu ditampilkan sebuah tayangan seorang koruptor
Gayus Tambunan dengan dugaan korupsi puluhan miliyar. Dengan dialektika
sederhana, bocah itu bertanya kepada bapaknya.
Pak! korupsi itu mak sudnya apa? Oh itu, mengambil sesuatu yang bukan
haknya, jawab bapak si bocah. Sesuatu apa? tanya bocah lagi. Ya sejumlah uang
milik negara ini, sambut bapak. Kog bisa pak? cecar bocah itu. Ya bisa,
buktinya banyak orang beramai-ramai melakukan korupsi, ketus bapak.
Emangnya banyak uang yang dikorupsi itu? celoteh bocah itu lagi.
Tergantung! ketus bapak lagi. Tergantung apa pak? Ingin tahu bocah itu.
Tergantung banyaknya uang yang mau di korupsi, ujar bapak. Kalau begitu, bisa
sebanyak-banyaknya ya pak? tekan bocah. Si bapak menjawab dengan senyuman saja.
Bisa kaya dong pak? tekan bocah itu lagi. Tentu? jawab bapak enteng.
Pak? sapa si bocah. Ya, mau tanya apalagi? sambut bapak. Bapak kog tidak
korupsi, biar kita kaya? tanya bocah dengan lugu.
Ah, kamu ini ada-ada saja! bentak si bapak. Lho, kenapa pak? Hidup kita
susah, aku pingin jadi orang kaya pak? celoteh si bocah itu lagi.
Ya, semua orang pingin kaya, tapi bukan begitu caranya, sambut bapak.
Tapi korupsi itu bisa kaya, bapak korupsi aja? harap si bocah.
Eh dengar ya, bapak mu ini cuma pegawai rendahan, mana bisa bapak
korupsi, terang si bapak. Oh begitu, jadi yang bisa korupsi cuma pejabat tinggi
saja? desak bocah itu lagi. Biasanya begitu! ketus si bapak.
Gayus Tambunan itu pejabat tinggi ya pak? tanya bocah dengan rasa ingin
tahu. Si Gayus itu pegawai kantor pajak di Jakarta , terang si bapak. Pasti si
Gayus Tambunan itu pejabat tinggi ya pak? oceh bocah itu lagi.
Oh tidak, dia cuma pegawai rendahan, sama seperti bapak mu, ucap si
bapak.
Lho, koq bisa korupsi, bapak bilang yang bisa korupsi pejabat tinggi?
oceh bocah itu lagi. Ya siapa saja bisa korupsi, biar pegawai rendahan maupun
pejabat tinggi, tergantung orangnya? jelas si bapak.
Kalau gitu, bapak bisa korupsi juga dong? tekan si bocah. Kamu ini, tanya
atau nuduh? tekan si bapak sedikit wajah memerah. Jangan marah lho pak, aku
cuma tanya? jawab bocah sedikit ketakutan. Ya, tapi cara mu bertanya seperti
tim penyidik KPK atau Mabes Polri saja. Apa bapak mu ini koruptor? jelas si
bapak.
Si bocah itu tak berani lagi bertanya dengan bapaknya, sebab wajah si
bapak sudah mulai memerah. Tanyangan televisi itu tak lagi menampilkan gambar
si Gayus Tambunan. Bapak si bocah itu pun mengganti channel pada stasiun
televisi yang lain.
Remote televisi terus berganti mencari channel siaran yang enak di
tonton. Ada siaran sinetron, film kartun, tayangan musik dan lainnya. Bocah itu
hanya pasrah menanti siaran apa yang diinginkan bapaknya.
Di depan layar kaca mereka cuma terdiam sambil mencari-cari siaran yang
segar dan hangat dilihat. Ketika remote televisi ditekan pada nomor tertentu,
muncul tayangan televisi hot news (berita hangat) menampilkan gambar sosok
pejabat yang hartanya melimpah hasil kejahatan korupsi.
Dalam tayangan itu, ditampilkan gambar tentang rumah mewahnya, usahanya,
kabun sawitnya, tanahnya yang luas, mobilnya dan data keuangan hasil
korupsinya. Konon ceritanya, dengan jabatannya itu hartanya menumpuk, baik yang
ada di luar negeri maupun dalam negeri. Sungguh kaya sekali seseorang itu
diberitakan di balik layar kaca tersebut.
Karena rasa ingin tahu, si bocah celoteh lagi dengan bapaknya. Pak, om
itu pejabat tinggi? tanya bocah sambil mengangkat jari telunjukknya menuju
sebuah gambar di televisi. Ya, kenapa lagi? sambut bapaknya dengan dingin. Kaya
sekali dia ya pak? tanya bocah sambil menyandarkan kepala di bahu kiri
bapaknya.
Begitulah, hasil korupsi yang selalu memperkaya diri, merampas harta
negara dan rakyat. Tak tahu diri, tak tahu malu, bercerita sok suci dan bersih,
padahal busuk, terang bapak dengan panjang lebar. Om itu siapa pak? tanya bocah
dengan lembut. Entah lah, bapak kesal melihat semua ini. banyak orang sekarang
berlomba-lomba menumpuk harta dengan cara-cara seperti itu, kesal si bapak.
Sekarang ini, sulit membedakan, siapa yang bersih, siapa pula yang kotor.
Ada orang maling teriak maling. Ada orang berperan wajar, dan tak sedikit
berperan berpura-pura. Hidup penuh dengan sandiwara. Diteriaki maling, yang
bersangkutan marah.
Padahal dia sendiri tahu kalau dia koruptor. Janji membangun negeri, eh
nyatanya membangun diri sendiri. Begitu mau diperiksa, yang disalahkan orang
lain. Begitulah si bapak menjelaskan dengan panjang lebar pada anaknya.
Maksudnya pak? tanya si bocah. Ya diperiksa laa!! tegas si bapak. Maksud
bapak, diperiksa sama dokter? ucap si bocah. Bukan, diperiksa sama tim penyidik
KPK atau kepolisian tentang pertanggungjawaban uang korupsi itu, imbuh si
bapak.
Jadi yang disalahkan siapa pak? oceh bocah itu lagi. Ya pegawai
dibawahnya, seperti bapak mu ini! ujar bapak.
Wah, kalau begitu enak dong jadi seorang koruptor, sambut si bocah.
Ya begitulah, kadang enak, kadang tidak enak, jawab si bapak. Mana yang
lebih banyak pak? tanya bocah. Banyak enaknya laa!!! Sambut si bapak sambil
tertawa.
Sudah 2 jam bapak dan bocah itu duduk di depan layar kaca. Televisi itu
pun dimatikan karena hari sudah larut malam. Si bapak memerintahkan bocah itu
tidur. Bocah itu pun bergegas menuju tempat tidurnya. Tak lama, bocah itu pun
beranjak dari tempat tidurnya dan mengetuk pintu kamar bapaknya.
Bapak kaget luar biasa, sebab jam sudah menujukkan pukul 02.13 WIB. Ada
apa nak? tanya bapak dengan cemas.
Aku tak bisa tidur pak? jawab si bocah. Apa yang kamu pikirkan? tanya si
bapak.
Aku berpikir, jika aku besar, aku mau jadi seorang koruptor, biar bisa
kaya, masuk televisi dan terkenal, ucap si bocah tanpa merasa malu.
Huss, kamu ini ngomong apa? Ngelantur kamu ini? tegur si bapak. Bukan
pak, enak sekali koruptor itu, bisa tidur nyenyak dengan bergelimang harta,
ketus si bocah.
Bapak memerintahkan kembali anaknya tidur dan si bocah kembali ke kamar
tidurnya. Di atas ranjang si bocah bergumam ; "oh para koruptor, enaknya diri
mu". Aku susah kau senang, aku lapar kau kenyang. Aku bercita-cita menjadi
seorang koruptor sejati". Duh, enaknya korupsi!!
Begitulah cerita kehidupan bangsa ini selama bertahun telah mewarisi
mentalitas anak cucu kita menjadi seorang korupsi. Tanpa kita sadari, apa yang
terjadi telah mengajarkan kepada watak anak bangsa menjadi seorang koruptor,
layaknya koruptor sejati.
Berubahkah kita, jawabnya ada pada diri masing-masing. Sadarlah, bahwa
prilaku korupsi adalah prilaku yang telah terwarisi kepada anak cucu kita,
sadar atau tidak. Duh, enaknya korupsi!***
Penulis, Alumnus SMA Negeri 1 Medan, Alumnus dan dosen UMA, Alumnus
Pascasarjana USU, Ketua PD MABMI Medan, Wakapolresta Tebing Tinggi.
[Non-text portions of this message have been removed]