Refleksi : Pak Harto yang Pancasilais  didukung apalagi SBY. Tapi, bagaimana 
dengan sang pencipta Pancasila, koq tidak direhabilitasi?  Pencipta tidak 
direhabilitasi tetapi ilmunya dipuja-puja. Apakah ini bukan aneh bin ajaib di 
dunia Abunawas?

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=18370

 2010-06-01

SBY: Hentikan Perdebatan Pancasila

 


ANTARA/Widodo S Jusuf
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) berjabat tangan dengan mantan 
presiden Megawati Soekarnoputri disaksikan mantan Wakil Presiden Try Sutrisno 
(kiri) dan Ketua DPD Irman Gusman (kedua dari kanan) pada Peringatan Pidato 
Bung Karno 1 Juni 1945 di Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (1/6). 


[JAKARTA] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta semua kalangan untuk 
menghentikan perdebatan mengenai Pancasila sebagai dasar negara RI. Pancasila 
justru harus diperlakukan sebagai ideologi yang hidup untuk merespons berbagai 
tantangan baik di tingkat nasional maupun dunia, baik masa kini maupun masa 
depan. "Tidak sepatutnya kita memperdebatkan kembali Pancasila sebagai dasar 
negara. Ini penting. Karena MPR, melalui Ketetapan MPR Nomor 18 Tahun 1998, 
telah menetapkan Pancasila sebagai dasar negara. Mari kita paterikan dan kita 
hentikan perdebatan Pancasila sebagai dasar negara," ujar Presiden, saat 
berpidato dalam rangka Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 tentang 
Pancasila, di Gedung Nusantara IV, Kompleks MPR/DPR/DPD, Jakarta, Selasa (1/6).


Peringatan tersebut juga dihadiri Wapres Boediono, Ketua MPR Taufiq Kiemas, 
para pimpinan lembaga negara, menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, serta 
mantan presiden dan wapres, termasuk Megawati Soekarnoputri, yang untuk pertama 
kalinya hadir dalam acara resmi kenegaraan, sejak tidak menjabat sebagai 
presiden pada 2004.

Konsensus Dasar
Dalam pidatonya, Presiden mengingatkan, transformasi dan reformasi yang sedang 
berjalan saat ini, sejatinya adalah keberlanjutan dan perubahan. Hal-hal yang 
relevan, yang merupakan warisan dari para pendahulu pendiri Republik, harus 
menjadi bagian dari keberlanjutan. "Hal-hal baru bisa kita ambil, tanpa 
menggoyahkan dan menanggalkan konsensus dasar, di mana Pancasila merupakan 
salah satu dari empat pilar sejak Indonesia merdeka," tandasnya. Peringatan 
pidato Bung Karno 1 Juni 1945 tersebut, lanjut Presiden, dimaksudkan untuk 
lebih memahami pemikiran besar Bung Karno, dan agar bangsa Indonesia mengerti 
jejak sejarah Pancasila sebagai dasar negara. "Rangkaian dokumen sejarah mulai 
1 Juni 1945 hingga teks final di Pembukaan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945, 
adalah satu kesatuan dalam proses kelahiran falsafah Pancasila," terangnya. 


Pada kesempatan tersebut, Presiden menguraikan tujuh pemikiran penting Bung 
Karno yang disampaikan saat berpidato 65 tahun silam. Pertama, pidato 1 Juni 
1945 mengingatkan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan 
Indonesia), bahwa yang hendak disepakati adalah dasar Indonesia untuk merdeka.


Kedua, dasar negara yang ditawarkan Bung Karno adalah paham kebangsaan 
Indonesia atau nasionalisme, internasionalisme atau kemanusiaan, mufakat atau 
demokrasi, kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. "Lima butir itu 
yang dikedepankan. Bung Karno adalah penggali Pancasila, dan telah memikirkan 
dasar, asas, falsafah, dan ideologi Indonesia selama 27 tahun, sejak beliau 
berusia 17 tahun pada tahun 1918 hingga pidato 1 Juni 1945," ujarnya.


Ketiga, nasionalisme yang dimaksudkan Bung Karno bukanlah kebangsaan yang 
sempit. "Tetapi nasionalisme menuju persatuan dunia. Bung Karno mengatakan, 
nasionalisme bergandengan peran dengan internasionalisme atau kemanusiaan. 
Aplikasinya, kita tidak menjadikan nasionalisme yang sempit, memusuhi yang 
serba asing," kata Presiden.


Keempat, negara yang didirikan adalah negara kebangsaan. "Harus dicegah hal-hal 
yang menjauhkan kita dari kehendak bangsa untuk bersatu. Pemimpin dan tokoh 
masyarakat harus menjadi pelopor, jangan ikut-ikutan mengembangkan ikatan yang 
sempit," ujarnya mengingatkan.


Kelima, menolak kosmopolitisme atau paham yang tidak mengakui sebuah bangsa. 
Keenam, pandangan mengenai demokrasi. Ketujuh, konsep negara gotong royong atau 
kebersamaan.


Terkait dengan pergeseran geopolitik dan ideologi global, Presiden SBY 
mengungkapkan saat ini arsitektur perekonomian global tidak ada lagi yang 
menganut secara ekstrem paham sosialisme atau Marxisme atau komunisme di satu 
sisi, dan paham neoliberalisme atau kapitalisme di sisi lain. Semua paham itu, 
secara ekstrem telah gagal menghadirkan kesejahteraan global. 


"Kita harus memastikan bahwa bangun ekonomi Indonesia belajar dari kegagalan 
sistem-sistem tersebut. Mari kita pastikan bahwa bangun ekonomi kita adalah 
ekonomi terbuka dan berkeadilan sosial, yang juga dijiwai pemikiran para 
pendiri bangsa," ajaknya. Presiden juga meminta agar Pancasila tidak 
diberlakukan sebagai dogma yang kaku, apalagi dikeramatkan. "Itu justru 
menghalangi Pancasila untuk merespons tantangan jaman, baik pada tingkat 
nasional ataupun dunia. Nilai besar Pancasila manakala kita 
mengaktualisasikannya untuk menghadapi tantangan jaman baik sekarang maupun 
masa depan," ujarnya. 


Sementara itu, Taufiq Kiemas mengatakan, peristiwa 65 tahun lalu, ketika para 
pendiri bangsa membicarakan dasar negara Indonesia merdeka, merupakan sejarah 
penting. Saat itu, di hadapan sidang BPUPKI, Bung Karno berpidato menjelaskan 
butir demi butir usulan mengenai prinsip bernegara yang kemudian hari diberi 
nama Pancasila.


"Memaknai Pancasila, berarti kita menegaskan komitmen bahwa Pancasila bukan 
hanya konsep pemikiran Bung Karno semata, tetapi menjadi dasar ideologi dalam 
menjalankan kehidupan berbangsa di berbagai aspek," ujar Taufiq. Terkait 
peringatan tersebut, Sekjen DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) 
Tjahjo Kumolo mengatakan, masih terdapat pemahaman yang berbeda-beda terkait 
tafsir otentik lahirnya Pancasila yang sebenarnya. "Karena itu, pelurusan jejak 
sejarah lahirnya Pancasila sesuai dengan sejarah terbentuknya dasar negara 
merdeka, sangat penting," ujarnya. 


Secara terpisah, sejarawan Anhar Gonggong menilai, selama 65 tahun Indonesia 
mencapai kemerdekaan, Pancasila sebagai dasar negara belum digunakan secara 
baik. "Setiap program pemerintah yang dijalankan tidak dikendalikan atas dasar 
Pancasila. Masyarakat jauh dari kesejahteraan. Padahal Pancasila mengarahkan 
terciptanya kesejahteraan rakyat," ujarnya. Menurutnya, hari lahir Pancasila 1 
Juni, harus dijadikan momentum bersama, khususnya bagi pemerintah agar kembali 
menyelaraskan program kerakyatan berlandaskan Pancasila, yakni keadilan sosial. 
[J-9/J-11/R-15]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke